Pembentukan Koperasi Tani ----
Bukan Solusi Atasi Masalah Pertanian
Pembentukan koperasi tani dinilai mubazir dan tak
mengatasi masalah yang dihadapi petani. Sebab, petani
Bali memerlukan perlindungan untuk menghadapi persaingan
pasar. Bahkan, petani Bali tak berdaya ketika lahannya
diserbu investor. Koperasi tani takkan mampu mengemban
tugas tersebut, bahkan dikhawatirkan menjadi alat untuk
mencari kekuasaan. Berikut pendapat pengamat pertanian
Unud Dr. Ni Luh Ketut Kartini, M.S. dan ekonom Undiknas
Dr. A.A. Oka Suryadinatha Gorda, S.E., M.M.
MENGENALI
masalah pertanian di Bali merupakan hal mendasar bagi
calon pemimpin Bali ke depan, kata Dr. Kartini, Jumat
(2/5) kemarin. Pembentukan koperasi petani jangan sampai
menjadi jeratan baru bagi petani. Koperasi petani perlu
kajian matang agar tak menjadi mubazir. Sebab, petani
justru memerlukan pengawasan untuk menghadapi persaingan
pasar. Demikian pula petani perlu ''teman'' ketika
lahannya dibidik investor.
Sementara itu, Dr. A.A. Oka Suryadinatha Gorda, S.E.,
M.M. mengatakan, pedekatan politik untuk membangun
pertanian di Bali bersifat semu dan terpenggal-penggal.
Dunia politik cenderung menjadikan pertanian sebagai
strategi mengeruk dukungan politik, bukan sebagai
penjabaran komitmen untuk menjadikan petani mandiri. ''Saya
melihat petani masih menjadi korban politik dan
dijadikan tameng untuk mengeruk anggaran daerah. Banyak
daerah mengalokasikan dana-dana bantuan pertanian,
tetapi di lapangan justru penikmatnya para pengusaha
yang bermitra dengan eksekutif,'' ujarnya.
Oka Gorda menilai sepanjang politisi dan birokrat tak
mampu mengubah paradigama konsep bertani, sebaiknya
mereka tak menebar janji politik untuk menyejahterakan
patani Bali. Sepanjang dunia pertanian Bali bersifat off
farm atau gaya bertani tradisional tak mungkin
mengundang minat generasi muda untuk bertani. ''Sarjana
pertanian juga enggan mengabdikan ilmunya untuk
kebangkitan sektor ini,'' tegasnya.
Untuk itu, kata Oka, seorang politisi yang bermain di
sektor pertanian harus memiliki paradigma baru yakni
menjadikan petani Bali on farm atau petani yang bisa
melakukan berbagai pendekatan dalam mengelola pertanian.
Bantuan permodalan pun harus jelas dan terarah. ''Di
sinilah diperlukan konsep yang jelas mengelola pertanian.
Kalau hanya menjanjikan bantuan modal dan subsidi,
sejatinya sang politisi menjebak petani untuk hidup
dalam ketergantungan. Dengan demikian petani akan
dijadikan korban politik,'' kritiknya.
Ketua Yayasan Perdiknas ini mengingatkan pendekatan
teknologi, ekonomis dan aspek sosial budaya dalam
pengelolaan pertanian Bali mendesak didesain. Dengan
konsep ini petani akan terangsang untuk menjadi petani
mandiri dan peka terhadap peluang pasar. ''Politisi
jangan mencetak petani tradisional yang lemah. Pemimpin
Bali ke depan harus mengubah paradigama pertanian
menjadi sektor primadona yang memiliki kontribusi dalam
membangun ketahanan pangan Bali. Jangan melakukan
politisasi pertanian,'' sarannya.
Salah Sasaran
Dr. Ni Luh Ketut Kartini, M.S. mengatakan, saat ini
kebijakan salah sasaran lebih banyak terlihat dari
program penyelamatan pertanian. Buktinya, kredit-kredit
penyelamatan harga gabah malah dinikamti oleh pemilik
penyosohan beras. Bahkan, pupuk bersubsidi yang mestinya
bisa dinikmati petani, sirkulasinya malah melibatkan
pihak ketiga sehingga subsidinya jadi keutungan bagi
pebisnis. ''Memang ada bantuan bibit kepada petani,
namun kualitasnya rendah. Bahkan, penyaluran bibit ini
lebih bermuatan politis karena ditunggangi banyak
kepentingan politik,'' ujarnya.
Kartini mengigatkan agar pemimpin Bali ke depan memiliki
konsep yang jelas dalam menyelamatkan pertanian Bali. ''Tanpa
pertanian jangan harap budaya Bali bertahan. Untuk itu
pengelolaan petanian harus profesional, jangan dibaurkan
dengan kepentingan politik,'' tegasnya.
Birokrat hendaknya lebih profesional mengelola sektor
ini dan menghindarkan diri dari ambisi mengelola
pertanian sebagai media untuk menebar janji politik. ''Politisi
cenderung melakukan manipulasi kepentingan dengan
mempermainkan wacana tentang pertanian.''
(tim BP)