kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 5 April 2008

 Ekuin

 

Harga Kertas Melangit,Penerbit pun Menjerit

Jakarta (Bali Post) -
Harga
kertas koran standar keluaran PT Aspex Kumbong yang mengalami kenaikan rata-rata 13,5% atau sebesar 95 dolar AS/metrik ton (mt), dari 705 dolar AS/mt menjadi 800dolar AS/mt pada 1 April 2008 lalu, kini mulai berdampak pada para penerbit suratkabar di Indonesia.

Salah satu dampak tingginya harga itu adalah munculnya kelangkaan kertas di pasaran, sehingga para penerbit sulit memperoleh kertas dengan harga terjangkau. Kini, harga kertas di pasaran sepenuhnya dikendalikan oleh pabrikan kertas terbesar di Indonesia, PT Aspex Kumbong, yang secara rata-rata memproduksi 35 ribu ton per bulan.

Dari kapasitas produksi sebanyak itu, Aspek hanya mengalokasikan sekitar 8 ribu ton untuk kebutuhan domestik. Total kebutuhan kertas koran untuk para penerbit pers di dalam negeri saat ini diperkirakan rata-rata 17 ribu ton per bulan. Sisa dari pemenuhan kebutuhan domestik itu dipasok oleh PT Adiprima Surya Printa, PT Tulung Agung, PT Gede Karang.

Menyikapi perkembangan mutakhir tersebut, Jumat (4/4) kemarin, Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat mengadakan pertemuan yang dihadiri pengurus dan sejumlah perwakilan penerbit suratkabar di Jakarta.  Ada beberapa kesimpulan yang dihasilkan pada pertemuan yang berlangsung selama hampir 1,5 jam tersebut. Pertama, SPS  Pusat akan melakukan studi mengenai kecenderungan terjadinya praktik monopoli dalam menentukan harga kertas koran yang dilakukan PT Aspex Kumbong. Kedua, SPS Pusat akan mendorong agar pabrikan kertas koran lokal di luar Aspex dan Adiprima bisa meningkatkan kapasitas produksi kertas koran mereka, untuk memenuhi kebutuhan penerbit. Ketiga, SPS Pusat menyarankan kepada para penerbit koran di seluruh Indonesia untuk mempertimbangkan kenaikan harga langganan dan harga iklan. Dan terakhir, SPS Pusat akan menjajaki kemungkinan impor kertas koran.

Sebagai leading market dalam industri kertas koran, posisi Aspex Kumbong memang menjadi penguasa pasar. ''Bagaimana pun kita harus tetap terbit, meskipun harga kertas mengalami gejolak yang luar biasa. Oleh sebab itu, kenaikan harga langganan dan eceran menjadi salah satu bahan pertimbangan yang strategis. Kami ingin memastikan apakah betul Aspex Kumbong melakukan monopoli harga kertas koran. Jika memang benar adanya, maka mereka bisa dikenakan pasal-pasal dalam UU No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli & Persaingan Usaha Tidak Sehat,''  tegas M Ridlo 'Eisy, Ketua Harian SPS Pusat.

Untuk mengongkretkan situasi inilah, SPS Pusat menetapkan untuk membentuk sebuah tim yang bertugas melakukan studi dan telaah atas kecenderungan monopoli pada industri kertas koran. Tim itu dipimpin oleh Leo Batubara dengan Wakil Ketua Amir Effendi Siregar. ''Apa pun kami akan terus memperjuangkan agar kenaikan harga kertas koran ini bisa direm sekuat tenaga, supaya tidak semakin mematikan kinerja para penerbit suratkabar di Indonesia,'' pungkas Leo Batubara. (r)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)