Menggulirkan
Program Alih
Aksara
dan Bahasa
SELAIN
berusaha
menambah
koleksi,
Dinas
Kebudayaan Bali juga
menggulirkan program
untuk
menyalin isi
lontar
usada yang menggunakan
aksara
Bali
ke
dalam huruf Latin
yang dilengkapi
dengan
terjemahan bahasa
Indonesia.
Dengan
strategi
alih
aksara dan
alih
bahasa ini,
pihaknya
berharap
masyarakat
Bali --
khususnya
generasi
muda --
bisa memahami
isi yang
terkandung
dalam
lontar usada
itu.
Termasuk,
bisa
mengimplementasikannya
secara nyata.
"Banyak
sekali
ramuan obat yang
tertuang
di
dalam lontar
usada
itu bersifat
praktis
dan terbukti
ampuh
untuk menyembuhkan
berbagai
jenis
penyakit di era
kekinian.
Rahasia
sehat
warisan leluhur
itu
masih bisa
dikembangkan
secara modern
lewat
serangkaian penelitian
ilmiah,"
katanya
sambil menambahkan,
lontar-lontar
usada yang
diprioritaskan
untuk
dilakukan alih
aksara
dan alih
bahasa
adalah lontar-lontar
yang isinya
benar-benar
bermanfaat
untuk
masyarakat
Bali.
Nikanaya
mengingatkan,
upaya
pendokumentasian dan
penyelamatan
lontar
usada yang dilakukan
Disbud Propinsi Bali
jelas
tidak
akan ada
artinya
jika tidak
disertai
dengan
upaya pelestarian
tanaman
obat itu
sendiri.
Pasalnya,
mayoritas
ramuan
obat yang terangkum
dalam
lontar usada
memanfaatkan
bahan
baku
tumbuh-tumbuhan yang
tumbuh
di sekitar
pemukiman
masyarakat Bali
secara liar,
tanaman yang
sengaja
dibudidayakan maupun
tanaman
langka yang hanya
tumbuh
di keluasan
hutan
belantara.
"Sudah
saatnya
kita membudidayakan
tanaman-tanaman
berkhasiat
obat
itu secara
serius,"
katanya
berharap.
"Menggiring"
Mahasiswa
Senada
dengan
Nikanaya, Dekan
Fakultas
Matematika
dan
Ilmu Pengetahuan
Alam (MIPA)
Universitas Hindu Indonesia
(Unhi) Drs. I
Gede
Rimaya, DMM mengatakan
sudah
saatnya upaya
pelestarian
tanaman
berkhasiat obat
digalakkan.
Dia
menegaskan,
alam
Indonesia
termasuk Bali
sejatinya
sangat
kaya dengan
ragam
tanaman yang berkhasiat
obat.
Sayang,
sebagian
besar
dari tanaman
itu
belum bisa
dimanfaatkan
secara optimal
guna
meningkatkan status
kesehatan masyarakat
lantaran
terbatasnya
studi
maupun penelitian
yang mengungkap
khasiat
tanaman tersebut.
Berangkat
dari
semua itu,
Fakultas MIPA
Unhi "menggiring"
mahasiswa
jurusan
Biologi untuk
menggali
tanaman-tanaman
berkhasiat
obat
sebagai karya
tulis
maupun skripsi.
"Kegiatan
mengeksplorasi
tanaman
berkhasiat obat
itu
merupakan program strategis
yang kami
rancang
selama beberapa
tahun
ke depan.
Sebisa
mungkin,
kami
mengarahkan mahasiswa
Biologi
terjun ke
bidang
itu," kata
Rimaya
ketika dihubungi Bali
Post, Jumat (2/5)
kemarin.
Pria
berbadan
subur
ini menambahkan,
upaya "penggiringan"
mahasiswa
itu
cukup sukses.
Paling tidak,
sekitar 80
persen
mahasiswa tingkat
akhir
tertarik meneliti
aspek
farmakologi berbagai
jenis
tanaman khas
Indonesia
seperti
sirih, kunyit
dan
temulawak sebagai
tugas
akhir atau
skripsi.
"Kami
memang
mengarahkan mahasiswa
untuk
serius di
bidang
ini," tegasnya.
Saat
ini,
kata Rimaya,
sebagian
masyarakat
sudah
tidak mampu
lagi
membeli obat-obat
kimia
lantaran harganya
makin
membubung tinggi.
Mengatasi
hal itu,
maka
wajib dicari
obat-obatan
alternatif yang
harganya
lebih
terjangkau di
mana
bahan bakunya
melimpah
ruah di
Indonesia.
"Saya
berharap sarjana
Biologi
jebolan Unhi
mampu
mengaplikasikan ilmu
yang didapatnya
di
bangku kuliah
dengan
membangun pabrik
skala
kecil untuk
mengolah
tanaman
obat yang dikemas
dan di-manage
secara modern agar
masyarakat yang
perekonomiannya pas-pasan
bisa
membeli obat-obatan
dengan
harga yang terjangkau,"
katanya
penuh harap.
Rimaya
menegaskan,
sudah
saatnya para
ahli
medis di Bali
melirik
dan mencari
obat-obatan
alternatif
dengan
menggali pengalaman
budaya
leluhur yang memanfaatkan
tumbuh-tumbuhan
sebagai
obat-obatan.
Dalam
melaksanakan
kegiatan
eksplorasi
tanaman-tanaman
obat
itu, para
ahli
bisa memanfaatkan
berbagai
jenis
lontar usada
sebagai
dasar pijakan.
Apalagi,
sejumlah
lontar
itu sudah
dialihaksarakan
maupun
dialihbahasakan sehingga
mempermudah
mereka yang
tidak
mengerti aksara
dan
bahasa
Bali
memahami
isi
lontar tersebut.
"Sejak
berabad-abad
silam,
leluhur manusia
Bali
sejatinya
sudah
mampu mengungkap
khasiat
berbagai jenis
tanaman
untuk pengobatan.
Generasi
sekarang
perlu
mempertajam dan
menyempurnakan
apa yang
sudah
dirintis para
pendahulu
itu
melalui serangkaian
penelitian,"
katanya
dan menambahkan
pemanfaatan
obat-obatan
tradisional
itu
sejalan dengan
pola
hidup back to nature yang
digelorakan dewasa
ini.
Menurut
Rimaya,
pemanfaatan obat-obatan
herbal (berbahan
baku
tumbuhan-red)
jauh
lebih murah
dan
relatif lebih
aman
dikonsumsi dibandingkan
obat-obatan
kimia
karena nyaris
tanpa
efek samping.
Selain
itu, bahan
baku
obat-obatan
tradisional
ini
juga mudah
diperoleh
dan
dibudidayakan di
Bali. "Di
samping
sebagai bahan
obat,
tanaman yang sama
umumnya
juga dimanfaatkan
sebagai
upacara keagamaan
seperti
bunga jepun,
pohon
dapdap, jahe,
alang-alang,
kunyit
dan banyak
lagi
tanaman khas
Bali yang
memiliki
manfaat
ganda.
Melestarikan
tanaman
obat secara
tidak
langsung juga
ikut
melestarikan tanaman
untuk
kepentingan upacara
keagamaan,"
paparnya
panjang
lebar. (ian)