Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kota
08 September 2011 | BP
Ida Pedanda Gede Gunung:Lanjutkan dan APBD-kan
IDA Pedanda Made Gede Gunung tampak tersenyum sumringah di atas ribuan peserta maligia punggel saat memberikan dharma wacana di kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Shandi, Lapangan Puputan Margarana, Renon, Denpasar, Rabu (7/9) kemarin. Wajar saja, sang yajamana -- yang bertanggung jawab secara spiritual terhadap karya ini -- raut wajahnya ceria, pasalnya Ida Pedanda mengamati upacara yang pertama kalinya di Bali ini berjalan lancar, labda karya sidaning don.
Sebanyak 523 sekah sudah tinggal menuntaskan dua kali saja prosesi malia punggel, upacara tingkat utamaning utama. Prosesi atma widana atau maligia punggel ini sesungguhnya bertujuan sangat mulia. Upacara pitra yadnya ini sesuai Lontar Yama Tatwa mengantarkan arwah/roh sang pitara menuju alam Siwa Loka, setelah alam Brahma Loka dan Wisnu Loka lewat upacara ngaben.
Adanya perhatian dari Pemerintah Provinsi Bali yang diprakarsai Wakil Gubernur Drs. A.A. Puspoyoga, sangat tepat dan pas. Kalau dulu raja-raja yang menggelar upacara untuk rakyatnya, sekarang karena zaman berbeda, tatanan birokrasinya lain dengan yang dulu, sang Guru Wisesa alias pemerintahlah yang tepat untuk memberikan kontribusi real seperti ini, misalnya untuk upacara kawin massal, matatah massal, ngaben massal hingga maligia.
''Program ini benar-benar sangat membantu masyarakat yang kurang mampu. Program ini pas menyentuh kepentingan masyarakat kecil. Karena itu, upacara ini selayaknya digandakan secara rutin dan konsisten setiap tahun. Bahkan dananya dialokasikan melalui APBD provinsi dan kabupaten/kota,'' pinta Ida Pedanda.
Program upacara ini sejatinya sangat mulia, menyentuh kepentingan rakyat paling bawah. Karena itu, Ida Peranda meminta acara yang telah mendapat apresiasi terutama wong cilik ini, harus diagendakan secara berkesinambungan. ''Bahkan, pemerintah wajib mendukung dan menyiapkan dananya. Jangan sampai program ini stagnan, apalagi hangat-hangat tahi ayam,'' tegas Ida Pedanda.

Batara Lingga

Pada upacara maligia punggel ini, sang arwah yang diupacarai didoakan murwadaksina menuju alam Siwa Loka dengan kendaraan lembu menuju Gunung Kailasa. Menggunakan kerbau agar berdamai dengan ibu pertiwi, setelah lewat jasa ibu pertiwi manusia bisa hidup, melakukan swadharma-nya. Ke segara, kepada Sang Hyang Baruna, agar dosa-dosa masa lalu bisa diampuni.
Sang arwah yang paling utama akan dipersembahyangi ke kehadapan Batara Lingga. Lingga dalam konsep Hindu adalah aspek Ida Sang Hyang Widhi yang nyata sebagai Purusa/Pradana atau Shiwa/Sakti. Melalui upacara maligia ini arwah leluhur dimohonkan oleh sulinggih agar menyatu dengan Ida Batara Lingga. Paling tidak, lewat harapan para sentana-nya dan doa-doa sulinggih, arwah yang diupacarai mencapai alam Siwa.
''Saat ini Batara Lingga berada di depan, sedangkan saat ke segara Ida batara Lingga mengiringi dari belakang,'' ujar Ida Pedanda Gunung.
Karena berkaitan dengan Siwa, Tuhan sebagai pemilik roh, siapa pun yang terlibat ngayah pada upacara ini akan mendapat berkah. Analoginya, jika pemerintah juga memberi kontribusi, sudah pasti juga figur sang pemimpin tersebut secara langsung juga akan diberkati. Manawa atau nara seva sama dengan madhawa atau narayana seva. Artinya, pelayanan kepada umat manusia/roh secara tulus dan ikhlas identik dengan pelayanan kepada madhawa atau narayana atau Siwa, Tuhan sendiri. (ram)

[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak