Melebur ''Mala'', Sucikan Diri di Pura Selukat
Ketenangan dan kedamaian hati, pikiran serta jiwa adalah
yang paling dicari oleh umat manusia di jagat raya ini.
Bahkan kedua hal tersebut di atas, kini sampai dicari
oleh orang hingga rela mengeluarkan biaya besar untuk
melakukan perjalanan tirtayatra ke negeri seberang.
Namun, semua itu kembali kepada rasa, yang tak terlepas
dari keyakinan dari seorang untuk melebur segala mala
dan menyucikan diri untuk memperoleh ketenangan dan
kedamaian dalam hidup.
===========================================================
Seperti halnya dengan Pura Selukat. Ketenangan dan
kedamaian mengalir bagi umat Hindu yang datang ke pura
tersebut untuk melukat segala mala dan menyucikan diri.
Air kehidupan begitu mengalir secara alami dari dalam
bumi ke permukaan. Mereka datang dengan ketulusan hati
ke Pura Selukat, mencari ketenangan hati dan pikiran
serta kedamaian jiwa.
Mereka datang mencakupkan tangan serta melukat di Pura
Selukat untuk menyucikan diri dari segala mala. Tidak
hanya terbatas pada kelas sosial, mereka yang datang
melukat di Pura Selukat juga atas petunjuk untuk bisa
sembuh dari penyakit yang dideritanya. Seorang rohaniwan
maupun pendeta juga tak luput untuk melukat di pura
petirtaan yang ada di alur Sungai Pakerisan.
Tidak hanya untuk masyarakat umum, orang-orang yang
belajar ilmu kebatinan, bahkan para pejabat daerah
dan mantan pejabat negara kerap kali datang untuk
melukat dan memohon anugerah kepada Ida Barata Selukat.
''Mereka yang datang ke Pura Selukat mempunyai tujuan
masing-masing dengan cara sembahyang serta melukat,''
ungkap Mangku Gede Masceti yang ngayah di Pura Selukat.
Meski bangunan pura tidak begitu luas, namun tak
memperkecil makna dari kebesaran Ida Hyang Widhi Wasa
dalam berbagai manifestasinya sebagai Tri Murti. Pura
Selukat berada di areal persawahan Subak Tuas, Desa
Keramas, Blahbatuh, Gianyar. Luasnya kira-kira sekitar 8
are terbagi dalam Tri Mandala, yakni jaba sisi, jaba
tengah dan jeroan. Pada Utama Mandala (jeroan) terdapat
bangunan Padmasana sebagai stana Hyang Widhi, Gedong
Penyimpenan dan sepasang arca pendeta.
Di bagian jaba tengah (madya mandala) hanya terdapat
sebuah Gedong yang di dalamnya terdapat pancuran yang
merupakan saluran dari sumber mata air di Pura Selukat.
Dalam Gedong Patirtaan tersebut adalah sumber air
patirtaan terdiri atas tiga sumber, dari barat, utara
dan timur. Sedangkan di bagian jaba sisi terdapat
bangunan Pesandekan (peristirahatan) serta dua pancuran
yang sumber airnya berasal dari dalam gedong untuk
melukat warga yang datang ke Pura Selukat.
Kebiasaan warga setempat bahwa setiap ingin melukat di
Pura Selukat tidak serta merta langsung begitu saja
masuk ke jeroan. Meski telah dilengkapi dengan sesaji
disertai dengan berbusana adat untuk sembahyang,
perjalanan melukat diawali dengan terlebih dahulu
membersihkan diri (mandi) di tepian Sungai Solas Sowan,
yang berada di sebelah timur pura. Usai mandi baru
dilakukan pangelukatan oleh pemangku dengan air yang
berasal dari dalam gedong untuk selanjutnya dituntun
masuk ke jeroan. Di tempat ini, dilakukan
persembahyangan memohon untuk dihapuskan segala mala
yang ada di dalam dirinya.
Kata ''selukat'', menurut salah satu tokoh Puri Keramas
yang juga sebagai penulis I Gusti Agung Wiyat S. Ardhi,
berasal dari kata ''Sulukat'' -- ''Su'' berarti baik dan
''lukat'' berarti penyucian -- tempat menyucikan diri
guna memperoleh kebaikan, kerahayuan. Pura Selukat ini
diyakini mampu membersihkan diri seseorang secara
niskala, sanggup menghilangkan segala penyakit. Mereka
yang datang ke Pura Selukat adalah mereka yang sedang
dirajam penyakit seperti bebai, pikiran yang kalut/kacau,
dan sebagainya.
Mangku Gede Masceti menambahkan, keberadaan Pura Selukat
sebagai tempat untuk melukat segala mala, khususnya
penyakit tercantum dalam Usada Bebai. Mereka yang
terkena penyakit ini menggunakan tirtha selukat beserta
tirtha sudamala yang disertai dengan tirtha pendukung
lainnya yang jumlahnya sebanyak 11 tirtha.
Warga yang datang untuk melukat di Pura Selukat dalam
hal ini tidak ada sesaji khusus. Hanya, jika tujuannya
sebatas menyucikan diri, memohon keselamatan, cukup
membawa banten pejati. Namun, jika pernah sakit atau
sedang dalam proses penyembuhan, selain membawa pejati
juga ditambah sesaji yang disebut tebasan pelukatan.
Di samping untuk membersihkan diri dari segala mala,
Pura Selukat juga menyimpan kekuatan lain. Pura Selukat
yang kini banyak didatangi oleh warga dari luar Gianyar
ini, juga mampu memberikan anugerah taksu pada keahlian
seseorang. Kebanyakan taksu mengalir dari Pura Selukat
merupakan taksu seniman. Namun hal tersebut tidak
terlepas dari sebagaimana yang diinginkan oleh warga
yang datang ke Pura Selukat.
Dalam cermatan Agung Wiyat S., keberadan Pura Selukat
dalam hal ini seakan menjadi tempat persembahyangan
wajib bagi para seniman yang tumbuh di daerah setempat.
Keterikatan para penggiat seni dengan pura yang
berlokasi di tepian Sungai Solas Sowan ini bukan
semata-mata dikarenakan lokasi pura yang berada dalam
satu desa. Para seniman yang ada sangat percaya Ida
Batara yang berstana di Pura Selukat mampu memberikan
anugerah taksu sehingga kesenian yang digeluti menjadi
hidup, bertenaga dan berkarisma. Sehingga dari desa ini
menetas puluhan penggelut seni teater Bali (Arja),
seperti I Monjong yang namanya tentu kini masih dikenang
penggemar Arja di Bali.
Ada juga yang tujuan lainnya. Mereka yang sebelum
membangun kelompok kesenian, biasanya warga tangkil ke
Pura Selukat, seakan meminta petunjuk. Setelah terbentuk,
mereka kembali lagi ke pura untuk menyatakan permakluman
serta kesungguhan hati. Setelah mendapatkan
penganugerahan, para seniman ini biasanya juga ngadegang,
melakukan pemujaan khusus ke hadapan Ida Batara Selukat
di rumahnya masing-masing. Dari sana nantinya mereka
akan memohon izin kepada Beliau sebelum akhirnya
berangkat pentas.
Selain seniman di Keramas, banyak pula seniman di luar
desa bahkan Gianyar yang datang untuk memohon taksu di
Pura Selukat. Termasuk para pejabat daerah. Seperti
halnya beberapa waktu lalu, salah satu kandidat calon
bupati maupun gubernur mendatangi Pura Selukat memohon
penyucian diri dan anugerah.
Keberadaan Pura Selukat dalam angka tahun sama sekali
tidak diketahui. Dari berbagai sumber menyebutkan,
adanya nama Pura Selukat ini selain terdapat dalam Usada
Bebai, juga terdapat dalam Kesuma Dewa dan Pura Keramas.
Dalam Kesuma Dewa di mana disebutkan dalam kaitannya Ida
Batara Sakti Gunung Lebah Gunung Agung dalam hal
mamijilkan tirtha terebesan danau disebutkan Tirtha
Telaga Waja, Tirtha Selukat dan tirtha yang ada di
tengah segara. ''Di sana hanya disinggung kalimat
selukat sedikit,'' katanya.
Namun dalam Purana Keramas disebutkan bahwa Pura Selukat
dikenal dengan sebagai sumber air kehidupan. Pura ini
diperkirakan ditemukan hampir bersamaan dengan Pura
Masceti, oleh I Gusti Agung Maruti. Saat meninggalkan
Cau Rangkan (Jimbaran), menuju arah timur laut yang
diiringi 1.100 pasukan tiba di suatu tempat dan
menemukan bebaturan, berlokasi di dalam hutan, dekat
dengan pantai yang kini dinamakan Pura Masceti.
Setelah mengaturkan bakti kepada Ida Batara yang
berstana di tempat suci tesebut, beliau yang mendapatkan
petunjuk kemudian melanjutkan perjalanan menelusuri
hutan yang lebat ke arah barat laut. Dalam perjalanan,
kawasan perbukitan di pinggir Sungai Pakerisan ditemukan
sumber air. Air ini kemudian dipergunakan sebagai sarana
membersihkan diri beserta dengan iringan pasukannya.
Usai masucian, beliau beserta dengan iringan pasukannya
menyusuri tepian Sungai Pakerisan. Ternyata terdapat 10
sumber mata air lainnya ditemukan sebelum akhirnya I
Gusti Agung Maruti sampai di sebuah desa yang kini
disebut Desa Keramas.
Sejak ditemukannya sumber mata air tersebut, kini warga
di desa tersebut banyak memanfaatkan sumber air Selukat
untuk keperluan penyucian diri, mengheningkan pikiran.
Lambat laun, keberadaan Pura Pancoran Selukat -- sebut
orang di sana -- kini banyak didatangi oleh orang-orang
dari Tabanan, Denpasar, Bangli dan sejumlah daerah
lainnya yang ada di Bali. Ketenaran pura semakin
bertambah ketika dibuka Jalan IB Mantra. Mereka yang
ingin tangkil dari luar daerah lebih gampang mencari air
kehidupan untuk ketenangan dan kedamaian hati, pikiran
serta jiwa, dan anugerah taksu dalam kehidupan. (dar)