Bondres
Joged
Pergaulan
KESENIAN
joged
di
Bali terpuruk
sebagai
tari pergaulan.
Itu
disebabkan jatuh
nistanya
tari
ini akibat
adanya
joged porno yang VCD-nya
tersebar
di
mana-mana, termasuk
dengan
amat mudah
dibeli
di kaki lima pada
penjaja
cakram bajakan.
Sudah
tidak jelas
lagi
dari grup (sekaa)
mana
joged itu,
bahkan
besar kemungkinan
adegan
itu juga
direkayasa
di
komputer sehingga
lebih ''merangsang''.
Namun
satu hal yang
jelas,
biangnya memang
ada
penari joged yang
melakukan
adegan
tak senonoh
itu,
seperti melucuti
kain
pengibing (penari
pria)
dan memperkenalkan
goyang
pinggul yang vulgar.
Apalagi,
dalam
perkembangan terakhir
ini,
tari jogged sudah
ditarikan
dengan
asal-asalan, bahkan
dengan
iringan gamelan yang juga
asal
bunyi. Dulu,
ketika
tari joged
belum
mendapatkan ''virus global'',
kesenian
ini
punya pakem yang
jelas.
Bagaimana dia
menari
membuka layar (langse),
bagaimana
memegang
kipas,
bagaimana simbol-simbol
dari
gerakan kipas
itu,
bagaimana mencari
pengibing (teman
menari yang
biasanya
pria),
termasuk iringan
gamelannya.
Iringan gamelan
ini
juga membedakan
nama-nama ''generik''
dari
joged.
Ada
yang disebut
Joged
Gebyog, Joged Adar,
Joged
Gandrung, dan yang
termasuk
sakral
adalah Joged
Pingitan.
Sekarang
penari
joged seperti
kehilangan
pakem.
Begitu pula perangkat
musik
sebagai iringan
gamelan. Bisa
memakai
angklung bambu (gerantangan),
bisa
memakai angklung
logam (angklung
kebyar),
memakai
geguntangan, gong kebyar,
bahkan
hanya ''musik
mulut''
yaitu genjek.
Penari pun
tak
mempedulikan ''pakem
pepeson'',
iramanya
bisa
seperti Gandrung
Banyuwangi,
atau
gaya Jaipongan
Sunda,
bahkan tak
jelas
lagi bentuknya,
mirip
improvisasi penyanyi
dangdut
dengan ''goyang
ngebor''
atau ''goyang
gergaji''.
Joged porno yang
dijual
dalam VCD bajakan,
termasuk
goyang-goyang
aneka
warna ini.
Irama
joged pun
dimasukkan
ke
dalam pentas
tari
Arja, hanya
sebagai
lelucon yang konyol.
Ini
sering dilakukan
oleh
grup Arja
Muani yang
dimainkan
oleh
tokoh Desak
Rai dan
Liku.
Semua ini
tanpa
disadari telah
menjatuhkan
kesenian
joged
sebagai tari
pergaulan
khas Bali yang
dulu
sangat dikagumi
masyarakat.
Dulu,
tari joged
digolongkan ''tari
pergaulan
tradisional''
bersama
dengan Jaipongan (Sunda)
dan
Tayub (Jawa
Tengah),
sebagai
pendamping ''tari
pergaulan modern''
seperti
dansa dan
sejenisnya.
Kini
hanya
Jaipongan yang masih
tetap
eksis, meskipun
Jaipongan
gaya
Karawang
juga
jatuh pamornya
karena
lari ke
arah porno.
Begitu pula
Tayub,
pamornya jatuh
bukan
karena penarinya
erotis,
namun ada ''perselingkuhan''
antara
penari dan
pengibing
usai
pertunjukan. Jadi
penari
Tayub banyak yang
hanya
memanfaatkan kesempatan
itu
untuk tujuan lain,
sementara
penguasaan
tarinya
tidak memadai.
Entahlah
dengan
penari joged.
Apakah
penari joged yang
menjurus
ke porno
ini
berlanjut ke
kawasan ''perselingkuhan''
dengan
pengibing, tak
ada
cerita gosip
soal
itu. Yang jelas,
format joged
sebagai
tari pergaulan
secara
terhormat mulai
kehilangan
peran.
Karena
itu
menarik ketika
ada
seorang pengusaha
muda yang
ingin
mengembalikan joged
menjadi
tari pergaulan yang
terhormat,
bahkan
mencoba membawa
kesenian
ini ke
dunia global.
Joged
dibawa ke
pentas
dunia, begitulah
ambisinya.
Pengusaha
muda
itu adalah
Putu
Supadma Rudana,
putra
dari pemilik museum
yang terkenal
di
Gianyar, Nyoman
Rudana.
Menteri Kebudayaan
dan
Pariwisata Jero
Wacik
bahkan berniat
menjadikan
tari
joged sebagai
maskot Visit Indonesia Year
2008.
Upaya
mengangkat
tari
joged ke
pentas
dunia, tentu
saja
tak sulit
amat.
Ritme dan
estetika
tari
ini masih
punya
jejak yang jelas,
dan itu
pastilah
persoalan yang
sangat
mudah bagi alumnus
Institut
Seni Indonesia (ISI)
Denpasar.
Bahkan
untuk menyesuaikan
dengan
tari pergaulan yang
mudah
ditangkap di
dunia
luar, pakem
tari
joged bisa
dimodifikasi
sedemikian
rupa.
Begitu pula iringan
musiknya,
bisa
saja dipertahankan
dalam
bentuk musik
akustik (angklung
bambu)
atau ada
kolaborasi
dengan
musik modern.
Mungkin
yang perlu
didiskusikan
adalah
busana penari.
Busana
tari joged
mengalami
perubahan
dari
zaman ke
zaman. Dari
berbagai
foto
dokumentasi yang ada
di Bali,
joged
di era 1950-an, busana
penarinya
sangat
sederhana. Penari
memakai
kain kemben
dan
kebaya biasa,
di atas
rambutnya
hanya
ada sekuntum
bunga.
Di tahun 1970-an,
mulai
ada gelung
di atas
rambut
penari. Setelah
itu
muncul busana
penari
joged yang mengambil
busana
penari Legong.
Tanpa
lagi memakai
kebaya,
di leher
penari
ada badong
dan di
tangan
penari ada
gelangkana.
Busana
seperti ini
berkembang
terus,
sehingga makin
rancu yang
mana
penari Legong, yang
mana
penari joged,
bahkan
dalam upacara
seperti
potong gigi,
misalnya, yang
mana pula
remaja yang
akan
potong gigi.
Semua
busananya hampir
sama.
Penari
joged
ke pentas
dunia,
perlu mempertimbangkan
busana
ini. Karena
ini
sifatnya tari
pergaulan
dan
tentu saja
ada
pengibing nantinya,
busana
sebaiknya tidak ''gemerlap''
dengan
pernak-pernik tari
Legong.
Busana seperti
ini
sama sekali
tidak
sinkron dengan ''pakaian
modern'', seperti
jas.
Masalahnya
adalah,
kalau hanya
memakai
kain kemben
dan
kebaya biasa
saja,
lalu di
mana
kekhasan Bali yang muncul?
Bukankah
busana
seperti itu
juga
ada di
Jawa,
Sunda dan
lainnya?
Lagi-lagi
kita
harus kreatif
membuat
jenis kebaya,
siapa
tahu di
kalangan
perancang mode,
ditemukan
adanya ''kebaya
khas Bali''.
Lagi pula
hiasan
di rambut
tentu
bisa dibuat
dengan
khas Bali, termasuk
memilih
bunga. Bukankah pula
Bali
terkenal
dengan
berbagai jenis
pusungan (sanggul),
baik
dengan rambut
asli
maupun paslu?
Jadi,
joged go international ini
betul-betul
mencerminkan
budaya
adiluhung Bali. *
Putu
Setia