kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Kliwon, 27 April 2008 tarukan valas
 

APRESIASI


Sekuntum Bunga Tunjung yang tak Pernah Sampai pada Akar Air

Jejak Kupu-kupu tentang Taksu dan Tenget-nya
Tanah Nusa Penida...

 

KETIKA MATAHARI bercerita sore pada langit yang menjadi tembaga, sekuntum bungan cangnging tergelincir dari cabangnya, di kilir angin yang kehilangan panas. Aku duduk di celabah cubang ini menunggu malam yang buram tak berpenghuni. Sekuntum bungan cangnging ini jatuh di pabinanku bersama wangi yang dikirim oleh angin. Aku tahu, bungan cangnging adalah bunga yang terusir dari pohon cangnging tua yang tumbuh di bibir bataran tegalan, tanah berbatu dan berundag-undag, tanah Nusa Penida, di samping cubang ini.

Dari kelopak bungan cangnging ini, aku menemukan empat jejak kaki kupu-kupu yang pernah hinggap pada bunga ini. Kupu-kupu itu datang seperti angin melintasi samudra, mendaki gunung, hanya untuk hinggap, bukan untuk menghisap madunya tetapi hanya sekadar singgah untuk menikmati dan mengagumi warna-warna kelopaknya pada fotosentesis bakti untuk sinar suci, sinar Tuhan. Bungan cangnging ini adalah tanah Nusa Panida yang tumbuh menjadi bunga, dan menebarkan aroma harum ke setiap angin yang dihirup menjadi nafas, seperti sayap kunang-kurang yang menjadi gemerlip bintang pada sinar bulan yang belum sampai ke tanah. Aku akan merawat bungan cangnging ini untuk sebuah cermin yang menyisir rambutku setelah malam. Di kelopak bungan cangnging ini, aku dapatkan pipil tentang tanah yang menjadi bunga. Akupun tahu tentang taksu dan tenget-nya tanah Nusa Penida ini pada pura yang dibangun dengan identitas bakti leluhurku, leluhur tanah ini, kepada rahim suci bening yang melahirkan aku dan tanah ini, bakti untuk Tuhan.

Kupu-kupu pertama hinggap pada kelompak bungan cangnging ini, kemudian  terbang bersama angin yang dihembuskan oleh daun-daun angin menuju Pura Meranting di Batu Kandik, dan hinggap pada piramid emas yang dirangkai oleh aroma bunga dan kemenyan. Kupu-kupu ini bernama Covarubias yang mencatat kekagumannya terhadap Pura Meranting pada kelopak cangnging ini, menjadi catatan Island Of Bali. Dalam kekagumannya itu, Covarubias menggoreskan kalimat ''The Magnificet stone altar, a Piramid twelye feet hight surrounded by the torso of women with large breasts supporting on her head a stone throne'' untuk Pura Meranting ini. Dari catatan yang digoreskan di kelopak bungan cangnging ini, aku tahu bahwa Covarubias mengagumi cita rasa seni pada peradaban leluhur Nusa Penida yang mengepul ke langit dari Pura Meranting yang dibangun, sebagi tempat pemujaan dari batu yang sangat bagus berbentuk piramid dengan ketinggian dua belas kaki, dan sebuah singgasana batu dijunjung oleh seorang wanita cantik yang susunya besar. Inilah persembahan kuwangen dengan kidung-kidung keindahan oleh leluhur Nusa Penida untuk kekuatan yang telah melahirkannya dari rahim api, air, dan tanah, Tuhan, yang diparafrasekan dengan tempat memuja SinarNya, Pura Meranting itu, yang dibangun dari manah sewangi bunga dan sejernih hujan pada pelangi. Inilah persembahan seni yang tertinggi, yang dimiliki oleh leluhur Nusa Penida, yang diajarkan kepadaku. Kekaguman serupa juga aku temukan pada jejak kaki kupu-kupu Stuterhein yang digoreskan pada kelopak bungan cangnging ini, tentang Pura meranting. Pada jejak kaki kupu-kupu itu, aku membacanya bahwa Sanggaran Pura Meranting itu sebagai megalithica (batu besar) yang disebutnya sebagai Een Interessante Surya Zetel. Kelopak bungan cangnging ini pun memberitahukan aku tentang kekaguman kupu-kupu Stuterhein akan Pura Meranting sebagai sebuah singgasana Bhatara Surya yang sangat menarik.

Kupu-kupu yang bernama C.J. Grader juga pernah hinggap dan meninggalkan jejak pada kelopak cangnging ini, lalu terbang menyibak awan yang bertengger di atas langit tanah ini, menuju ke puncak Nusa Penida, puncak yang sampai pada angin dingin, Pura Puncak Mundi, kemudian hinggap pada batu yang menjadi lumut. Kupu-kupu C.J. Grader mengagumi hal yang paling indah tentang penghormatan terhadap daun-daun kering yang menjadi humus dari pura ini, adalah cara sebagian orang-orang Nusa Penida apabila memugar pura, bangunan lama yang dianggap sangat keramat tidak tersentuh. Apabila mereka ingin bangunan baru, mereka akan mendirikan di samping bangunan lama (peninggalan) yang ada dibuat dengan keadaan dan selera masa kini. Jejak kaki kupu-kupu C.J. Grader yang tertinggal pada kelopak cangnging ini mengajari aku tentang cara menghormati bakti leluhur dari peradaban yang dibangun di tanah ini. Malam berganti siang, tetapi peradaban harus tetap dijaga dari sinar kunang-kunang dan nyanyian burung-burung kecil. Air hujan yang selalu mencari rahim untuk sebuah kelahirannya, laut yang berbuih garam itu, mengajari aku tentang cara menghormati dan menjaga tetamian dari Sang Pengawit peradabanku.

Jejak kupu-kupu terakhir yang aku temukan pada kelopak cangnging ini adalah jejak kupu-kupu yang bernama Claire Holt. Dari bungan cangnging ini, kupu-kupu ini kemudian terbang mengibas awan dan memintal angin oleh sepasang sayapnya menuju Pura Dalem Ped, dan hinggap pada sepucuk bunga tunjung yang tak pernah sampai ke akar air. Aku tahu kekaguman Claire Holt pada Pura Dalem Ped terletak pada lay out pura ini. Dari catatan kekaguman kupu-kupu Claire Holt yang tertinggal di kelopak bungan cangnging ini, aku emakin tahu bahwa kupu-kupu ini mengagumi tata ruang pura ini yang sangat menarik dengan terdapatnya taman di samping pura. Tata ruang yang demikian tidak lasim pada pura-pura yang ada di Bali Jejak kupu-kupu Claire Holt pada kelopak cangnging ini juga menggoreskan catatan yang sama terhadap Pura Batu Medau dan Pura Batu Kuning. Inilah jejak kupu-kupu Claire Holt yang mengingatkan dan mengajari aku tentang keagungan sebuah identitas bakti leluhur kepada Tuhan, pada tata ruang Pura Dalem Ped, Pura Matu Medau, dan Pura Batu Kuning, tata ruang hanya ada di tanah ini, tanah Nusa Penida. Akupun mengerti bahwa identitas sangat penting untuk menjadi diri sendiri, tidak perlu sama apalagi seragam karena pelangi tidak perlu cantik pada warnah yang lahir dari satu rahim Burung kakatua yang hinggap di pohon gepuh Pura Dalem Ped, yang tertinggal pada jejak kupu-kupu Claire Holt itu, bercerita untukku bahwa tanah Nusa Penida ini selalu merangkai cinta pada mimpi, nafas, dan tanah, Tri Hita Karana itu. Kehidupan yang menyulam cinta antara humus, kambiun, dan buah untuk tunas yang menjadi tua.

Aku akan selalu merawat sekuntum bungan cangnging yang menyimpan jejak kaki empat kupu-kupu tentang taksu dan tengetnya tanah Nusa Penida ini. Bungan cangnging ini adalah air bening yang membagi wajahku untuk menjaga tanah ini. Jejak kaki puku-kupu itu adalah dingin dan panas tanah ini. Akan aku bentangkan jejak kupu-kupu ini pada tiap jejak kakiku untuk tanah Nusa Penida, karena anak keledai pun bersumpah untuk tidak tenggelam pada kali kedua, pada tanah yang menjadi kubur yang sama. Semoga empat jejak kaki kupu-kupu itu menjadi sinar bulan untuk bayanganku pada malam, ketika aku akan menjaga taksu dan tengetnya pada cita rasa seni, tetamian, identitas Pura yang dibangun di tanah ini, tanah Nusa Penida.

 

I Made Sudarma
Guru SMPN 3 Nusa Penida

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com