Catatan
Pariwisata
Sepekan
...
Sekali
Lagi
tentang Pemeliharaan
Objek
Wisata
SEBAGAI
sebuah
destinasi,
Bali
mempunyai
keunggulan
komparatif.
Dalam
peta
kepariwisataan dunia,
sebagaimana
diakui
selama ini,
Bali
telah
mempunyai positioning
tersendiri.
Tidak
ada
duplikasinya di
jagat
ini.
Keragaman
objek
wisata, keindahan
panorama alam
dan
adat-istiadat serta
keramahan
penduduknya
terpintal
menjadi
seuntai pelangi yang
menyejukkan.
Ketika
membaca
deskripsi tadi,
sebagian
orang
mungkin nyeletuk
sinis, ''Ah
gombal!
Pesona
Bali telah
menjadi
masa lalu.''
Sederet
ungkapan sinis
lain pun
menyembul.
Bali,
bukan
lagi pulau
seribu
pura, tetapi
pulau
seribu ruko.
Ini
semua,
walaupun tak
sepenuhnya
benar,
bila terus
diembuskan
untuk
kemudian dipercaya,
bisa
meredupkan pesona
Bali.
Munculnya
penilaian miring
terhadap
kekinian Bali
lebih
merupakan ekses
dari
perkembangan pariwisata
yang terjadi
di luar
kendali
masyarakat.
Demi
memburu
dolar dari
pariwisata
dan
aktivitas pendukung
lainnya,
semua
orang lupa
bahwa
pesona alam
Bali
tak
lebih dari
warisan yang
harus
dirawat dan
dijaga.
Anak
cucu
kita mempunyai
hak
atas semua yang
selama
ini kita
banggakan
sebagai
aset pariwisata
Bali.
Kini,
banyak
pemerhati budaya yang
mulai
mengkhawatirkan masa
depan
objek wisata
di Bali.
Objek
wisata
di
Bali
kerap
hanya dijadikan
komoditi.
Istilahnya
hanya
ngobjek, di
mana
aspek pemeliharaan
dan
perlindungannya terabaikan.
Kalau
kecenderungan ini
tidak
distop, Bali
akan
kehilangan
kekhasannya
sebagai
sebuah destinasi.
Peringatan
semacam
ini harus
digubris,
terutama
oleh
para pengambil
kebijakan
di
daerah ini.
Objek
wisata,
baik yang berupa
peninggalan
sejarah,
tempat
suci maupun
bentang
alam merupakan
sumber
daya yang tak
bisa
diperbarui.
Karena
itu,
struktur fisik
dan
lingkungannya harus
dipelihara
dan
dilindungi.
Data Disparda Bali
menyebutkan,
setidaknya
terdapat 78
objek
wisata yang tersebar
di
Pulau Dewata.
Menyimak
kunjungan
wisatawan
dari
tahun ke
tahun,
tampak jelas
beberapa
objek
mengalami penurunan
drastis.
Sekadar
contoh, Besakih (Karangasem),
Alas Kedaton (Tabanan),
P. Delod
Bening (Jembrana),
Kalibukbuk (Buleleng),
Goa
Gajah (Gianyar),
Penulisan (Bangli).
Objek-objek
tersebut,
sepuluh
tahun lalu
menjadi
tempat favorit,
belakangan
ini
kurang menyedot
wisatawan.
Syukurlah
ada
perkembangan sebaliknya
pada
beberapa objek
wisata,
semisal Penelokan
Batur (Bangli),
Tanah Lot (Tabanan)
dan
Sangeh.
Dalam
beberapa
tahun
terakhir, ketiga
objek
ini mengalami
peningkatan
kunjungan
wisatawan yang
cukup
fantastis.
Ketiganya
termasuk
objek yang
cukup
favorit.
Penyebab
fluktuasi
kunjungan
bisa
macam-macam, namun
penurunan
dan
peningkatan jumlah
kunjungan
sudah
cukup menggambarkan
bagaimana
kualitas
pengelolaannya.
Di
Bali dikenal
tiga
lembaga yang mengelola
objek
wisata, yakni
pertama,
langsung
oleh
pemerintah.
Kedua,
dikelola
oleh
swasta atau
yayasan,
dan
ketiga, oleh
komunitas
adat (desa
pakraman).
Ketiga
pihak
ini mempunyai
otoritas
masing-masing
untuk
mengatur segala
sesuatu yang
menyangkut
objek yang
dikelolanya.
Kesan
umum, yang
lebih
dikedepankan adalah
orientasi profit
dengan
mengabaikan aspek
layanan
dan kepuasan
wisatawan.
Akhirnya,
pengelola
cenderung
hanya
mengobjekkan objek
pariwisata
dengan
mempersetankan
perlindungannya.
Ke
depan,
tampaknya
perlu
pengelolaan yang lebih
melembaga.
Dalam
konteks manifestasi
community based tourism, komunitas
adat
dapat saja
terlibat
dalam
pengelolaan objek
wisata,
namun peran
pemerintah
dan
kampus tampaknya
sangat
perlu. Pengelolaan
objek
wisata harus
beranjak
dari
paradikma lama, ''siapa
dapat
berapa'' menuju ''siapa
berbuat
apa''
untuk
objek tersebut.
Hanya
dengan
itulah sustainablity
(keberlanjutan)
pariwisata
Bali
dapat
dipertahankan.
*
gregorius