Kultur Brahmana dan Ksatria
SETIAP detik dari televisi terpancar suasana
kehidupan bangsa dan negara bercita rasa nano-nano -- asam, manis,
sepat, pedas dan asin. Didominasi gaya hidup konsumtif dan
hura-hura kaum selebriti, ditambah ulah para politisi narsistik,
kelaparan, kemiskinan dan kriminalitas, juga kerusuhan berlatar
multidimensional melengkapi wajah Indonesia. Para mahasiswa saling
gebuk antarsesama, suasana "perang semua lawan semua" antara
pendukung politik dalam Pilkada, sementara AIDS, H5N1, DBD dan
muntaber mengirim rakyat miskin ke liang lahat. Ironisnya, di
tengah-tengah akumulasi tragedi, terdengar teriakan santer
"Membela Rakyat!", padahal definisi "rakyat" kian kabur saja.
"Mungkin ini yang dimaksud Daniel Bell dengan 'matinya ideologi'
dan Francis Fukuyama menyebutnya 'the end of history'. Bahkan Paul
Heelas menyindir kondisi masyarakat kontemporer dengan 'the end of
religion'. Karena, tujuan dari lahirnya agama, menurut Heelas,
telah dicaplok kepentingan-kepentingan individual, yang malah
tidak segan-segan menyeret agama ke wilayah politik. Ada yang
menyebut diri sebagai pembela agama, bahkan Tuhan, lalu melakukan
tindakan anarkhis terhadap harta dan nyawa pihak lain. Tragisnya,
kampus-kampus yang konon dihuni mahluk-mahluk penganalisis dan
penalar, belakangan ini menampilkan kecendrungan 'bellum omnium
contra omnes' atau serigala memangsa serigala," papar Rubag.
"Pramoedya Ananta Toer pernah mengandaikan negeri ini seperti
'pasar malam', dimana yang datang ke dunia atau lahir satu per
satu, namun pergi atau mati secara rombongan akibat bencana alam,
kerusuhan dan wabah penyakit. Ada pemandangan mengerikan di
televisi Kamis malam lalu. Segerombol murid SMU, seusai
Ujian Nasional di Depok Jawa Barat menghadang bus dan angkot di
jalan raya, yang diduga mengangkut musuh-musuh mereka, pelajar
dari sekolah lain. Kendaraan yang tidak mau berhenti dipukul dan
dilempar dengan berbagai senjata tajam dan batu. Wah, negeri ini
sudah seperti tidak dikawal hukum," kata Lambot.
"Benar! Peristiwa memprihatinkan seperti itu sepertinya menjadi
menu informasi setiap hari. Mahasiswa satu almamater beda
fakultas, gara-gara pertandingan olahraga atau masalah sepele
lainnya, terlibat tawuran mati-matian. Brutalitas mereka menyamai
adegan perang antara suku Indian, Apache versus Commanche yang
baku panah dan saling kapak seperti dalam film 'Wild Wild West'
versi Hollywood. Padahal, nyaris di setiap halaman depan kampus
terpampang baliho besar bertuliskan 'Tri Dharma Perguruan Tinggi'
yang mengurai tugas-tugas pokok insan-insan yang diberi julukan
'civitas akademika'. Syukur, naluri barbar seperti itu belum
menjangkiti para mahasiswa dan pelajar di Bali," ujar Kudil.
"Mudah-mudahan! Biarlah para mahasiswa Bali dianggap kuno, bila
yang disebut modern dan seturut zaman tidak lebih dari barbarisme.
Aku juga tidak merasa kecewa bila sedikit kontestan dari Bali
berhasil menjadi juara kompetisi tarik suara, apalagi yang
dijadikan kriteria juara cuma jumlah perolehan SMS. Bahkan aku
tidak keberatan kalau orang Bali dikatakan ketinggalan dalam
demokrasi, kalau yang disebut demokrasi adalah jumlah korban yang
dirawat di rumah sakit akibat kerusuhan, banyaknya gedung terbakar
atau dirusak setelah pesta demokrasi. Biarlah guru agama Hindu
dikatakan alami paceklik di Bali, selama tidak ada bentrokan
akibat perbedaan keyakinan, karena masalah agama adalah urusan
privat, yang tidak seharusnya diseret ke ruang publik, apalagi
untuk mendiskriminasi kaum minoritas," kilah Lonjong.
"Satu hal yang tidak bisa kumengerti, kenapa Bali yang sering
dihujat sebagai tempat maksiat lantaran para wisatawan asing
berseliweran berbusana minim di objek-objek wisata dan wanitanya
mandi matahari bertelanjang dada di pantai, kini laris dijadikan
tempat pertemuan, ya? Bukan hanya konferensi internasional
membahas masalah perubahan cuaca, HAM, korupsi serta pencucian
uang, malah partai-partai politik, baik yang berazaskan agama
maupun nasionalis, pada ramai-ramai ber-Munas-ria di Bali.
Lucunya, ada kelompok agama tertentu yang minoritas, dikejar-kejar
di daerah lain dan dituntut untuk dibubarkan, malah cukup puas
bisa melaksanakan pertemuan di Bali meski cuma dua jam. Akhir
bulan ini, konon, sebuah parpol yang lagi di ambang perpecahan,
salah satu kelompoknya akan melakukan pertemuan luar biasa di
Pulau Dewata ini, hebat nggak?" ujar Lanying.
"Itulah yang disebut berkah di balik musibah! Musibah dua kali bom
teroris yang mengguncang tatanan politik, sosial dan ekonomi
rakyat Bali, tidak disikapi seperti motto kaum Kangouw versi Kho
Ping Ho, yang berbunyi 'nyawa dibayar nyawa atau darah dibayar
darah'. Bom pertama 12 Oktober 2002 disambut dengan upacara
Karippu Baya di Kuta. Bom kedua 1 Oktober 2005 disambut upacara
Mapekelem di pantai Jimbaran," komentar Rubag sembari menyambar
segelas air, selanjutnya berkata,
"Hasilnya, sebagian besar teroris teringkus dan tewas, meski salah
seorang otaknya Nurdin M. Top masih gentayangan, tapi kebanyakan
orang Bali percaya, lewat doa cepat atau lambat dia akan menyusul
nasib rekan sebangsanya Dr. Azahari. Soal para teroris yang belum
tereksekusi dan perkaranya ditarik-tarik seperti karet,
membuktikan bahwa sebenarnya semua manusia dibekali rasa takut,
terutama pada kematian, meski saat ngebom mengaku bernyali macan.
Masalah ini, bagiku, tidak perlu disikapi secara emosional.
Serahkan saja urusannya pada niskala atau Dewa Pematut! Biarkanlah
mereka hidup lebih lama dengan menanggung rasa malu, itu pun kalau
masih punya."
"Setuju! Aku masih simpan esai Suka Hardjana yang dimuat sebuah
koran terbitan Jakarta, edisi 23 Oktober 2005 berjudul 'Kere'. Dia
menulis, 'Orang Bali tak akan serta merta jadi kere hanya karena
diguncang bom beberapa kali. Kultur mereka adalah kultur Brahmana
dan Ksatria yang tidak akan langsung ambruk jadi kere, kendati
dibom tiga kali sehari oleh para penyanjung ideologi kekerasan
bermental kere. Suka Hardjana bukan orang Bali, namun kukira, dia
tahu bahwa rakyat pulau ini pernah berkali-kali melakukan puputan
atau perang habis-habisan melawan penjajah asing. Dengan kultur
Brahmana dan Ksatria, orang Bali tidak terlalu bodoh untuk
terpancing dalam perang saudara, yang justru diniatkan
anasir-anasir asing untuk mem-Balkanisasi negeri ini," papar
Lonjong.
"Mudah-mudahan pujian kolumnis tersebut tidak membuat kau jadi
megalomania! Dulu, rekor keamanan dan kenyamanan Bali sempat
dibanggakan, namun Amrozy dkk. memecahkannya dengan bom. Aku
yakin, karena kekuatan niskala, pengusutan dua kali Bom Bali lebih
cepat dituntaskan dibanding Tragedi 11 September 2001 WTC New
York, yang pemecahannya cuma mengandalkan teknologi dan
inteligensi. Tapi bom-bom akibat ledakan sosial, ekonomi dan
politik, menurut pakar sosiologi, jauh lebih hebat dampaknya
dibanding Semtex, RDX, PETN, C 4 dan TNT. Apalagi kini, demam
demokrasi menjangkiti sebagian masyarakat. Virus politik, yang
lebih tepat disebut demosklerosis itu, disebarkan para politisi
narsistik yang mencintai diri secara berlebihan, mengumpulkan
popularitas lewat pencitraan dan kedermawanan semu tanpa visi
Indonesia Raya," kata Rubag.
* aridus