kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 10 Mei 2008

 Kultur


Joged Bumbung Kini tak Porno Lagi
 

Tari joged bumbung pernah menjejak masa kejayaannya beberapa tahun silam. Tari pergaulan khas masyarakat Bali yang gemelan pengiringnya didominasi instrumen bambu ini, kerap kali dijadikan "menu utama" untuk menyemarakkan perhelatan-perhelatan penting seperti resepsi perkawinan, perayaan HUT sekaa teruna di banjar-banjar hingga peringatan hari-hari besar nasional yang dirangkaikan dengan gelaran pesta rakyat. Gamelan joged bumbung yang energik dan dinamis ditingkahi dengan gerak penarinya yang lemah-gemulai dan terkadang menyentak memang jadi jaminan terciptanya sebuah pesta yang meriah. Tarian ini begitu populer karena sangat menghibur dan melibatkan para penonton untuk ikut berjoged serta larut dalam irama tari nan rancak.

===================================================== 

TERNYATA, gerak-gerik penari joged tak hanya mampu "menghipnotis" komunitas pencinta seni di Bali semata. Pesona tarian yang umumnya ditarikan secara tunggal dengan melibatkan seorang penonton sebagai pengibing secara spontan ini juga mampu menancapkan pesonanya di hati wisatawan mancanegara maupun domestik. Makanya, tidak mengherankan jika pihak pengelola hotel tergerak "meminang" penari joged beserta sekaa yang terlibat di dalamnya untuk pentas di hotel-hotel. "Dihidangkan" dan "dikonsumsi" secara khusus guna memuaskan "dahaga" para turis akan sebuah tontonan seni yang berkualitas dan menghibur.

Sayang, di saat popularitas joged bumbung berada di puncak, pesona tari pergaulan ini justru "dirusak" oleh oknum-oknum yang "berkreasi" secara "liar". Pakem-pakem joged bumbung yang semula menonjolkan kekuatan gerak tari dengan tetap menjaga estetika dan etika ketimuran diporak-porandakan dengan gerakan-gerakan erotis nan sensual bahkan cenderung mengarah ke porno aksi. Keindahan gerak tari tak lagi jadi prioritas. Para penari seolah berlomba-lomba mempertontonkan gerakan-gerakan "terpanas" layaknya seorang penari striptease. Gerakan ngangkuk dan goyang ''ngebor'' yang semula tidak dikenal dalam tarian Bali, berubah jadi hal yang lumrah dalam tarian joged bumbung. Etika dan estetika seperti tak penting lagi. Yang penting, penonton senang dan penampilan penari joged menuai aplaus dan suit-suit panjang dari penonton.

Lebih menyedihkan lagi, ada penari joged bumbung yang tanpa perasaan bersalah nekat mempertontonkan "area terlarangnya" seperti yang sempat terekam di HP yang sempat menghebohkan jagat seni pertunjukan Bali beberapa tahun lalu. Citra joged bumbung pun langsung terbanting. Stempel negatif langsung disematkan bahwa joged bumbung merupakan tarian erotis, porno dan murahan. Karena nila setitik, sebelanga susu pun jadi rusak. Padahal, masih banyak pragina joged yang dengan kesadaran tinggi tetap berkreasi di jalur yang benar. Tetap mengedepankan etika dan estetika serta sepenuhnya mengabdi pada keluhuran seni. "Lahirnya gerakan-gerakan porno dalam tarian joged bumbung tentu sangat disayangkan. Pelaku kesenian seperti ini, sejatinya telah menjatuhkan citra adiluhung dari kesenian itu sendiri," kata Putu Supadma Rudana, MBA ketika dihubungi Bali Post, Jumat (9/5) kemarin.

Pencinta seni budaya Bali ini berharap para pragina joged bumbung tidak lagi berkreasi secara "liar" dengan melabrak tatanan kesusilaan yang selama ini dipegang teguh oleh masyarakat Bali. Guna menggapai popularitas, penari joged tak perlu bergoyang secara berlebihan yang membuat mata penonton melotot dan darahnya "muncrat" hingga ke ubun-ubun. "Sejatinya, gerak tari joged bumbung sudah dirancang begitu estetis dan artistik. Jadi, tidak perlu dibumbui dengan gerakan-gerakan sensual dan erotis yang justru membuat kesenian ini terkesan murahan," tegasnya. 

Jalan Pintas

Menyelusupnya unsur pornoaksi dan pornografi ke dalam gerak tari joged bumbung juga sangat disesalkan oleh Drs. I Dewa Putu Beratha, M.Si. Mantan Kepala Taman Budaya Bali ini juga meminta para pragina yang sempat "tersesat" mau kembali ke jati diri joged bumbung yang sesungguhnya. Demi menggapai popularitas, kata dia, sebuah sekaa joged bumbung tidak mesti menempuh jalan pintas yang justru sangat potensial membuat eksistensi kesenian joged bumbung itu makin terpuruk.

"Sudah saatnya, mereka kembali ke pakem-pakem joged bumbung yang telah ada. Kalaupun mereka ingin menampilkan inovasi-inovasi baru, hal itu tidak boleh sampai melabrak tatanan kesusilaan yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat Bali. Kita harus menegakkan komitmen, joged bumbung masa kini tak boleh lagi berkubang dalam nuansa yang nyerempet-nyerempet pornoaksi dan pornografi," tegasnya.

Menurut Beratha, gerakan penyadaran itu tidak semata dilakukan oleh pragina joged bumbung sendiri.  Kaum pria Bali yang selama ini begitu tergila-gila ngibing juga wajib instrospeksi diri. Pasalnya, para pengibing ini juga memberi andil besar terhidangnya sebuah pementasan bergelimang pornoaksi dan pornografi di atas panggung lewat serangkaian gerakan-gerakkan "nakal" yang mereka peragakan.

"Seorang pengibing boleh saja menampilkan gerakan-gerakan kocak dan konyol di atas panggung untuk memancing derai tawa penonton. Tetapi, gerakan kocak itu tidak identik dengan gerakan-gerakan porno dan jorok. Ingat, pementasan joged bumbung ini juga ditonton anak-anak kecil yang belum saatnya menyaksikan gerakan-gerakan tak senonoh seperti itu," ujarnya.

Beratha yang juga secara intensif mengamati perkembangan seni pertunjukan Bali ini berharap para pragina dan pengibing joged bumbung benar-benar nyentokin igelan. Artinya, mereka harus berkompetisi untuk menunjukkan kepiawaiannya menari Bali di atas panggung sesuai pakem-pakem yang telah digariskan. Makanya, tidak berlebihan jika gerak tari seorang pengibing justru bisa "menenggelamkan" gerak tari penari joged bumbung itu sendiri.

"Zaman dulu, para pengibing memang benar-benar nyentokin igelan. Mereka benar-benar memiliki keterampilan menari sehingga layak tampil di depan khalayak ramai. Tidak seperti saat ini, seorang pengibing sudah merasa percaya diri tampil di atas panggung hanya bermodalkan sekadar bisa ngebatang lima. Karena sama sekali tidak memiliki keterampilan menari, pengibing dengan karakter seperti ini cenderung menyembunyikan ketidakbecusannya menari dengan melakukan gerakan-gerakan nakal yang justru direspons dengan meriah oleh penonton. Para pengibing juga ikut memporak-porandakan tatanan estetika pertunjukan joged itu sendiri," katanya.

Dalam konteks pelestarian kesenian joged bumbung dengan "cita rasa" yang kental nuansa estetika dan etika ke-Bali-annya, kata dia, sudah sewajarnya panitia Pesta Kesenian Bali (PKB) memasukkan program kegiatan "Lomba Joged Bumbung dan Ngibing" dalam sajian PKB. Pada event ini, masyarakat Bali bisa menonton pertunjukan joged bumbung yang sejatinya. "Sekaa yang penarinya menampilkan gerakan-gerakan menjurus porno langsung didiskualifikasi. Ketentuan yang sama juga berlaku bagi para pengibing yang menampilkan gerakan-gerakan tak etis," katanya menyarankan. 

Bukan Tarian Porno

Pendapat senada juga dilontarkan oleh Putu Supadma Rudana, MBA. Mencuatnya aksi pornografi dalam pementasan joged bumbung juga menjadi keprihatinan pencinta seni budaya Bali ini. Guna mengembalikan citra positif kesenian ini, dia pun menggagas "Pagelaran Seni-Budaya Joged" di Museum Rudana, Ubud, Sabtu (26/4) lalu. Acara yang tergolong langka itu dibuka Menbudpar Ir. Jero Wacik.

"Saya ingin menggaungkan seni tari pergaulan joged ini ke pentas PKB, ajang nasional bahkan tingkat dunia. Hal itu semata-mata untuk mengangkat nilai-nilai luhur joged sebagai tarian pergaulan yang punya etika dan estetika yang tinggi. Bukan porno. Dengan joged tersebut, berbagai hal bisa disinergikan seperti seni lukis, tabuh hingga makanan khas Bali," ujarnya.

Pada event itu, pihaknya memboyong para mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk menarikan joged bumbung. Saat itu, tergambar jelas bahwa kesenian ini punya gerakan yang sopan dan bernilai seni tinggi. Ini juga membuktikan bahwa joged bukanlah tarian porno seperti yang pernah melekat di hati masyarakat Bali belum lama ini.

"Tari joged bumbung memang mengandung nilai-nilai etika dan estetika. Sebagai tarian, joged bumbung dikenal mempunyai gerakan-gerakan indah sedemikian rupa sehingga bisa memberikan hiburan sekaligus sebagai tari pergaulan. Sampai sekarang tarian ini masih digemari masyarakat secara luas. Tapi perlu dicatat bahwa estetika tarian joged mengandung etika yang harus ditegakkan," tegasnya.

Supadma menambahkan, pada tarian joged juga dikenal dengan adanya ibing-ibingan di mana penari joged akan mengundang salah seorang penonton yang disebut dengan pengibing. Dia ikut diundang menari secara artistik di panggung. Dalam inilah akan tersirat estetika dan etika yang merupakan salah satu kekuatan tarian ini.

"Mesti dicatat pula, tarian joged bumbung banyak memberikan inspirasi bagi seniman untuk menciptakan kreasi baru. Sebut saja pelukis, terinspirasi melahirkan karya-karya dari lemah-gemulainya gerak para penari joged bumbung," katanya lagi.  

Mati Suri

Tetapi kita selayaknya mengelus dada, karena sekaa joged bumbung yang ada di desa-desa belakangan ini mati suri. Jumlahnya bahkan bisa dihitung dengan jari. Berapa tahun belakangan ini, kata Supadma, joged bumbung mulai ditinggalkan oleh para penggemarnya, mungkin karena kesan porno masih melekat sehingga dikhawatirkan merusak moral bangsa terutama generasi muda.

"Bisa jadi, masyarakat jenuh menyaksikan joged bumbung karena kurang kreasi atau penarinya kurang jago menari. Hal ini diperparah lagi dengan munculnya gerakan-gerakan porno yang membuat para pencinta seni tidak lagi tertarik menonton kesenian ini," ujarnya.

Untuk kembali menggairahkan pertunjukan kesenian ini, kata dia, joged bumbung perlu lebih banyak ditampilkan dalam acara-acara tertentu yang menyangkut hiburan untuk masyarakat luas. Pementasan di desa, di kota maupun di hotel/restoran jangan diabaikan. Dengan pementasan yang rutin, joged akan semakin menarik dan tetap dikagumi masyarakat. "Tetapi, ingat jagi ada lagi unsur-unsur pornografi di sana. Joged bumbung harus mampu mensterilkan diri dari gerakan-gerakan yang tidak senonoh dan tidak beretika," tegasnya lagi. 

Walau tak semarak di desa-desa, kata Supadma, pementasan joged bumbung sesungguhnya tetap berlangsung di pusat-pusat wisata seperti Kuta, Ubud, Sanur dan Nusa Dua, terutama untuk konsumsi turis. Pementasan itu terbilang cukup laris dan digemari wisatawan, karena tarian ini bisa melibatkan turis untuk ikut ngibing, berjoged dan saling bercanda dengan seniman. Inilah kelebihan joged sebagai tari pergaulan yang tak mengenal batas usia maupun kewarganegaraan.

"Tak hanya itu, para seniman, khususnya pelukis seperti halnya yang dilakukan IB Indra (IBI) yang berpameran di Museum Rudana, Ubud ini. Dia juga banyak mengangkat tema joged, sehingga karyanya yang mempunyai ciri khas dan ekspresif. Saya berharap, joged bumbung bisa terus berkembang dan makin kreatif sehingga tak lekang ditelan zaman. Yang terpenting lagi, jangan pernah lagi menyisipkan unsur-unusur pornografi di dalamnya yang justru bisa jadi batu sandungan bagi kesenian ini untuk melanglang buana di jagat seni pertunjukan dunia," ujarnya. w. sumatika

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)