kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 27 April 2008 tarukan valas
 

OPINI


Kultur Brahmana dan Ksatria

SETIAP detik dari televisi terpancar suasana kehidupan bangsa dan negara bercita rasa nano-nano -- asam, manis, sepat, pedas dan asin. Didominasi gaya hidup konsumtif dan hura-hura kaum selebriti, ditambah ulah para politisi narsistik, kelaparan, kemiskinan dan kriminalitas, juga kerusuhan berlatar multidimensional melengkapi wajah Indonesia. Para mahasiswa saling gebuk antarsesama, suasana  "perang semua lawan semua" antara pendukung politik dalam Pilkada, sementara AIDS, H5N1, DBD dan muntaber mengirim rakyat miskin ke liang lahat. Ironisnya, di tengah-tengah akumulasi tragedi, terdengar teriakan santer "Membela Rakyat!", padahal definisi "rakyat" kian kabur saja.

"Mungkin ini yang dimaksud Daniel Bell dengan 'matinya ideologi' dan Francis Fukuyama menyebutnya 'the end of history'. Bahkan Paul Heelas menyindir kondisi masyarakat kontemporer dengan 'the end of religion'. Karena, tujuan dari lahirnya agama, menurut Heelas, telah dicaplok kepentingan-kepentingan individual, yang malah tidak segan-segan menyeret agama ke wilayah politik. Ada yang menyebut diri sebagai pembela agama, bahkan Tuhan, lalu melakukan tindakan anarkhis terhadap harta dan nyawa pihak lain. Tragisnya, kampus-kampus yang konon dihuni mahluk-mahluk penganalisis dan penalar, belakangan ini menampilkan kecendrungan 'bellum omnium contra omnes' atau serigala memangsa serigala," papar Rubag.

"Pramoedya Ananta Toer pernah mengandaikan negeri ini seperti 'pasar malam', dimana yang datang ke dunia atau lahir satu per satu, namun pergi atau mati secara rombongan akibat bencana alam, kerusuhan dan wabah penyakit. Ada pemandangan mengerikan di televisi Kamis malam lalu.  Segerombol murid SMU, seusai Ujian Nasional di Depok Jawa Barat menghadang bus dan angkot di jalan raya, yang diduga mengangkut musuh-musuh mereka, pelajar dari sekolah lain. Kendaraan yang tidak mau berhenti dipukul dan dilempar dengan berbagai senjata tajam dan batu. Wah, negeri ini sudah seperti tidak dikawal hukum," kata Lambot.

"Benar! Peristiwa memprihatinkan seperti itu sepertinya menjadi menu informasi setiap hari. Mahasiswa satu almamater beda fakultas, gara-gara pertandingan olahraga atau masalah sepele lainnya, terlibat tawuran mati-matian. Brutalitas mereka menyamai adegan perang antara suku Indian, Apache versus Commanche yang baku panah dan saling kapak seperti dalam film 'Wild Wild West' versi Hollywood. Padahal, nyaris di setiap halaman depan kampus terpampang baliho besar bertuliskan 'Tri Dharma Perguruan Tinggi' yang mengurai tugas-tugas pokok insan-insan yang diberi julukan 'civitas akademika'. Syukur, naluri barbar seperti itu belum menjangkiti para mahasiswa dan pelajar di Bali," ujar Kudil.

"Mudah-mudahan! Biarlah para mahasiswa Bali dianggap kuno, bila yang disebut modern dan seturut zaman tidak lebih dari barbarisme. Aku juga tidak merasa kecewa bila sedikit kontestan dari Bali berhasil menjadi juara kompetisi tarik suara, apalagi yang dijadikan kriteria juara cuma jumlah perolehan SMS. Bahkan aku tidak keberatan kalau orang Bali dikatakan ketinggalan dalam demokrasi, kalau yang disebut demokrasi adalah jumlah korban yang dirawat di rumah sakit akibat kerusuhan, banyaknya gedung terbakar atau dirusak setelah pesta demokrasi. Biarlah guru agama Hindu dikatakan alami paceklik di Bali, selama tidak ada bentrokan akibat perbedaan keyakinan, karena masalah agama adalah urusan privat, yang tidak seharusnya diseret ke ruang publik, apalagi untuk mendiskriminasi kaum minoritas," kilah Lonjong.

"Satu hal yang tidak bisa kumengerti, kenapa Bali yang sering dihujat sebagai tempat maksiat lantaran para wisatawan asing berseliweran berbusana minim di objek-objek wisata dan wanitanya mandi matahari bertelanjang dada di pantai, kini laris dijadikan tempat pertemuan, ya? Bukan hanya konferensi internasional membahas masalah perubahan cuaca, HAM, korupsi serta pencucian uang, malah partai-partai politik, baik yang berazaskan agama maupun nasionalis, pada ramai-ramai ber-Munas-ria di Bali.  Lucunya, ada kelompok agama tertentu yang minoritas, dikejar-kejar di daerah lain dan dituntut untuk dibubarkan, malah cukup puas bisa melaksanakan pertemuan di Bali meski cuma dua jam. Akhir bulan ini, konon, sebuah parpol yang lagi di ambang perpecahan, salah satu kelompoknya akan melakukan pertemuan luar biasa di Pulau Dewata ini, hebat nggak?" ujar Lanying.

"Itulah yang disebut berkah di balik musibah! Musibah dua kali bom teroris yang mengguncang tatanan politik, sosial dan ekonomi rakyat Bali, tidak disikapi seperti motto kaum Kangouw versi Kho Ping Ho, yang berbunyi 'nyawa dibayar nyawa atau darah dibayar darah'. Bom pertama 12 Oktober 2002 disambut dengan upacara Karippu Baya di Kuta. Bom kedua 1 Oktober 2005 disambut upacara Mapekelem di pantai Jimbaran," komentar Rubag sembari menyambar segelas air, selanjutnya berkata,

"Hasilnya, sebagian besar teroris teringkus dan tewas, meski salah seorang otaknya Nurdin M. Top masih gentayangan, tapi kebanyakan orang Bali percaya, lewat doa cepat atau lambat dia akan menyusul nasib rekan sebangsanya Dr. Azahari. Soal para teroris yang belum tereksekusi dan perkaranya ditarik-tarik seperti karet, membuktikan bahwa sebenarnya semua manusia dibekali rasa takut, terutama pada kematian, meski saat ngebom mengaku bernyali macan. Masalah ini, bagiku, tidak perlu disikapi secara emosional. Serahkan saja urusannya pada niskala atau Dewa Pematut! Biarkanlah mereka hidup lebih lama dengan menanggung rasa malu, itu pun kalau masih punya."

"Setuju! Aku masih simpan esai Suka Hardjana yang dimuat sebuah koran terbitan Jakarta, edisi 23 Oktober 2005 berjudul 'Kere'. Dia menulis, 'Orang Bali tak akan serta merta jadi kere hanya karena diguncang bom beberapa kali. Kultur mereka adalah kultur Brahmana dan Ksatria yang tidak akan langsung ambruk jadi kere, kendati dibom tiga kali sehari oleh para penyanjung ideologi kekerasan bermental kere. Suka Hardjana bukan orang Bali, namun kukira, dia tahu bahwa rakyat pulau ini pernah berkali-kali melakukan puputan atau perang habis-habisan melawan penjajah asing. Dengan kultur Brahmana dan Ksatria, orang Bali tidak terlalu bodoh untuk terpancing dalam perang saudara, yang justru diniatkan anasir-anasir asing untuk mem-Balkanisasi negeri ini," papar Lonjong.

"Mudah-mudahan pujian kolumnis tersebut tidak membuat kau jadi megalomania! Dulu, rekor keamanan dan kenyamanan Bali sempat dibanggakan, namun Amrozy dkk. memecahkannya dengan bom. Aku yakin, karena kekuatan niskala, pengusutan dua kali Bom Bali lebih cepat dituntaskan dibanding Tragedi 11 September 2001 WTC New York, yang pemecahannya cuma mengandalkan teknologi dan inteligensi. Tapi bom-bom akibat ledakan sosial, ekonomi dan politik, menurut pakar sosiologi, jauh lebih hebat dampaknya dibanding Semtex, RDX, PETN, C 4 dan TNT. Apalagi kini, demam demokrasi menjangkiti sebagian masyarakat. Virus politik, yang lebih tepat disebut demosklerosis itu, disebarkan para politisi narsistik yang mencintai diri secara berlebihan, mengumpulkan popularitas lewat pencitraan dan kedermawanan semu tanpa visi Indonesia Raya," kata Rubag.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com