Memaknai Puputan Klungkung.......
Menyadari Pentingnya Manusia Bali Bergandengan Tangan
TAHUN
2008 ini, masyarakat Bali memperingati satu abad Puputan
Klungkung.
Salah satu peristiwa penting dalam
perjalanan sejarah perjuangan rakyat
Bali
dalam menegakkan harga diri manusia Bali dan kedaulatan
tanah Bali.
Ketika sebuah peristiwa bersejarah
diperingati, sejatinya mereka yang terlibat dalam "resepsi"
peringatan itu telah melakukan usaha pemberian makna
atas peristiwa itu. Sejarah
sendiri juga sebuah usaha pemberian makna.
Karena peristiwa itu dipandang cukup
penting sehingga wajib diberikan perhatian istimewa.
Hal ini juga berlaku pada peristiwa perang antara
Kerajaan Klungkung dan Belanda yang ditutup dengan
klimaks nan tragis yakni
kematian raja, kerabat dan sebagian rakyatnya yang lebih
dikenal dengan sebutan Puputan Klungkung. Pemberian
makna terhadap Puputan Klungkung telah terjadi sepanjang
usia peristiwa tersebut.
Jika kini masyarakat
Bali
menandai peristiwa itu dengan peringatan seabad, itu
berarti seabad pula masyarakat Bali mencoba memaknai
peristiwa tersebut.
============================================================
Dalam sarasehan "Refleksi Seabad Puputan Klungkung dan
Kebangkitan Nasional" di Monumen Perjuangan Rakyat Bali,
Kamis (24/4) lalu, pengasuh rubrik "Tamiang Bali''
DenPost Minggu Made Sujaya, S.S. menemukan ada dua
pandangan umum terkait pemaknaan peristiwa Puputan
Klungkung itu. Pandangan pertama
yang lebih bersifat konservatif dan mapan yang memaknai
Puputan Klungkung sebagai bentuk heorisme dan
patriotisme Raja Klungkung Ida I Dewa Agung Klungkung
bersama kerabat dan rakyat Klungkung dalam membela
kedaulatan dan kehormatan kerajaan dari nafsu kuasa
Belanda. Sikap heroisme
dan patriotisme itu dijiwai oleh nilai-nilai
agama Hindu dan budaya Bali. Sikap
patriotisme raja, kerabat dan rakyat Klungkung itu
memang terbingkai dalam kesadaran yang sangat lokal,
membela kerajaan, belum dilandasai kesadaran dan rasa
nasionalisme sebagai bangsa.
Akan tetapi, Puputan
Klungkung ditempatkan sebagai mozaik sejarah perjuangan
bangsa dalam menentang penetrasi kekuasaan kolonial
Belanda.
Pandangan kedua yang memaknai Puputan Klungkung sebagai
sebuah kesia-siaan, bentuk keputusasaan, bahkan ada yang
menganggapnya kekonyolan sejarah.
Pandangan ini mempertanyakan
keputusan raja untuk ber-puputan sebagai sebuah
ketidakcerdasan strategi.
Penganut pandangan ini berpendapat raja semestinya
mengambil jalan diplomasi atau jalan damai sehingga
kerajaan dan rakyat bisa diselamatkan.
"Pandangan kedua yang umumnya tidak
ditemukan dalam literatur-literatur tentang Puputan
Klungkung ini memang terasa apriori. Lebih dari
itu, pandangan semacam ini melihat sejarah dari
ukuran-ukuran masa kini yang tentu saja tidak
sama konteks zamannya.
Nilai dalam suatu zaman, kerap kali
berbeda bahkan kontradiktif pada zaman lainnya sebagai
akibat dari penetrasi nilai-nilai baru.
Karena itu pula, makna Puputan
Klungkung pada pandangan kedua ini sudah sering dibantah,"
tegas penulis buku "Sepotong Nurani Kuta" dan "Perkawinan
Terlarang" ini.
Keragaman Makna
Menurut Sujaya, keragaman makna atas Puputan Klungkung
adalah sebuah keniscayaan. Artinya,
pandangan-pandangan yang berbeda bahkan kontradiktif
dengan pandangan yang sudah mapan merupakan suatu hal
yang tidak terhindari.
Ditegaskan, sebuah peristiwa sejarah tidak berbeda jauh
dengan sebuah teks dalam pemahaman teori sastra yang
bisa melahirkan keragaman makna.
Bahkan, tanggapan pembaca atau pun
masyarakat terhadap suatu peristiwa sejarah kerap kali
berubah-ubah atau mengalami pergeseran dalam setiap
zaman. "Perkembangan
pemaknaan yang saya alami dalam meresepsi peristiwa
Puputan Klungkung sejak duduk di bangku SMP hingga
sekarang merupakan sebuah contoh sederhana.
Pergeseran makna atas peristiwa
Gerakan 30 September 1965 bisa disebut sebagai contoh
yang lain," katanya mencontohkan.
Kendati begitu, Sujaya mengingatkan agar keragaman makna
atas sejarah tetap diposisikan dalam kerangka memberikan
kebermanfaatan dalam menjalani hari ini dan hari esok.
Artinya, gemilang atau pun kelam
sejarah itu, tetaplah harus fungsional untuk tujuan
membangun suatu kehidupan yang lebih baik.
Dengan begitu sejarah memiliki arti
bagi kehidupan. "Bagi saya,
pemaknaan terhadap peristiwa Puputan Klungkung tidak
bisa dengan menempatkan peristiwa ini secara otonom.
Bagaimana pun, Puputan Klungkung
tidaklah peristiwa yang berdiri sendiri. Puputan
Klungkung adalah bagian dari sebuah proses penetrasi
kolonialisme Belanda di Bali, bahkan di Nusantara.
Karena itu, Puputan Klungkung
mestilah diletakkan dalam konteks bagaimana
Bali merespons penetrasi kolonial yang menurut sejumlah
penelitian disebutkan dimulai pada awal abad ke-19,"
katanya lagi.
Sujaya menambahkan, Puputan Klungkung merupakan babak
akhir dari perlawanan Bali dalam kerangka ideologi
tradisional (negara kerajaan-red) menghadapi Belanda.
Dalam babak-babak sebelumnya,
perlawanan
Bali sudah
tersaji dalam aneka pilihan warna.
Ada yang memilih jalan kompromi atau bekerja
sama.
Ada yang memilih
jalan mengangkat senjata meskipun harus berakhir dengan
kematian.
Ada pula yang
memadukan antara kedua pilihan jalan tersebut.
"Klungkung menggunakan berbagai
pilihan jalan itu saat berhadapan dengan kolonialisme
Belanda. Diawali dengan jalan kerja
sama, lalu mengangkat senjata
(Perang Kusamba), disusul kompromi dan diplomasi (jalinan
kontrak politik dengan Belanda) serta diakhiri dengan
jalan mengangkat senjata yang berujung pada puputan,"
papar aktivis Sanggar Binduana, Klungkung ini panjang
lebar.
Lebih lanjut, alumnus Fakultas Sastra Unud ini
memaparkan kilas balik nukilan sejarah Bali di awal abad
ke-19.
Bermula dari terjadinya perpindahan
kekuasaan dari Belanda kepada Inggris di Pulau Jawa.
Raja Buleleng Gusti Gde Ngurah
Karangasem menguasai Jembrana untuk tujuan menduduki
Banyuwangi di Pulau Jawa.
Tindakan ini membuat geram pemerintah Inggris di Batavia
sehingga dikirimlah satu eskader angkatan laut Inggris
ke Buleleng pada tahun 1814.
Tujuannya, untuk memberi pelajaran kepada Raja Buleleng.
Usaha pemerintah Inggris ini
mendapat perlawanan hebat.
Tidak saja dari Raja Buleleng, tetapi juga dari semua
raja di
Bali.
Raja-raja lainnya di
Bali mengirimkan
bantuan pasukannya ke Buleleng untuk membantu kerajaan
di bagian utara Bali itu.
"Raja-raja
Bali itu
bertekad untuk berjuang bersama menentang agresi militer
dari luar.
Sikap ini merupakan pertama kalinya
terjadi pada raja-raja
Bali pada masa itu," katanya.
Sikap bersatu raja-raja Bali, kata dia, terbukti ampuh.
Pemimpin pasukan Inggris Jenderal
Nightingale diperintahkan
Batavia untuk
memundurkan pasukannya.
Pemerintah Inggris tidak bersedia
berperang dengan raja-raja
Bali yang
mempunyai tekad bersatu melawan musuh.
Namun, tiga puluh tahun kemudian,
semangat bersatu
Bali itu
mengalami kemerosotan.
Ketika Belanda hendak menyerang
Kerajaan Buleleng dan Karangasem gara-gara masalah
perampasan kapal milik Belanda, raja-raja
Bali enggan
membantu kedua kerajaan itu.
Bahkan, dorongan Raja Klungkung
sebagai sasuhunan raja-raja
Bali dan Lombok
agar raja-raja lainnya membantu Buleleng dan Karangasem
tidak mendapat respons yang memadai.
Ketidakkompakan raja-raja
Bali itu
kemudian terbukti makin memudahkan Belanda
mencengkeramkan kuku-kuku kekuasaannya di Bali.
"Buleleng kemudian jatuh ke tangan
Belanda yang menjadi pintu pembuka bagi Belanda untuk
menguasai
Bali secara
keseluruhan.
Setelah menguasai Buleleng, Belanda dengan mudah
menaklukkan Karangasem, disusul Gianyar yang menyerahkan
kedaulatannya, lalu Badung yang dihabisi dalam perang
puputan dan terakhir kekalahan Klungkung dalam apa yang
kemudian disebut Puputan Klungkung melengkapi kekuasaan
Belanda," katanya. *
w. sumatika
Betapa
Pentingnya Menjaga Persatuan dan Kesatuan
APA
yang bisa ditarik dari rangkaian peristiwa sejarah itu?
Menurut Sujaya, hal itu menegaskan bahwa Puputan
Klungkung adalah buah dari kondisi sosial politik Bali
sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang carut-marut
dan diwarnai ego masing-masing kerajaan.
Kohesivitas dan solidaritas
antarkerajaan sangat jauh merosot. Bahkan, yang
lebih parah lagi, sejumlah kerajaan terlibat pertikaian
yang didasari oleh keinginan yang satu menguasai yang
lain. Bukan hanya itu,
kerajaan-kerajaan itu tidak segan-segan membantu atau
pun meminta bantuan Belanda untuk menaklukkan kerajaan
lainnya. Jika saja raja-raja Bali menyadari
tentang betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan,
saling bantu satu sama lain,
memandang ancaman terhadap satu kerajaan sebagai ancaman
bagi semua, tentu Puputan Klungkung tidak akan terjadi.
Begitu juga Puputan Badung atau pun Gianyar yang memilih
jalan tidak populer menyerahkan kedaulatan atas
kerajaannya di bawah pengawasan Belanda.
"Sampai di sini, makna Puputan
Klungkung yang bisa diangkat adalah betapa pentingnya
Bali saling
bergandengan tangan dan menghindarkan konflik atau
pertikaian antarsesama Bali," tegasnya.
Dalam konteks kekinian, katanya, makna itu bisa
diterjemahkan kebijakan antara satu kabupaten dengan
kabupaten lainnya semestinya tidak mengesampingkan
kenyataan betapa
Bali
sesungguhnya dalam satu-kesatuan etnik, satu-kesatuan
budaya dan satu-kesatuan pulau yang semestinya saling
menjaga dan saling memperkokoh.
Ego kabupaten/kota, tegasnya, tidak
saja menjadi tidak produktif tetapi juga memberi celah
bagi penetrasi kepentingan luar yang bertujuan merusak
atau setidaknya menguasai
Bali.
"Perang fisik memang telah berakhir.
Tetapi, perang dalam kerangka
ideologi atau pun kepentingan tetap terjadi sepanjang
masa, termasuk di
Bali," katanya
mengingatkan.
Sujaya menambahkan, pemaknaan Puputan Klungkung seperti
itu terasa menemukan relevansinya jika dikaitkan dengan
momentum peringatan Seabad Kebangkitan Nasional atau pun
Setengah Abad Pemerintah Propinsi Bali.
Di tingkat nasional kita pun
mengalami krisis makna persatuan dan kesatuan sebagai
sebuah bangsa. Karenanya,
Kebangkitan Nasional yang menjadi momentum tumbuhnya
kesadaran untuk bersatu sebagai sebuah bangsa penting
dibangunkan dan disegarkan kembali. Pun Bali
sebagai sebuah pemerintahan administratif di bawah
naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia masih
berhadapan dengan persoalan ego masing-masing kabupaten
sebagai imbas dari otonomi daerah. "Karenanya, momentum
peringatan peristiwa Puputan Klungkung yang terjadi
seabad lalu yang sesungguhnya pula menandai berakhirnya
kedaulatan kerajaan-kerajaan di Bali dan dimulainya masa
sebagai jajahan Belanda mesti bisa membangkitkan
kesadaran tentang pentingnya menjaga Bali sebagai sebuah
kesatuan yang utuh," tegasnya.
Transformasi Sejarah
Pentingnya memaknai peristiwa-peristiwa sejarah seperti
Puputan Klungkung juga dilontarkan Kepala Dinas
Kebudayaan Bali Drs. I Nyoman Nikanaya, M.M. Ditegaskan,
sejarah tidaklah sekadar peristiwa-peristiwa yang
terjadi yang terjadi di masa lalu tapi juga merupakan
bagian dari masa kini.
Sebab, dari sejarah kita bisa
memetik banyak pelajaran berharga guna menapak kehidupan
di masa kekinian dengan lebih baik.
"Mengungkap segi-segi ideologi dari
Puputan Klungkung dapat dianggap sebagai modal
pembangunan di bidang mental spiritual dan kebudayaan.
Semangat perjuangan yang dikobarkan
para generasi pendahulu diharapkan dapat memberi
inspirasi generasi sekarang dalam menghadapi tugas
membangun daerah, bangsa dan negara
Indonesia," ujarnya.
Senada dengan Sujaya, Nikanaya juga memandang perlu
digelorakannya upaya transformasi sejarah puputan di
Bali melalui bangku sekolah.
Dengan begitu, generasi muda Bali sejak
usia dini bisa mengenal
peristiwa-peristiwa sejarah yang pernah terjadi di tanah
kelahirannya secara detail. Setelah
mengenal peristiwa sejarah itu, mereka selanjutnya
diharapkan bisa memaknainya dalam konteks bangunan
sejarah perjuangan bangsa. "Saya
berharap, proses transformasi sejarah itu makin
diintensifkan di bangku-bangku sekolah.
Mulai dari jenjang pendidikan dasar
hingga perguruan tinggi. Jika upaya itu tidak
secepatnya dilaksanakan, suatu saat nanti generasi muda
Bali boleh jadi tidak akan
kenal lagi dengan Puputan Klungkung, Puputan Badung,
Puputan Margarana dan seterusnya.
Padahal, banyak
sekali nilai positif yang bisa digali dan diteladani
dari rangkaian peristiwa bersejarah tersebut," ujarnya.
Nikanaya tidak tidak menampik, pelajaran sejarah yang
digelar di bangku sekolah selama ini memang belum
terlalu dalam menjamah peristiwa-peristiwa sejarah lokal
Bali.
Bila pun ada buku teks pelajaran
yang menyinggungnya, sejarah-sejarah lokal
Bali itu hanya
disajikan secara sepintas.
Karena disajikan secara sepintas, generasi muda Bali pun
praktis mengenal sejarah lokal Bali itu secara sepintas
pula alias tidak utuh. Dia
mencontohkan, hingga satu abad berlalunya peristiwa
Puputan Klungkung, banyak pelajar dan mahasiswa yang
tidak mengenal peristiwa heroik tersebut.
''Hal serupa juga terjadi untuk
peristiwa sejarah penting lainnya yang terjadi di
Bali.
Harus diakui, generasi muda Bali lebih mengenal kiprah
perjuangan Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Teuku
Umar dan pahlawan lainnya dibandingkan pahlawan-pahlawan
besar yang lahir di tanah Bali. "Peringatan
satu abad Puputan Klungkung harus kita jadikan momentum
berharga untuk menata kembali pola pembelajaran sejarah
itu. Generasi muda
Bali tidak boleh
diasingkan dari sejarah lokalnya.
Mereka wajib tahu, banyak sekali
pahlawan besar yang lahir di tanah
Bali dan terbukti memberikan kontribusi yang signifikan
bagi tegaknya harga diri dan kedaulatan bangsa dan
negara ini," tegasnya.
Nikanaya menegaskan, banyak celah yang bisa dimasuki
untuk memperkenalkan tokoh-tokoh besar Bali itu kepada
generasi muda Bali melalui bangku sekolah.
Dalam konsteks penerapan kurikulum
yang memberikan keleluasaan masuknya muatan lokal,
pengenalan tokoh-tokoh pelaku sejarah lokal itu bisa
disisipkan dalam mata pelajaran muatan lokal seperti
bahasa
Bali dan
pendidikan budi pekerti.
"Mata pelajaran itu bisa
dimanfaatkan sebagai media yang efektif untuk
kepentingan itu. Termasuk,
mentransformasikan nilai-nilai positif yang terkandung
di balik peristiwa sejarah tersebut.
Kita bisa memulainya dari sekarang
juga. Tidak ada istilah
terlambat untuk memulai," tegasnya sambil menambahkan,
perhatian kepada aspek sejarah lokal bukanlah sebagai
bentuk euforia otonomi atau pun kebangkitan kesadaran
tentang lokalitas. Namun,
lebih sebagai usaha mendekatkan generasi muda dengan
sejarah lokalnya sendiri sehingga mereka bisa lebih
mudah memaknai arti perjuangan bangsanya di masa lalu.
* w.
sumatika