Pura
Selukat
Simbol
Penyucian
Jnyanam
tapo ''gniraharaumrin
manovaryupajanam
vayuh
kamarkakalau
ca sudheh
krtrini
dehinam
Manawa Dharmasastra, V.105).
Maksudnya:
Yang merupakan
sarana
penyucian bagi
makhluk
hidup adalah
ilmu
pengetahuan, kesucian
api,
makanan suci,
pertiwi,
pengendalian
pikiran, air
bhasma,
angin, upacara
suci,
matahari dan sang
waktu.
PENGERTIAN
penyucian
dalam
hal ini
adalah
suci secara
jasmani
dan rohani.
Suci
secara rohani
adalah
proses untuk
menghilangkan
pengaruh
klesa
dalam diri
manusia.
Klesa
artinya kotor.
Klesa
itu ada lima
yaitu
Awidya artinya
kegelapan
jiwa
karena merasa
pintar,
kaya, muda,
kuat,
bangsawan, cantik
atau
ganteng. Asmita
mementingkan
diri
sendiri, Raga mementingkan
pengumbaran
hawa
nafsu, Dwesa
adalah
benci dan
dendam,
Abhiniwesa adalah
rasa
takut. Kalau lima
klesa
itu mendominasi
hidup
seseorang, maka
hidup
tersebutlah yang disebut
hidup yang
kotor.
Untuk
membersihkan
diri
dari kekotoran
karena
kekuasaan lima klesa
itu
tidaklah mudah.
Amat
dibutuhkan suatu
keyakinan
bahwa
melawan klesa
itu
adalah suatu
perilaku yang
direstui
Tuhan.
Untuk menguatkan
mental dan moral
membersihkan
diri
itu umat
seyogianya
memohon
tuntunan Tuhan. Hal
inilah
nampaknya yang menjadi
dasar
pemikiran leluhur
umat Hindu
di Desa
Keramas,
Blahbatuh,
Gianyar
mendirikan Pura
Selukat
di tengah
sawah
di Subak
Tuas.
Pura
ini
adalah untuk
memuja
Tuhan dalam
manifestasinya
sebagai
pemberi anugerah
pangelukatan
dengan
simbol Tirtha
Pangelukatan.
Karena
dalam berbagai
susastra Hindu
penyucian
tersebut
dapat
menggunakan berbagai
sarana.
Seperti pertiwi,
agni,
surya, upacara
suci,
dsb. Tetapi
dalam
Bhuwana Kosa
penyucian yang paling
utama
dengan Jnyana
atau
ilmu pengetahuan
suci.
Kalau Jnyana
ini
diterapkan dengan
tepat
untuk menguatkan
cinta
kasih kepada
Tuhan (Dewa
Abhimana),
kepada
kebenaran dan
kewajiban
suci (Dharma
Abhimana)
dan
cinta pada
tanah
kelahiran dalam
wujud
pengabdian pada
tanah air (Desa
Abhimana).
Di
Pura
Selukat ada
dua
Arca Pandita.
Arca
ini nampaknya
untuk
mengingat akan
fungsi
pandita untuk
menuntun
umat
dalam mendalami
ajaran yang
terdapat
dalam
pustaka suci.
Sebagai
penuntun umat
dalam
mendalami isi
pustaka
suci pandita
disebut
acarya. Sedangkan
pandita yang
ngaloka
pala sraya
menuntun
dalam
bidang upacara
yadnya
disebut Srotria.
Dua
fungsi pandita
inilah yang
nampaknya
disimbolkan
oleh
Arca Pandita
di Pura
Selukat
tersebut.
Dua
fungsi
pandita dalam
menuntun
masyarakat
inilah yang
terkait
dengan kehidupan
sosial
religius. Kalau
pandita
tersebut sudah
mencapai
tingkat
sanyasin, menurut
ketentuan
Agastia
Parwa tidak
dibenarkan
lagi
untuk berkecimpung
dalam
kehidupan masyarakat.
Sanyasin
artinya
melepaskan diri
dari
kehidupan duniawi
sama
sekali. Yang menjadi
perhatian
hanyalah
patilaring
Atma
tanupa guruken.
Artinya
hanya belajar
terus
untuk melepaskan
Atma
dari badan
sarira-nya.
Pura
Selukat
adalah pura
untuk
menuntun masyarakat
luas. Hal
ini
sebagai dasar
mengapa
hanya ada
dua
Arca Pandita
di Pura
Selukat
tersebut. Di
samping
itu tuntunan
pandita
sebagai Adi Guru
Loka
adalah menuntun
umat
untuk mendapatkan
tuntunan
hidup
duniawi dan
rohani
atau dalam
kehidupan
sekala
dan niskala.
Fungsi
utama
Pura Selukat
adalah
sebagai media untuk
memohon
tirtha pangelukatan
pada
Tuhan untuk
menyucikan
kehidupannya
di bumi
ini.
Tuhan sebagai
dewanya
tirtha pangelukatan
adalah
Ganesa. Fungsi
Ganesa
adalah sebagai
Wighnaghna
Dewa
atau Wighneswara
dan
Winayaka Dewa.
Tuhan
dipuja sebagai
Wighnaghna
Dewa
adalah untuk
mendapatkan
keyakinan
dalam
melawan halangan
hidup yang
berasal
dari luar
diri
manusia.
Dengan
memuja
Batara Gana
diyakini
kehidupan
di bumi
ini
akan terlindungi
dari
berbagai serangan
dari
luar diri
manusia.
Sedangkan
tirtha
pebersihan untuk
melawan
gangguan hidup yang
berasal
dari dalam
diri.
Tirtha pebersihan
simbol
kekuatan Dewa
Siwa.
Dalam mitologi Hindu
Dewa
Siwa adalah ayah
dari
Dewa Ganesha.
Ini
menggambarkan bahwa
musuh yang
berada
dalam diri
manusia
itu jauh
lebih
kuat daripada
musuh yang
berada
dari luar
diri.
Dalam
kekawin
Nitisastra dinyatakan:
Norana
satru mengelwihaning
hana
geleng ri
hati.
Artinya, tidak
ada
musuh yang melebihi
musuh yang
ada
dalam diri.
Inilah
logikanya mengapa
dewa
dari tirtha
pangelukatan
adalah
Batara Gana. Hal
itu
sebagai tuntunan
untuk
memotivasi umat agar
jangan
menganggap remeh
musuh yang
berada
dalam diri.
Karena
musuh dalam
diri
diyakini jauh
lebih
kuat daripada
musuh
dari luar
diri
karena itu
Tuhan yang
dipuja
dalam menciptakan
tirtha
pebersihan adalah
Batara
Siwa.
Sementara
tirtha
pangelukatan adalah
Batara
Gana. Batara
Gana di
samping
sebagai Wigheswara
juga
sebagai Dewa
Winayaka.
Dewa
Winayaka itu
adalah
Tuhan dalam
manifestasinya
sebagai ''Dewa
Kebijaksanaan''.
Winayaka
artinya
bijaksana. Bijaksana
itu
suatu langkah yang
dilakukan
oleh
indria yang sehat
dikendalikan
oleh
kecerdasan pikiran
dengan
kendali kesadaran
budhi.
Dalam keadaan
seperti
itulah kesucian Atman
dapat
diwujudkan.
Tujuan
manusia
lahir ke
dunia
ini adalah
menjadikan
badan
atau sarira
ini
sebagai alat
untuk
mencapai empat
tujuan
hidup. Hal ini
dinyatakan
dalam Brahma
Purana 45.228. Dharma,
Artha,
Kama,
Mokshanam
sarira
sadhanam. Artinya
badan (sarira)
ini
hendaknya dijadikan
alat
untuk mendapatkan
Dharma, Artha,
Kama
dan
Moksha. Untuk
mendapatkan
kondisi yang
dapat
mendorong manusia
bijaksana
diperlukan
upaya
penyucian diri.
Penyucian
diri
itu meliputi
membangun
kesehatan
fisik yang
menyentuh
kesepuluh
alat
indria. Selanjutnya
membangun
kecerdasan
pikiran
dengan pengembangan
ilmu
pengetahuan. Dalam
sloka Manawa
Dharmasastra yang
dikutip
di atas
adalah
makanan suci
sebagai
salah satu
sarana
penyucian diri
untuk
membangun kesehatan
alat-alat
indria.
Sedangkan ilmu
pengetahuan yang
disebut
Jnyana itu
sebagai
sarana untuk
penyucian
diri yang
pertama.
Bhuwana
Kosa
menyatakan olmu
pengetahuan
itu
sarana penyucian yang
paling utama.
Jadinya
tirtha pangelukatan
dari
Pura Selukat
itu
memiliki makna yang
multidimensi
dalam
membangun hidup yang
suci
sebagai dasar
membangun
masyarakat
suci.
* I Ketut
Gobyah