kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Umanis, 3 Mei 2008

 Kultur


Menggulirkan
Program Alih Aksara dan Bahasa 

SELAIN berusaha menambah koleksi, Dinas Kebudayaan Bali juga menggulirkan program untuk menyalin isi lontar usada yang menggunakan aksara Bali ke dalam huruf Latin yang dilengkapi dengan terjemahan bahasa Indonesia. Dengan strategi alih aksara dan alih bahasa ini, pihaknya berharap masyarakat Bali -- khususnya generasi muda -- bisa memahami isi yang terkandung dalam lontar usada itu. Termasuk, bisa mengimplementasikannya secara nyata. "Banyak sekali ramuan obat yang tertuang di dalam lontar usada itu bersifat praktis dan terbukti ampuh untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit di era kekinian. Rahasia sehat warisan leluhur itu masih bisa dikembangkan secara modern lewat serangkaian penelitian ilmiah," katanya sambil menambahkan, lontar-lontar usada yang diprioritaskan untuk dilakukan alih aksara dan alih bahasa adalah lontar-lontar yang isinya benar-benar bermanfaat untuk masyarakat Bali. 

Nikanaya mengingatkan, upaya pendokumentasian dan penyelamatan lontar usada yang dilakukan Disbud Propinsi Bali jelas tidak akan ada artinya jika tidak disertai dengan upaya pelestarian tanaman obat itu sendiri. Pasalnya, mayoritas ramuan obat yang terangkum dalam lontar usada memanfaatkan bahan baku tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di sekitar pemukiman masyarakat Bali secara liar, tanaman yang sengaja dibudidayakan maupun tanaman langka yang hanya tumbuh di keluasan hutan belantara. "Sudah saatnya kita membudidayakan tanaman-tanaman berkhasiat obat itu secara serius," katanya berharap.

 

"Menggiring" Mahasiswa

Senada dengan Nikanaya, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Drs. I Gede Rimaya, DMM mengatakan sudah saatnya upaya pelestarian tanaman berkhasiat obat digalakkan. Dia menegaskan, alam Indonesia termasuk Bali sejatinya sangat kaya dengan ragam tanaman yang berkhasiat obat. Sayang, sebagian besar dari tanaman itu belum bisa dimanfaatkan secara optimal guna meningkatkan status kesehatan masyarakat lantaran terbatasnya studi maupun penelitian yang mengungkap khasiat tanaman tersebut. Berangkat dari semua itu, Fakultas MIPA Unhi "menggiring" mahasiswa jurusan Biologi untuk menggali tanaman-tanaman berkhasiat obat sebagai karya tulis maupun skripsi. "Kegiatan mengeksplorasi tanaman berkhasiat obat itu merupakan program strategis yang kami rancang selama beberapa tahun ke depan. Sebisa mungkin, kami mengarahkan mahasiswa Biologi terjun ke bidang itu," kata Rimaya ketika dihubungi Bali Post, Jumat (2/5) kemarin.

Pria berbadan subur ini menambahkan, upaya "penggiringan" mahasiswa itu cukup sukses. Paling tidak, sekitar 80 persen mahasiswa tingkat akhir tertarik meneliti aspek farmakologi berbagai jenis tanaman khas Indonesia seperti sirih, kunyit dan temulawak sebagai tugas akhir atau skripsi. "Kami memang mengarahkan mahasiswa untuk serius di bidang ini," tegasnya.

Saat ini, kata Rimaya, sebagian masyarakat sudah tidak mampu lagi membeli obat-obat kimia lantaran harganya makin membubung tinggi. Mengatasi hal itu, maka wajib dicari obat-obatan alternatif yang harganya lebih terjangkau di mana bahan bakunya melimpah ruah di Indonesia. "Saya berharap sarjana Biologi jebolan Unhi mampu mengaplikasikan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah dengan membangun pabrik skala kecil untuk mengolah tanaman obat yang dikemas dan di-manage secara modern agar masyarakat yang perekonomiannya pas-pasan bisa membeli obat-obatan dengan harga yang terjangkau," katanya penuh harap.

Rimaya menegaskan, sudah saatnya para ahli medis di Bali melirik dan mencari obat-obatan alternatif dengan menggali pengalaman budaya leluhur yang memanfaatkan tumbuh-tumbuhan sebagai obat-obatan. Dalam melaksanakan kegiatan eksplorasi tanaman-tanaman obat itu, para ahli bisa memanfaatkan berbagai jenis lontar usada sebagai dasar pijakan. Apalagi, sejumlah lontar itu sudah dialihaksarakan maupun dialihbahasakan sehingga mempermudah mereka yang tidak mengerti aksara dan bahasa Bali memahami isi lontar tersebut. "Sejak berabad-abad silam, leluhur manusia Bali sejatinya sudah mampu mengungkap khasiat berbagai jenis tanaman untuk pengobatan. Generasi sekarang perlu mempertajam dan menyempurnakan apa yang sudah dirintis para pendahulu itu melalui serangkaian penelitian," katanya dan menambahkan pemanfaatan obat-obatan tradisional itu sejalan dengan pola hidup back to nature yang digelorakan dewasa ini.

Menurut Rimaya, pemanfaatan obat-obatan herbal (berbahan baku tumbuhan-red) jauh lebih murah dan relatif lebih aman dikonsumsi dibandingkan obat-obatan kimia karena nyaris tanpa efek samping. Selain itu, bahan baku obat-obatan tradisional ini juga mudah diperoleh dan dibudidayakan di Bali. "Di samping sebagai bahan obat, tanaman yang sama umumnya juga dimanfaatkan sebagai upacara keagamaan seperti bunga jepun, pohon dapdap, jahe, alang-alang, kunyit dan banyak lagi tanaman khas Bali yang memiliki manfaat ganda. Melestarikan tanaman obat secara tidak langsung juga ikut melestarikan tanaman untuk kepentingan upacara keagamaan," paparnya panjang lebar. (ian)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)