kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 10 Mei 2008

 Kultur


Memperkenalkan Tari Joged di Tingkat Dunia
 

MENCUATNYA aksi pornografi dalam pementasan joged bumbung juga menjadi keprihatinan pencinta seni budaya Bali ini. Guna mengembalikan citra positif kesenian ini, dia pun menggagas "Pagelaran Seni-Budaya Joged" di Museum Rudana, Ubud, Sabtu (26/4) lalu. Acara yang tergolong langka itu dibuka Menbudpar Ir. Jero Wacik.

"Saya ingin menggaungkan seni tari pergaulan joged ini ke pentas PKB, ajang nasional bahkan tingkat dunia. Hal itu semata-mata untuk mengangkat nilai-nilai luhur joged sebagai tarian pergaulan yang punya etika dan estetika yang tinggi. Bukan porno. Dengan joged tersebut, berbagai hal bisa disinergikan seperti seni lukis, tabuh hingga makanan khas Bali," kata Putu Supadma Rudana, MBA.

Pada event itu, pihaknya memboyong para mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk menarikan joged bumbung. Saat itu, tergambar jelas bahwa kesenian ini punya gerakan yang sopan dan bernilai seni tinggi. Ini juga membuktikan bahwa joged bukanlah tarian porno seperti yang pernah melekat di hati masyarakat Bali belum lama ini.

"Tari joged bumbung memang mengandung nilai-nilai etika dan estetika. Sebagai tarian, joged bumbung dikenal mempunyai gerakan-gerakan indah sedemikian rupa sehingga bisa memberikan hiburan sekaligus sebagai tari pergaulan. Sampai sekarang tarian ini masih digemari masyarakat secara luas. Tapi perlu dicatat bahwa estetika tarian joged mengandung etika yang harus ditegakkan," tegasnya.

Supadma menambahkan, pada tarian joged juga dikenal dengan adanya ibing-ibingan di mana penari joged akan mengundang salah seorang penonton yang disebut dengan pengibing. Dia ikut diundang menari secara artistik di panggung. Dalam inilah akan tersirat estetika dan etika yang merupakan salah satu kekuatan tarian ini.

"Mesti dicatat pula, tarian joged bumbung banyak memberikan inspirasi bagi seniman untuk menciptakan kreasi baru. Sebut saja pelukis, terinspirasi melahirkan karya-karya dari lemah-gemulainya gerak para penari joged bumbung," katanya lagi.

 

Mati Suri

Tetapi kita selayaknya mengelus dada, karena sekaa joged bumbung yang ada di desa-desa belakangan ini mati suri. Jumlahnya bahkan bisa dihitung dengan jari. Berapa tahun belakangan ini, kata Supadma, joged bumbung mulai ditinggalkan oleh para penggemarnya, mungkin karena kesan porno masih melekat sehingga dikhawatirkan merusak moral bangsa terutama generasi muda.

"Bisa jadi, masyarakat jenuh menyaksikan joged bumbung karena kurang kreasi atau penarinya kurang jago menari. Hal ini diperparah lagi dengan munculnya gerakan-gerakan porno yang membuat para pencinta seni tidak lagi tertarik menonton kesenian ini," ujarnya.

Untuk kembali menggairahkan pertunjukan kesenian ini, kata dia, joged bumbung perlu lebih banyak ditampilkan dalam acara-acara tertentu yang menyangkut hiburan untuk masyarakat luas. Pementasan di desa, di kota maupun di hotel/restoran jangan diabaikan. Dengan pementasan yang rutin, joged akan semakin menarik dan tetap dikagumi masyarakat. "Tetapi, ingat jagi ada lagi unsur-unsur pornografi di sana. Joged bumbung harus mampu mensterilkan diri dari gerakan-gerakan yang tidak senonoh dan tidak beretika," tegasnya lagi. 

Walau tak semarak di desa-desa, kata Supadma, pementasan joged bumbung sesungguhnya tetap berlangsung di pusat-pusat wisata seperti Kuta, Ubud, Sanur dan Nusa Dua, terutama untuk konsumsi turis. Pementasan itu terbilang cukup laris dan digemari wisatawan, karena tarian ini bisa melibatkan turis untuk ikut ngibing, berjoged dan saling bercanda dengan seniman. Inilah kelebihan joged sebagai tari pergaulan yang tak mengenal batas usia maupun kewarganegaraan.

"Tak hanya itu, para seniman, khususnya pelukis seperti halnya yang dilakukan IB Indra (IBI) yang berpameran di Museum Rudana, Ubud ini. Dia juga banyak mengangkat tema joged, sehingga karyanya yang mempunyai ciri khas dan ekspresif. Saya berharap, joged bumbung bisa terus berkembang dan makin kreatif sehingga tak lekang ditelan zaman. Yang terpenting lagi, jangan pernah lagi menyisipkan unsur-unusur pornografi di dalamnya yang justru bisa jadi batu sandungan bagi kesenian ini untuk melanglang buana di jagat seni pertunjukan dunia," ujarnya. (ian)

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)