Sekuntum Bunga Tunjung yang tak Pernah
Sampai pada Akar Air
Jejak Kupu-kupu tentang Taksu dan Tenget-nya
Tanah Nusa Penida...
KETIKA MATAHARI
bercerita sore pada langit yang menjadi tembaga, sekuntum
bungan cangnging tergelincir dari cabangnya, di kilir angin
yang kehilangan panas. Aku duduk di celabah cubang ini
menunggu malam yang buram tak berpenghuni. Sekuntum bungan
cangnging ini jatuh di pabinanku bersama wangi yang dikirim
oleh angin. Aku tahu, bungan cangnging adalah bunga yang
terusir dari pohon cangnging tua yang tumbuh di bibir bataran
tegalan, tanah berbatu dan berundag-undag, tanah Nusa Penida,
di samping cubang ini.
Dari kelopak bungan cangnging ini, aku
menemukan empat jejak kaki kupu-kupu yang pernah hinggap pada
bunga ini. Kupu-kupu itu datang seperti angin melintasi
samudra, mendaki gunung, hanya untuk hinggap, bukan untuk
menghisap madunya tetapi hanya sekadar singgah untuk menikmati
dan mengagumi warna-warna kelopaknya pada fotosentesis bakti
untuk sinar suci, sinar Tuhan. Bungan cangnging ini adalah
tanah Nusa Panida yang tumbuh menjadi bunga, dan menebarkan
aroma harum ke setiap angin yang dihirup menjadi nafas,
seperti sayap kunang-kurang yang menjadi gemerlip bintang pada
sinar bulan yang belum sampai ke tanah. Aku akan merawat
bungan cangnging ini untuk sebuah cermin yang menyisir
rambutku setelah malam. Di kelopak bungan cangnging ini, aku
dapatkan pipil tentang tanah yang menjadi bunga. Akupun tahu
tentang taksu dan tenget-nya tanah Nusa Penida ini pada pura
yang dibangun dengan identitas bakti leluhurku, leluhur tanah
ini, kepada rahim suci bening yang melahirkan aku dan tanah
ini, bakti untuk Tuhan.
Kupu-kupu pertama hinggap pada kelompak bungan
cangnging ini, kemudian terbang bersama angin yang
dihembuskan oleh daun-daun angin menuju Pura Meranting di Batu
Kandik, dan hinggap pada piramid emas yang dirangkai oleh
aroma bunga dan kemenyan. Kupu-kupu ini bernama Covarubias
yang mencatat kekagumannya terhadap Pura Meranting pada
kelopak cangnging ini, menjadi catatan Island Of Bali. Dalam
kekagumannya itu, Covarubias menggoreskan kalimat ''The
Magnificet stone altar, a Piramid twelye feet hight surrounded
by the torso of women with large breasts supporting on her
head a stone throne'' untuk Pura Meranting ini. Dari catatan
yang digoreskan di kelopak bungan cangnging ini, aku tahu
bahwa Covarubias mengagumi cita rasa seni pada peradaban
leluhur Nusa Penida yang mengepul ke langit dari Pura
Meranting yang dibangun, sebagi tempat pemujaan dari batu yang
sangat bagus berbentuk piramid dengan ketinggian dua belas
kaki, dan sebuah singgasana batu dijunjung oleh seorang wanita
cantik yang susunya besar. Inilah persembahan kuwangen dengan
kidung-kidung keindahan oleh leluhur Nusa Penida untuk
kekuatan yang telah melahirkannya dari rahim api, air, dan
tanah, Tuhan, yang diparafrasekan dengan tempat memuja
SinarNya, Pura Meranting itu, yang dibangun dari manah sewangi
bunga dan sejernih hujan pada pelangi. Inilah persembahan seni
yang tertinggi, yang dimiliki oleh leluhur Nusa Penida, yang
diajarkan kepadaku. Kekaguman serupa juga aku temukan pada
jejak kaki kupu-kupu Stuterhein yang digoreskan pada kelopak
bungan cangnging ini, tentang Pura meranting. Pada jejak kaki
kupu-kupu itu, aku membacanya bahwa Sanggaran Pura Meranting
itu sebagai megalithica (batu besar) yang disebutnya sebagai
Een Interessante Surya Zetel. Kelopak bungan cangnging ini pun
memberitahukan aku tentang kekaguman kupu-kupu Stuterhein akan
Pura Meranting sebagai sebuah singgasana Bhatara Surya yang
sangat menarik.
Kupu-kupu yang bernama C.J. Grader juga pernah
hinggap dan meninggalkan jejak pada kelopak cangnging ini,
lalu terbang menyibak awan yang bertengger di atas langit
tanah ini, menuju ke puncak Nusa Penida, puncak yang sampai
pada angin dingin, Pura Puncak Mundi, kemudian hinggap pada
batu yang menjadi lumut. Kupu-kupu C.J. Grader mengagumi hal
yang paling indah tentang penghormatan terhadap daun-daun
kering yang menjadi humus dari pura ini, adalah cara sebagian
orang-orang Nusa Penida apabila memugar pura, bangunan lama
yang dianggap sangat keramat tidak tersentuh. Apabila mereka
ingin bangunan baru, mereka akan mendirikan di samping
bangunan lama (peninggalan) yang ada dibuat dengan keadaan dan
selera masa kini. Jejak kaki kupu-kupu C.J. Grader yang
tertinggal pada kelopak cangnging ini mengajari aku tentang
cara menghormati bakti leluhur dari peradaban yang dibangun di
tanah ini. Malam berganti siang, tetapi peradaban harus tetap
dijaga dari sinar kunang-kunang dan nyanyian burung-burung
kecil. Air hujan yang selalu mencari rahim untuk sebuah
kelahirannya, laut yang berbuih garam itu, mengajari aku
tentang cara menghormati dan menjaga tetamian dari Sang
Pengawit peradabanku.
Jejak kupu-kupu terakhir yang aku temukan pada
kelopak cangnging ini adalah jejak kupu-kupu yang bernama
Claire Holt. Dari bungan cangnging ini, kupu-kupu ini kemudian
terbang mengibas awan dan memintal angin oleh sepasang
sayapnya menuju Pura Dalem Ped, dan hinggap pada sepucuk bunga
tunjung yang tak pernah sampai ke akar air. Aku tahu kekaguman
Claire Holt pada Pura Dalem Ped terletak pada lay out pura
ini. Dari catatan kekaguman kupu-kupu Claire Holt yang
tertinggal di kelopak bungan cangnging ini, aku emakin tahu
bahwa kupu-kupu ini mengagumi tata ruang pura ini yang sangat
menarik dengan terdapatnya taman di samping pura. Tata ruang
yang demikian tidak lasim pada pura-pura yang ada di Bali
Jejak kupu-kupu Claire Holt pada kelopak cangnging ini juga
menggoreskan catatan yang sama terhadap Pura Batu Medau dan
Pura Batu Kuning. Inilah jejak kupu-kupu Claire Holt yang
mengingatkan dan mengajari aku tentang keagungan sebuah
identitas bakti leluhur kepada Tuhan, pada tata ruang Pura
Dalem Ped, Pura Matu Medau, dan Pura Batu Kuning, tata ruang
hanya ada di tanah ini, tanah Nusa Penida. Akupun mengerti
bahwa identitas sangat penting untuk menjadi diri sendiri,
tidak perlu sama apalagi seragam karena pelangi tidak perlu
cantik pada warnah yang lahir dari satu rahim Burung kakatua
yang hinggap di pohon gepuh Pura Dalem Ped, yang tertinggal
pada jejak kupu-kupu Claire Holt itu, bercerita untukku bahwa
tanah Nusa Penida ini selalu merangkai cinta pada mimpi,
nafas, dan tanah, Tri Hita Karana itu. Kehidupan yang menyulam
cinta antara humus, kambiun, dan buah untuk tunas yang menjadi
tua.
Aku akan selalu merawat sekuntum bungan
cangnging yang menyimpan jejak kaki empat kupu-kupu tentang
taksu dan tengetnya tanah Nusa Penida ini. Bungan cangnging
ini adalah air bening yang membagi wajahku untuk menjaga tanah
ini. Jejak kaki puku-kupu itu adalah dingin dan panas tanah
ini. Akan aku bentangkan jejak kupu-kupu ini pada tiap jejak
kakiku untuk tanah Nusa Penida, karena anak keledai pun
bersumpah untuk tidak tenggelam pada kali kedua, pada tanah
yang menjadi kubur yang sama. Semoga empat jejak kaki
kupu-kupu itu menjadi sinar bulan untuk bayanganku pada malam,
ketika aku akan menjaga taksu dan tengetnya pada cita rasa
seni, tetamian, identitas Pura yang dibangun di tanah ini,
tanah Nusa Penida.
I Made Sudarma
Guru SMPN 3 Nusa Penida