Mengungkap Fungsi Wayang Sapuh Leger
Judul
: Wayang Sapuh Leger
Penyusun
: I Dewa Ketut Wicaksana
Tebal
: xxviii, 260 halaman
Penerbit
: Pustaka Bali Post
----
TUMPEK
Wayang (yang tahun ini jatuh pada 17 Mei dan 13 Desember)
merupakan hari istimewa bagi umat Hindu di Bali. Jika ada bayi
lahir tepat pada hari itu, konon memiliki sifat-sifat ataupun
bakat istimewa baik negatif maupun positif.
Menurut salah satu kalender Bali, orang yang lahir
pada wuku Wayang memiliki sifat suka disanjung, perintahnya tak
bisa dibantah. Namun, ia juga memiliki pribadi yang halus, pandai
bergaul, tutur bahasanya halus dan menarik. Apakah pernyataan itu
benar, tentu saja jawabannya beragam. Pasalnya, di atas bumi ini,
ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang lahir pada Tumpek Wayang
dipastikan memiliki sifat yang berbeda, tergantung pada
kepercayaan, kultur, bakat, lingkungan dan faktor lainnya.
Bagi umat Hindu di Bali, ada keyakinan bahwa anak
yang lahir pada Tumpek Wayang memiliki sifat-sifat negatif karena
hari itu dianggap memiliki nilai cemer (kotor) yang membawa sial.
Anak tersebut dikhawatirkan dirundung malapetaka, akibat
dikejar-kejar Dewa Kala. Menurut lontar "Sapuh Leger", Dewa Siwa
memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak yang dilahirkan
pada Wuku Wayang.
Untuk memusnahkan sifat-sifat negatif pada anak
tersebut serta menghindari bahaya akibat dikejar-kejar Dewa Kala,
maka ada solusi yang merupakan keyakinan pula, yakni mohon tirta
(air suci) penglukatan atau pengruwatan dari pertunjukan Wayang
Sapuh Leger.
Apakah semua itu bisa dipercaya seratus persen?
Oleh karena hal ini masalah keyakinan, tentu sulit dijawab dengan
pasti. Namun yang jelas, Wayang Sapuh Leger ternyata juga menarik
perhatian orang asing. Dalam buku ini ada dikemukakan, pada tahun
2005, seorang warga Prancis menanggap Wayang Sapuh Leger untuk
upacara kelahiran putranya. Upacara yang digelar di rumah
mertuanya di Baturiti, Tabanan, itu berlangsung khidmat. Apakah ia
menanggap Wayang Sapuh Leger hanya untuk jor-joran ataukah memang
ia yakin bahwa pertunjukan itu dapat menyelamatkan anaknya?
Oleh karena hal ini masalah yang bersifat
irasional, maka sulit dijawab dengan mengemukakan argumenatasi
secara rasional. Timbul juga pertanyaan: mengapa Wayang Sapuh
Leger yang konon dianggap angker, dan penyelenggaraannya paling
berat, sangat mempengaruhi pola pikir umat Hindu di Bali?
Menurut penyusun buku ini, I Dewa Ketut Wicaksana,
tidak banyak orang yang menaruh perhatian untuk membuktikan serta
mencari jawaban atas penyebabnya.
Kenyataan seperti itu, menurut Wicaksana, hanya
diterima begitu saja, tanpa tergelitik untuk menelusuri lebih
jauh, untuk menemukan apa yang terjadi di balik konsep
penyelenggaraan drama ritual tersebut. Itulah sebabnya, ia
tertarik untuk menelusuri, selain ingin mengetahui apa sebenarnya
yang ada di balik pertunjukan Wayang Sapuh Leger, juga ingin
mengkaji fungsi dan makna pertunjukan wayang tersebut dalam
kehidupan sosial budaya masyarakat Bali.
Dari Tesis
Penelitian Wicaksana tertuang dalam tesis yang
dipertahankan di hadapan penguji Program Pascasarjana Universitas
Gajah Mada Yogyakarta pada 1997. Tesis itulah yang kemudian
diterbitkan dalam bentuk buku seperti ini, setelah mengalami
proses editing seperlunya terutama pada masalah teknis.
Secara garis besar, buku ini terdiri dari lima bab.
Bab pertama, Wicaksana menuliskan tentang latar belakang masalah,
mengapa ia tertarik meneliti pertunjukan Wayang Sapuh Leger.
Sebagaimana penulisan tesis pada umumnya, dalam bab ini, Wicaksana
menyodorkan sejumlah teori yang digunakan untuk menjawab
permasalahan.
Dalam bab berikutnya, Wicaksana mengungkap tentang
genre Wayang Sapuh Leger dalam Wayang Kulit Bali, apa latar
belakang dan bagaimana struktur pertunjukan tersebut. Dalam bab
ini juga dikemukakan upacara lukatan yang meliputi sesajen,
mantram-mantram yang dicantingkan dalam upacara tersebut, pelaku
upacara, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dalang dan
Dharma Pedalangan.
Dalam bab selanjutnya, Wicaksana mengungkap
struktur estetik pertunjukan Wayang Sapuh Leger, dan pada bab
empat, ia menganalisis fungsi dan makna pertunjukan seni sakral
tersebut bagi kehidupan masyarakat Bali. Buku ini juga dilengkapi
dengan lampiran mantram-mantram yang berkaitan dengan pementasan
wayang.
Menurut Wicaksana dalam buku ini, secara eksplisit
pertunjukan Wayang Sapuh Leger hanya berfungsi untuk upacara dalam
siklus kehidupan manusia. Namun secara implisit, pertunjukan ini
menyiratkan adanya upacara Panca Yadnya yakni Dewa Yadnya, Pitra
Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya.
Foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini meliputi
pertunjukan wayang kulit Sapuh Leger, bentuk-bentuk sesajen yang
digunakan, dan ada lima dalang yang ditampilkan. Mereka itu empat
dalang dari Gianyar yaitu dalang I Wayan Wija, I Made Sija, I
Gusti Putu Darta, I Wayan Narta dan satu dalang dari Buduk
(Badung) yakni Ida Bagus Puja. Penampilan dalang tersebut dalam
gambar lebih banyak terlihat sedang melakukan upacara ritual.
Buku ini tidak saja penting disimak bagi peminat
budaya, ilmuwan (peneliti), tapi juga bagi umum terutama bagi
mereka yang ingin menekuni dunia pedalangan. Sayang, buku ini
dicetak hitam putih, sehingga foto yang ditampilkan belum
memberikan gambaran yang maksimal. Jika fotonya dicetak berwarna,
serta lebih banyak menampilkan foto wayang Bali, buku ini tentu
saja akan lebih afdol.
* wayan
supartha