kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 26 April 2008

 Kultur


Memaknai Puputan Klungkung.......

Menyadari Pentingnya Manusia Bali Bergandengan Tangan

TAHUN 2008 ini, masyarakat Bali memperingati satu abad Puputan Klungkung. Salah satu peristiwa penting dalam perjalanan sejarah perjuangan rakyat Bali dalam menegakkan harga diri manusia Bali dan kedaulatan tanah Bali. Ketika sebuah peristiwa bersejarah diperingati, sejatinya mereka yang terlibat dalam "resepsi" peringatan itu telah melakukan usaha pemberian makna atas peristiwa itu. Sejarah sendiri juga sebuah usaha pemberian makna. Karena peristiwa itu dipandang cukup penting sehingga wajib diberikan perhatian istimewa. Hal ini juga berlaku pada peristiwa perang antara Kerajaan Klungkung dan Belanda yang ditutup dengan klimaks nan tragis yakni kematian raja, kerabat dan sebagian rakyatnya yang lebih dikenal dengan sebutan Puputan Klungkung. Pemberian makna terhadap Puputan Klungkung telah terjadi sepanjang usia peristiwa tersebut. Jika kini masyarakat Bali menandai peristiwa itu dengan peringatan seabad, itu berarti seabad pula masyarakat Bali mencoba memaknai peristiwa tersebut.

============================================================ 

Dalam sarasehan "Refleksi Seabad Puputan Klungkung dan Kebangkitan Nasional" di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Kamis (24/4) lalu, pengasuh rubrik "Tamiang Bali'' DenPost Minggu Made Sujaya, S.S. menemukan ada dua pandangan umum terkait pemaknaan peristiwa Puputan Klungkung itu. Pandangan pertama yang lebih bersifat konservatif dan mapan yang memaknai Puputan Klungkung sebagai bentuk heorisme dan patriotisme Raja Klungkung Ida I Dewa Agung Klungkung bersama kerabat dan rakyat Klungkung dalam membela kedaulatan dan kehormatan kerajaan dari nafsu kuasa Belanda. Sikap heroisme  dan patriotisme itu dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu dan budaya Bali. Sikap patriotisme raja, kerabat dan rakyat Klungkung itu memang terbingkai dalam kesadaran yang sangat lokal, membela kerajaan, belum dilandasai kesadaran dan rasa nasionalisme sebagai bangsa. Akan tetapi, Puputan Klungkung ditempatkan sebagai mozaik sejarah perjuangan bangsa dalam menentang penetrasi kekuasaan kolonial Belanda.

Pandangan kedua yang memaknai Puputan Klungkung sebagai sebuah kesia-siaan, bentuk keputusasaan, bahkan ada yang menganggapnya kekonyolan sejarah. Pandangan ini mempertanyakan keputusan raja untuk ber-puputan sebagai sebuah ketidakcerdasan strategi. Penganut pandangan ini berpendapat raja semestinya mengambil jalan diplomasi atau jalan damai sehingga kerajaan dan rakyat bisa diselamatkan. "Pandangan kedua yang umumnya tidak ditemukan dalam literatur-literatur tentang Puputan Klungkung ini memang terasa apriori. Lebih dari itu, pandangan semacam ini melihat sejarah dari ukuran-ukuran masa kini yang tentu saja tidak sama konteks zamannya. Nilai dalam suatu zaman, kerap kali berbeda bahkan kontradiktif pada zaman lainnya sebagai akibat dari penetrasi nilai-nilai baru. Karena itu pula, makna Puputan Klungkung pada pandangan kedua ini sudah sering dibantah," tegas penulis buku "Sepotong Nurani Kuta" dan "Perkawinan Terlarang" ini.   

Keragaman Makna

Menurut Sujaya, keragaman makna atas Puputan Klungkung adalah sebuah keniscayaan. Artinya, pandangan-pandangan yang berbeda bahkan kontradiktif dengan pandangan yang sudah mapan merupakan suatu hal yang tidak terhindari. Ditegaskan, sebuah peristiwa sejarah tidak berbeda jauh dengan sebuah teks dalam pemahaman teori sastra yang bisa melahirkan keragaman makna. Bahkan, tanggapan pembaca atau pun masyarakat terhadap suatu peristiwa sejarah kerap kali berubah-ubah atau mengalami pergeseran dalam setiap zaman. "Perkembangan pemaknaan yang saya alami dalam meresepsi peristiwa Puputan Klungkung sejak duduk di bangku SMP hingga sekarang merupakan sebuah contoh sederhana. Pergeseran makna atas peristiwa Gerakan 30 September 1965 bisa disebut sebagai contoh yang lain," katanya mencontohkan.

Kendati begitu, Sujaya mengingatkan agar keragaman makna atas sejarah tetap diposisikan dalam kerangka memberikan kebermanfaatan dalam menjalani hari ini dan hari esok. Artinya, gemilang atau pun kelam sejarah itu, tetaplah harus fungsional untuk tujuan membangun suatu kehidupan yang lebih baik. Dengan begitu sejarah memiliki arti bagi kehidupan. "Bagi saya, pemaknaan terhadap peristiwa Puputan Klungkung tidak bisa dengan menempatkan peristiwa ini secara otonom. Bagaimana pun, Puputan Klungkung tidaklah peristiwa yang berdiri sendiri. Puputan Klungkung adalah bagian dari sebuah proses penetrasi kolonialisme Belanda di Bali, bahkan di Nusantara. Karena itu, Puputan Klungkung mestilah diletakkan dalam konteks bagaimana Bali merespons penetrasi kolonial yang menurut sejumlah penelitian disebutkan dimulai pada awal abad ke-19," katanya lagi.

Sujaya menambahkan, Puputan Klungkung merupakan babak akhir dari perlawanan Bali dalam kerangka ideologi tradisional (negara kerajaan-red) menghadapi Belanda. Dalam babak-babak sebelumnya, perlawanan Bali sudah tersaji dalam aneka pilihan warna. Ada yang memilih jalan kompromi atau bekerja sama. Ada yang memilih jalan mengangkat senjata meskipun harus berakhir dengan kematian. Ada pula yang memadukan antara kedua pilihan jalan tersebut. "Klungkung menggunakan berbagai pilihan jalan itu saat berhadapan dengan kolonialisme Belanda. Diawali dengan jalan kerja sama, lalu mengangkat senjata (Perang Kusamba), disusul kompromi dan diplomasi (jalinan kontrak politik dengan Belanda) serta diakhiri dengan jalan mengangkat senjata yang berujung pada puputan," papar aktivis Sanggar Binduana, Klungkung ini panjang lebar.

Lebih lanjut, alumnus Fakultas Sastra Unud ini memaparkan kilas balik nukilan sejarah Bali di awal abad ke-19. Bermula dari terjadinya perpindahan kekuasaan dari Belanda kepada Inggris di Pulau Jawa. Raja Buleleng Gusti Gde Ngurah Karangasem menguasai Jembrana untuk tujuan menduduki Banyuwangi di Pulau Jawa. Tindakan ini membuat geram pemerintah Inggris di Batavia sehingga dikirimlah satu eskader angkatan laut Inggris ke Buleleng pada tahun 1814. Tujuannya, untuk memberi pelajaran kepada Raja Buleleng. Usaha pemerintah Inggris ini mendapat perlawanan hebat. Tidak saja dari Raja Buleleng, tetapi juga dari semua raja di Bali. Raja-raja lainnya di Bali mengirimkan bantuan pasukannya ke Buleleng untuk membantu kerajaan di bagian utara Bali itu. "Raja-raja Bali itu bertekad untuk berjuang bersama menentang agresi militer dari luar. Sikap ini merupakan pertama kalinya terjadi pada raja-raja Bali pada masa itu," katanya.

Sikap bersatu raja-raja Bali, kata dia, terbukti ampuh. Pemimpin pasukan Inggris Jenderal Nightingale diperintahkan Batavia untuk memundurkan pasukannya. Pemerintah Inggris tidak bersedia berperang dengan raja-raja Bali yang mempunyai tekad bersatu melawan musuh. Namun, tiga puluh tahun kemudian, semangat bersatu Bali itu mengalami kemerosotan. Ketika Belanda hendak menyerang Kerajaan Buleleng dan Karangasem gara-gara masalah perampasan kapal milik Belanda, raja-raja Bali enggan membantu kedua kerajaan itu. Bahkan, dorongan Raja Klungkung sebagai sasuhunan raja-raja Bali dan Lombok agar raja-raja lainnya membantu Buleleng dan Karangasem tidak mendapat respons yang memadai. Ketidakkompakan raja-raja Bali itu kemudian terbukti makin memudahkan Belanda mencengkeramkan kuku-kuku kekuasaannya di Bali. "Buleleng kemudian jatuh ke tangan Belanda yang menjadi pintu pembuka bagi Belanda untuk menguasai Bali secara keseluruhan. Setelah menguasai Buleleng, Belanda dengan mudah menaklukkan Karangasem, disusul Gianyar yang menyerahkan kedaulatannya, lalu Badung yang dihabisi dalam perang puputan dan terakhir kekalahan Klungkung dalam apa yang kemudian disebut Puputan Klungkung melengkapi kekuasaan Belanda," katanya. * w. sumatika

 

Betapa Pentingnya Menjaga Persatuan dan Kesatuan 

APA yang bisa ditarik dari rangkaian peristiwa sejarah itu? Menurut Sujaya, hal itu menegaskan bahwa Puputan Klungkung adalah buah dari kondisi sosial politik Bali sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang carut-marut dan diwarnai ego masing-masing kerajaan. Kohesivitas dan solidaritas antarkerajaan sangat jauh merosot. Bahkan, yang lebih parah lagi, sejumlah kerajaan terlibat pertikaian yang didasari oleh keinginan yang satu menguasai yang lain. Bukan hanya itu, kerajaan-kerajaan itu tidak segan-segan membantu atau pun meminta bantuan Belanda untuk menaklukkan kerajaan lainnya. Jika saja raja-raja Bali menyadari tentang betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, saling bantu satu sama lain, memandang ancaman terhadap satu kerajaan sebagai ancaman bagi semua, tentu Puputan Klungkung tidak akan terjadi. Begitu juga Puputan Badung atau pun Gianyar yang memilih jalan tidak populer menyerahkan kedaulatan atas kerajaannya di bawah pengawasan Belanda. "Sampai di sini, makna Puputan Klungkung yang bisa diangkat adalah betapa pentingnya Bali saling bergandengan tangan dan menghindarkan konflik atau pertikaian antarsesama Bali," tegasnya.

Dalam konteks kekinian, katanya, makna itu bisa diterjemahkan kebijakan antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya semestinya tidak mengesampingkan kenyataan betapa Bali sesungguhnya dalam satu-kesatuan etnik, satu-kesatuan budaya dan satu-kesatuan pulau yang semestinya saling menjaga dan saling memperkokoh. Ego kabupaten/kota, tegasnya, tidak saja menjadi tidak produktif tetapi juga memberi celah bagi penetrasi kepentingan luar yang bertujuan merusak atau setidaknya menguasai Bali. "Perang fisik memang telah berakhir. Tetapi, perang dalam kerangka ideologi atau pun kepentingan tetap terjadi sepanjang masa, termasuk di Bali," katanya mengingatkan.

Sujaya menambahkan, pemaknaan Puputan Klungkung seperti itu terasa menemukan relevansinya jika dikaitkan dengan momentum peringatan Seabad Kebangkitan Nasional atau pun Setengah Abad Pemerintah Propinsi Bali. Di tingkat nasional kita pun mengalami krisis makna persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa. Karenanya, Kebangkitan Nasional yang menjadi momentum tumbuhnya kesadaran untuk bersatu sebagai sebuah bangsa penting dibangunkan dan disegarkan kembali. Pun Bali sebagai sebuah pemerintahan administratif di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia masih berhadapan dengan persoalan ego masing-masing kabupaten sebagai imbas dari otonomi daerah. "Karenanya, momentum peringatan peristiwa Puputan Klungkung yang terjadi seabad lalu yang sesungguhnya pula menandai berakhirnya kedaulatan kerajaan-kerajaan di Bali dan dimulainya masa sebagai jajahan Belanda mesti bisa membangkitkan kesadaran tentang pentingnya menjaga Bali sebagai sebuah kesatuan yang utuh," tegasnya. 

Transformasi Sejarah

Pentingnya memaknai peristiwa-peristiwa sejarah seperti Puputan Klungkung juga dilontarkan Kepala Dinas Kebudayaan Bali Drs. I Nyoman Nikanaya, M.M. Ditegaskan, sejarah tidaklah sekadar peristiwa-peristiwa yang terjadi yang terjadi di masa lalu tapi juga merupakan bagian dari masa kini. Sebab, dari sejarah kita bisa memetik banyak pelajaran berharga guna menapak kehidupan di masa kekinian dengan lebih baik. "Mengungkap segi-segi ideologi dari Puputan Klungkung dapat dianggap sebagai modal pembangunan di bidang mental spiritual dan kebudayaan. Semangat perjuangan yang dikobarkan para generasi pendahulu diharapkan dapat memberi inspirasi generasi sekarang dalam menghadapi tugas membangun daerah, bangsa dan negara Indonesia," ujarnya.

Senada dengan Sujaya, Nikanaya juga memandang perlu digelorakannya upaya transformasi sejarah puputan di Bali melalui bangku sekolah. Dengan begitu, generasi muda Bali sejak usia dini bisa mengenal peristiwa-peristiwa sejarah yang pernah terjadi di tanah kelahirannya secara detail. Setelah mengenal peristiwa sejarah itu, mereka selanjutnya diharapkan bisa memaknainya dalam konteks bangunan sejarah perjuangan bangsa. "Saya berharap, proses transformasi sejarah itu makin diintensifkan di bangku-bangku sekolah. Mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Jika upaya itu tidak secepatnya dilaksanakan, suatu saat nanti generasi muda Bali boleh jadi tidak akan kenal lagi dengan Puputan Klungkung, Puputan Badung, Puputan Margarana dan seterusnya. Padahal, banyak sekali nilai positif yang bisa digali dan diteladani dari rangkaian peristiwa bersejarah tersebut," ujarnya.

Nikanaya tidak tidak menampik, pelajaran sejarah yang digelar di bangku sekolah selama ini memang belum terlalu dalam menjamah peristiwa-peristiwa sejarah lokal Bali. Bila pun ada buku teks pelajaran yang menyinggungnya, sejarah-sejarah lokal Bali itu hanya disajikan secara sepintas. Karena disajikan secara sepintas, generasi muda Bali pun praktis mengenal sejarah lokal Bali itu secara sepintas pula alias tidak utuh. Dia mencontohkan, hingga satu abad berlalunya peristiwa Puputan Klungkung, banyak pelajar dan mahasiswa yang tidak mengenal peristiwa heroik tersebut. ''Hal serupa juga terjadi untuk peristiwa sejarah penting lainnya yang terjadi di Bali. Harus diakui, generasi muda Bali lebih mengenal kiprah perjuangan Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Teuku Umar dan pahlawan lainnya dibandingkan pahlawan-pahlawan besar yang lahir di tanah Bali. "Peringatan satu abad Puputan Klungkung harus kita jadikan momentum berharga untuk menata kembali pola pembelajaran sejarah itu. Generasi muda Bali tidak boleh diasingkan dari sejarah lokalnya. Mereka wajib tahu, banyak sekali pahlawan besar yang lahir di tanah Bali dan terbukti memberikan kontribusi yang signifikan bagi tegaknya harga diri dan kedaulatan bangsa dan negara ini," tegasnya.

Nikanaya menegaskan, banyak celah yang bisa dimasuki untuk memperkenalkan tokoh-tokoh besar Bali itu kepada generasi muda Bali melalui bangku sekolah. Dalam konsteks penerapan kurikulum yang memberikan keleluasaan masuknya muatan lokal, pengenalan tokoh-tokoh pelaku sejarah lokal itu bisa disisipkan dalam mata pelajaran muatan lokal seperti bahasa Bali dan pendidikan budi pekerti. "Mata pelajaran itu bisa dimanfaatkan sebagai media yang efektif untuk kepentingan itu. Termasuk, mentransformasikan nilai-nilai positif yang terkandung di balik peristiwa sejarah tersebut. Kita bisa memulainya dari sekarang juga. Tidak ada istilah terlambat untuk memulai," tegasnya sambil menambahkan, perhatian kepada aspek sejarah lokal bukanlah sebagai bentuk euforia otonomi atau pun kebangkitan kesadaran tentang lokalitas. Namun, lebih sebagai usaha mendekatkan generasi muda dengan sejarah lokalnya sendiri sehingga mereka bisa lebih mudah memaknai arti perjuangan bangsanya di masa lalu. * w. sumatika

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)