Bondres
Puputan
Klungkung
COBALAH
kita
bertanya kepada
anak-anak
remaja yang
usai
mengikuti ujian
nasional
untuk
tingkat sekolah
menengah
atas:
siapa pahlawan
dari
Klungkung? Mereka
tidak
tahu. Kalau
pertanyaan
diteruskan,
apa
mereka pernah
mendengar
istilah
Puputan Klungkung?
Mereka pun
ragu
dan sempat
berpikir lama. ''Puputan
Klungkung
apa
Puputan Badung?
Kalau
Badung pernah
dengar,''
kata
salah seorang
pelajar
ini.
Pertanyaan
itu yang
saya
lontarkan Kamis sore
yang lalu
kepada
beberapa pelajar yang
usai
mengikuti ujian
nasional.
Padahal
pada hari
itu,
pagi harinya,
ada seminar yang
membicarakan
Puputan
Klungkung di
Monumen
Perjuangan Rakyat
Bali, Renon,
Denpasar.
Bahkan seminar
ini
memperingati Seabad
Puputan
Klungkung dan
Kebangkitan
Nasional.
Artinya,
sudah 100
tahun
Puputan Klungkung
berlalu,
tetapi
banyak anak-anak
muda yang
tak
mengetahui sejarah
lokal
daerahnya sendiri.
Saya
pun seringkali
mendengar
Puputan
Klungkung, Puputan
Jagaraga
dan lain-lainnya,
namun yang
melekat
dalam ingatan
saya
hanya Puputan
Badung yang
terjadi
jauh sebelumnya,
dan
Puputan Margarana
yang terjadi
sesudahnya.
Ini
disebabkan kedua
puputan
itu (Badung
dan
Margarana) sudah
memiliki
banyak
bahan publikasi,
baik
berupa buku yang
bisa
disebut modern (hasil
penelitian
dan
dokumentasi otentik),maupun
buku yang
bercorak
tradisional
lewat
karya sastra
geguritan.
Untuk
Puputan Klungkung,
seberapa
banyak
ada publikasinya?
Saya
tidak tahu.
Publikasi
ini
tentu saja
penting,
karena
dari sinilah
tingkat
kepopuleran sebuah
peristiwa
akan
terwujud. Belajar
sejarah
adalah belajar
sesuatu
hal yang populer,
tokoh-tokohnya
serasa
dekat di
hati.
Anak-anak Bali tahu
persis
bagaimana kepahlawanan
Pangeran
Diponegoro,
selain
bukunya banyak,
nama
Diponegoro menjadi
nama
jalan besar
di
Denpasar. Pahlawan
dari
Sumatera seperti
Teuku
Umar, Imam Bonjol
diabadikan
sebagai
nama jalan
protokol
di
Denpasar. Mana
ada
pahlawan dari Bali
yang namanya
diabadikan
di
jalan protokol?
Kalau
kita
misalnya bertanya
kepada
para pelajar
di Bali,
siapa
pahlawan wanita
di Indonesia,
mereka
dengan fasih
menjawab;
Tjut
Nyak Dien,
Dewi
Sartika, Raden
Ajeng
Kartini. Coba
ditanya,
apakah
mereka tahu
Sagung
Wah, pahlawan
wanita yang
gigih
di Tabanan?
Pasti
tidak. Siapa
dia?
Kapan berperang,
mempertahankan
apa, di
mana
berperang dan
di mana
gugurnya?
Tak
banyak publikasi yang
lahir
dari kepahlawanan
ini.
Bahkan nama-nama
pahlawan Bali yang
diabadikan
pada
jalan arternatif (bukan
jalan
protokol) tak
banyak pula
diketahui
seberapa
besar
perjuangannya.
Kalau
sejarah
ini tak
begitu
melekat di
hati
banyak orang Bali,
kita
juga tak
tahu
apa sumbangan
perjuangan
mereka
untuk bangsa
ini.
Artinya, apakah
ada
korelasi antara
Puputan
Klungkung dengan
Kabangkitan
Nasional yang
terjadi
dalam kurun
waktu
sama. Atau
sejauh
mana Puputan
Klungkung
menjadi
jiwa dari
perang
kemerdekaan, apakah
perang
habis-habisan di
Klungkung
itu
menjadi spirit perjuangan
juga
bagi prajurit I
Gusti
Ngurah Rai
dalam
pertempuran di
Marga?
Akan halnya
andil
Puputan Margarana
dengan
perjuangan bangsa
ini
tentu saja
sangat
besar, karena
perjuangan I
Gusti
Ngurah Rai
berkaitan
erat
dengan mempertahankan
kemerdekaan.
Patriotisme
Ngurah
Rai itu
sudah
jelas digambarkan
dalam
berbagai publikasi
dan ini
sudah
melekat di
hati
banyak orang Bali.
Masalahnya
sekarang
adalah
jika semangat
dan
jiwa puputan --baik
Puputan
Klungkung maupun
puputan
sebelumnya -- mau
diwariskan
kepada
masyarakat Bali terutama
generasi
mudanya,
langkah
terbaik yang dilakukan
adalah
penulisan sejarah
perjuangan
itu
secara populer.
Penekanan
kata
populer ini
penting,
karena
kebanyakan sejarah
ditulis
dengan tidak
populer yang
pada
akhirnya kurang
diminati
untuk
dibaca. Jika
penulisan
sejarah
hanya berkutat
pada
tahun, nama
pelaku,
tempat peristiwa,
saksi-saksi
dan
sebagainya, tak
ada
gereget untuk
membacanya.
Gaya
penulisan disertasi
atau
karya ilmiah yang
baku
pada kalangan
akademis,
membuat
orang tak
berminat
membaca
buku sejarah.
Ini
pernah dilakukan
pada
saat menggali
sejarah
Puputan Badung.
Ketika
hasilnya berupa ''buku
statistik''
tak
banyak orang
tertarik,
tetapi
ketika disampaikan
dengan
gaya bertutur,
kisah
perlawanan ini
jadi
populer. Bahkan
berkali-kali
kisah
Puputan Badung
itu
ditampilkan dalam
bentuk
kesenian, baik
kesenian drama gong
maupun
sendratari. Maklum,
beberapa
tahun
lalu, perayaan
Pupuan
Badung dilakukan
dengan
sangat ''meriah''
dengan
puncak acaranya
lomba
jalan beregu
Candi
Margarana - Alun-alun
Puputan
Badung, selain
diisi seminar,
diskusi
budaya dan
pameran.
Saat
ini
muatan lokal
di
sekolah-sekolah bisa
dijadikan
jalan
untuk memperkenalkan
sejarah Bali modern. Yang
dimaksudkan
sejarah
Bali
modern adalah
sejarah
perjuangan membebaskan
rakyat Bali
dari
belenggu penjajahan,
baik
pada saat
menjelang
kemerdekaan
maupun
mempertahankan kemerdekaan.
Sejarah Bali modern
bisa
dikaitkan pula dengan
sejarah
perjuangan bangsa
ini.
Adapun sejarah Bali
kuno
bisa disebutkan
perjalanan
tokoh-tokoh
suci yang
membangun
peradaban
di Bali,
baik yang
menata
masalah adat,
kemasyarakatan
maupun
agamanya. Semisal
kisah
kedatangan Mpu
Kuturan,
kedatangan
Danghyang
Nirartha
dan
sebagainya. Justru
kisah Bali
kuno
ini yang banyak
melekat
di hati
orang Bali.
Kenapa?
Karena publikasinya
banyak
tersebar, dan
peninggalan
tokoh-tokoh
sejarah
itu masih
terawat
dengan baik
berupa
pura yang sampai
saat
ini dikunjungi
banyak
umat. Kalau
Puputan
Badung, Puputan
Klungkung,
Puputan
Jagaraga, kenangan
apa yang
masih
tersisa? Bisa
saja
pemerintah membuatkan
patung
atau monumen,
tetapi
akan menjadi ''benda
mati''
kalau monumen
itu tak
terurus
dan tak
memberi
penjelasan apa-apa
tentang
masa lalu.
* Putu
Setia