kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Umanis, 3 Mei 2008

 Ekuin


Catatan
Pariwisata Sepekan ...
Sekali
Lagi tentang Pemeliharaan Objek Wisata 

SEBAGAI sebuah destinasi, Bali mempunyai keunggulan komparatif. Dalam peta kepariwisataan dunia, sebagaimana diakui selama ini, Bali telah mempunyai positioning tersendiri. Tidak ada duplikasinya di jagat ini. Keragaman objek wisata, keindahan panorama alam dan adat-istiadat serta keramahan penduduknya terpintal menjadi seuntai pelangi yang menyejukkan.

Ketika membaca deskripsi tadi, sebagian orang mungkin nyeletuk sinis, ''Ah gombal! Pesona Bali telah menjadi masa lalu.'' Sederet ungkapan sinis lain pun menyembul. Bali, bukan lagi pulau seribu pura, tetapi pulau seribu ruko. Ini semua, walaupun tak sepenuhnya benar, bila terus diembuskan untuk kemudian dipercaya, bisa meredupkan pesona Bali.

Munculnya penilaian miring terhadap kekinian Bali lebih merupakan ekses dari perkembangan pariwisata yang terjadi di luar kendali masyarakat. Demi memburu dolar dari pariwisata dan aktivitas pendukung lainnya, semua orang lupa bahwa pesona alam Bali tak lebih dari warisan yang harus dirawat dan dijaga. Anak cucu kita mempunyai hak atas semua yang selama ini kita banggakan sebagai aset pariwisata Bali.

Kini, banyak pemerhati budaya yang mulai mengkhawatirkan masa depan objek wisata di Bali. Objek wisata di Bali kerap hanya dijadikan komoditi. Istilahnya hanya ngobjek, di mana aspek pemeliharaan dan perlindungannya terabaikan. Kalau kecenderungan ini tidak distop, Bali akan kehilangan kekhasannya sebagai sebuah destinasi.

Peringatan semacam ini harus digubris, terutama oleh para pengambil kebijakan di daerah ini. Objek wisata, baik yang berupa peninggalan sejarah, tempat suci maupun bentang alam merupakan sumber daya yang tak bisa diperbarui. Karena itu, struktur fisik dan lingkungannya harus dipelihara dan dilindungi.

Data Disparda Bali menyebutkan, setidaknya terdapat 78 objek wisata yang tersebar di Pulau Dewata. Menyimak kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun, tampak jelas beberapa objek mengalami penurunan drastis. Sekadar contoh, Besakih (Karangasem), Alas Kedaton (Tabanan), P. Delod Bening (Jembrana), Kalibukbuk (Buleleng), Goa Gajah (Gianyar), Penulisan (Bangli).

Objek-objek tersebut, sepuluh tahun lalu menjadi tempat favorit, belakangan ini kurang menyedot wisatawan.

Syukurlah ada perkembangan sebaliknya pada beberapa objek wisata, semisal Penelokan Batur (Bangli), Tanah Lot (Tabanan) dan Sangeh. Dalam beberapa tahun terakhir, ketiga objek ini mengalami peningkatan kunjungan wisatawan yang cukup fantastis. Ketiganya termasuk objek yang cukup favorit.

Penyebab fluktuasi kunjungan bisa macam-macam, namun penurunan dan peningkatan jumlah kunjungan sudah cukup menggambarkan bagaimana kualitas pengelolaannya.

Di Bali dikenal tiga lembaga yang mengelola objek wisata, yakni pertama, langsung oleh pemerintah. Kedua, dikelola oleh swasta atau yayasan, dan ketiga, oleh komunitas adat (desa pakraman).

Ketiga pihak ini mempunyai otoritas masing-masing untuk mengatur segala sesuatu yang menyangkut objek yang dikelolanya. Kesan umum, yang lebih dikedepankan adalah orientasi profit dengan mengabaikan aspek layanan dan kepuasan wisatawan. Akhirnya, pengelola cenderung hanya mengobjekkan objek pariwisata dengan mempersetankan perlindungannya.

Ke depan, tampaknya perlu pengelolaan yang lebih melembaga. Dalam konteks manifestasi community based tourism, komunitas adat dapat saja terlibat dalam pengelolaan objek wisata, namun peran pemerintah dan kampus tampaknya sangat perlu. Pengelolaan objek wisata harus beranjak dari paradikma lama, ''siapa dapat berapa'' menuju ''siapa berbuat apa'' untuk objek tersebut. Hanya dengan itulah sustainablity (keberlanjutan) pariwisata Bali dapat dipertahankan.

* gregorius

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)