Untitled Document
  • Margarana
  • Hari Pahlawan
» Berita Kota
01 April 2009 | BP
Terkait Dipolisikannya Pemilik BKR
Sepuluh 'Supplier' Bantah Dirugikan
Denpasar (Bali Post) -
Pemilik Bali Kuta Residence (BKR) March Vini Handoko Putra membantah telah merugikan rekanan terkait proyek pembangunan BKR. 'Saya tidak pernah melakukan penipuan kepada rekanan saya (Eddy Leo),' tegasnya kepada sejumlah awak media di Denpasar, Senin (30/3), menyusul laporan Eddy Leo ke Mapolda Bali, Jumat (28/3) lalu.

Dalam jumpa pers tersebut, juga hadir beberapa rekanan termasuk beberapa supplier yang namanya sempat dicantumkan oleh kuasa hukum pelapor sebagai pihak yang keberatan dan turut melaporkan kasus tersebut. Dalam jumpa pers tersebut, para supllier mengaku keberatan atas tindakan yang diambil Eddy Leo yang mencantumkan nama mereka dalam laporan di Mapolda Bali.

Dari penuturan Handoko, tuduhan bahwa PT BKR memiliki tunggakan pembayaran terhadap perusahaan Leo, sama sekali tidak benar. Bahkan, Handoko mengaku sudah melakukan pembayaran lebih kepada PT SBRC. 'Sebenarnya sudah tidak ada permasalahan terkait pembayaran kepada pihak PT SBRC karena proyek garapannya senilai Rp 12,4 miliar, sudah dibayar penuh oleh PT BKR. PT SBRC mengambil 7 unit perumahan di BKR. Namun setelah dihitung termasuk 7 unit rumah tersebut, ada kelebihan pembayaran sebesar Rp 2,8 miliar,' tukas Handoko.

Lalu bagaimana dengan bilyet giro (BG) yang tidak bisa dicairkan oleh pihak PT SBRC? Handoko menyatakan BG tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya dengan proyek BKR. Di mana, BG tersebut merupakan bentuk kerja sama internal antara pihak Handoko pribadi dengan pihak Eddy (PT SBRC - red). 'Saya rencana kerja sama dengan Pak Eddy untuk proyek lain yang ada di kawasan Seminyak. BG itu merupakan uang muka untuk proyek di Seminyak,' beber Handoko.

Sebelum memberikan BG, Handoko mengaku sudah melakukan perjanjian kepada PT SBRC. Di mana, jika dalam kurun waktu yang ditentukan proyek tersebut belum selesai, maka PT SBRC akan mendapat wanprestasi dari pihak Handoko. Tentu saja, BG yang sudah diserahkan senilai Rp 7 miliar akan ditarik kembali. 'Waktu saya akan menarik kembali BG tersebut, Pak Eddy bilang BG tersebut hilang dan meminta saya membuat laporan kehilangan ke polisi. Dan, itu sudah saya lakukan,' ujarnya seraya menunjukkan bukti laporan.

Setelah meminta bukti kehilangan dari pihak kepolisian, Handoko langsung melaporkannya ke BNI tanggal 23 Januari 2009. 'Tentu saja BG itu selanjutnya tidak bisa dicairkan,' papar Handoko.

Ia mengaku terkejut ketika mendegar masalah BG bodong yang diadukan PT SBRC ke Mapolda Bali. Pasalnya, yang awalnya menyatakan BG tersebut hilang adalah pihak PT SBRC. Selain itu, yang meminta Handoko untuk membuat laporan kehilangan ke polisi juga pihak PT SBRC.

Tak hanya PT BKR Condotel, March Vini Handoko Putra, yang merasa keberatan dengan laporan Eddy Leo dan Alvonsusu (PT SBRC). Namun, 10 nama supplier yang namanya dicantumkan dalam laporan itu juga menyatakan keberatan. 'Saya bahkan tidak ikut ke Polda dan waktu mereka laporan (Eddy Leo cs - red). Saya sedang enak-enak sama istri di Jawa,' ujar Muhammad Zulfahrial, salah satu supplier yang namanya dicantumkan dalam laporan tersebut.

Seperti berita sebelumnya yang dimuat DenPost (Sabtu, 28/3) lalu, pemilik BKR dilaporkan rekanannya, Eddy Leo, ke Dit. Reskrim Polda Bali. Eddy Leo menuding pemilik BKR telah melakukan penipuan dengan membayar kembalian uang menggunakan bilyet giro (BG) kosong. Bahkan, pemilik BKR juga dituding telah melakukan penipuan terhadap 10 supplier lainnya. Pasalnya, uang para supplier itu tidak dikembalikan olek pemilik BKR. (kmb21/*)


[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak