kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 26 April 2008

 Kultur


Bondres

Puputan
Klungkung

COBALAH kita bertanya kepada anak-anak remaja yang usai mengikuti ujian nasional untuk tingkat sekolah menengah atas: siapa pahlawan dari Klungkung? Mereka tidak tahu. Kalau pertanyaan diteruskan, apa mereka pernah mendengar istilah Puputan Klungkung? Mereka pun ragu dan sempat berpikir lama. ''Puputan Klungkung apa Puputan Badung? Kalau Badung pernah dengar,'' kata salah seorang pelajar ini.

Pertanyaan itu yang saya lontarkan Kamis sore yang lalu kepada beberapa pelajar yang usai mengikuti ujian nasional. Padahal pada hari itu, pagi harinya, ada seminar yang membicarakan Puputan Klungkung di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar. Bahkan seminar ini memperingati Seabad Puputan Klungkung dan Kebangkitan Nasional. Artinya, sudah 100 tahun Puputan Klungkung berlalu, tetapi banyak anak-anak muda yang tak mengetahui sejarah lokal daerahnya sendiri.

Saya pun seringkali mendengar Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga dan lain-lainnya, namun yang melekat dalam ingatan saya hanya Puputan Badung yang terjadi jauh sebelumnya, dan Puputan Margarana yang terjadi sesudahnya. Ini disebabkan kedua puputan itu (Badung dan Margarana) sudah memiliki banyak bahan publikasi, baik berupa buku yang bisa disebut modern (hasil penelitian dan dokumentasi otentik),maupun buku yang bercorak tradisional lewat karya sastra geguritan. Untuk Puputan Klungkung, seberapa banyak ada publikasinya? Saya tidak tahu.

Publikasi ini tentu saja penting, karena dari sinilah tingkat kepopuleran sebuah peristiwa akan terwujud. Belajar sejarah adalah belajar sesuatu hal yang populer, tokoh-tokohnya serasa dekat di hati. Anak-anak Bali tahu persis bagaimana kepahlawanan Pangeran Diponegoro, selain bukunya banyak, nama Diponegoro menjadi nama jalan besar di Denpasar. Pahlawan dari Sumatera seperti Teuku Umar, Imam Bonjol diabadikan sebagai nama jalan protokol di Denpasar. Mana ada pahlawan dari Bali yang namanya diabadikan di jalan protokol?

Kalau kita misalnya bertanya kepada para pelajar di Bali, siapa pahlawan wanita di Indonesia, mereka dengan fasih menjawab; Tjut Nyak Dien, Dewi Sartika, Raden Ajeng Kartini. Coba ditanya, apakah mereka tahu Sagung Wah, pahlawan wanita yang gigih di Tabanan? Pasti tidak. Siapa dia? Kapan berperang, mempertahankan apa, di mana berperang dan di mana gugurnya? Tak banyak publikasi yang lahir dari kepahlawanan ini. Bahkan nama-nama pahlawan Bali yang diabadikan pada jalan arternatif (bukan jalan protokol) tak banyak pula diketahui seberapa besar perjuangannya.

Kalau sejarah ini tak begitu melekat di hati banyak orang Bali, kita juga tak tahu apa sumbangan perjuangan mereka untuk bangsa ini. Artinya, apakah ada korelasi antara Puputan Klungkung dengan Kabangkitan Nasional yang terjadi dalam kurun waktu sama. Atau sejauh mana Puputan Klungkung menjadi jiwa dari perang kemerdekaan, apakah perang habis-habisan di Klungkung itu menjadi spirit perjuangan juga bagi prajurit I Gusti Ngurah Rai dalam pertempuran di Marga? Akan halnya andil Puputan Margarana dengan perjuangan bangsa ini tentu saja sangat besar, karena perjuangan I Gusti Ngurah Rai berkaitan erat dengan mempertahankan kemerdekaan. Patriotisme Ngurah Rai itu sudah jelas digambarkan dalam berbagai publikasi dan ini sudah melekat di hati banyak orang Bali.

Masalahnya sekarang adalah jika semangat dan jiwa puputan --baik Puputan Klungkung maupun puputan sebelumnya -- mau diwariskan kepada masyarakat Bali terutama generasi mudanya, langkah terbaik yang dilakukan adalah penulisan sejarah perjuangan itu secara populer. Penekanan kata populer ini penting, karena kebanyakan sejarah ditulis dengan tidak populer yang pada akhirnya kurang diminati untuk dibaca. Jika penulisan sejarah hanya berkutat pada tahun, nama pelaku, tempat peristiwa, saksi-saksi dan sebagainya, tak ada gereget untuk membacanya. Gaya penulisan disertasi atau karya ilmiah yang baku pada kalangan akademis, membuat orang tak berminat membaca buku sejarah. Ini pernah dilakukan pada saat menggali sejarah Puputan Badung. Ketika hasilnya berupa ''buku statistik'' tak banyak orang tertarik, tetapi ketika disampaikan dengan gaya bertutur, kisah perlawanan ini jadi populer. Bahkan berkali-kali kisah Puputan Badung itu ditampilkan dalam bentuk kesenian, baik kesenian drama gong maupun sendratari. Maklum, beberapa tahun lalu, perayaan Pupuan Badung dilakukan dengan sangat ''meriah'' dengan puncak acaranya lomba jalan beregu Candi Margarana - Alun-alun Puputan Badung, selain diisi seminar, diskusi budaya dan pameran.

Saat ini muatan lokal di sekolah-sekolah bisa dijadikan jalan untuk memperkenalkan sejarah Bali modern. Yang dimaksudkan sejarah Bali modern adalah sejarah perjuangan membebaskan rakyat Bali dari belenggu penjajahan, baik pada saat menjelang kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan. Sejarah Bali modern bisa dikaitkan pula dengan sejarah perjuangan bangsa ini. Adapun sejarah Bali kuno bisa disebutkan perjalanan tokoh-tokoh suci yang membangun peradaban di Bali, baik yang menata masalah adat, kemasyarakatan maupun agamanya. Semisal kisah kedatangan Mpu Kuturan, kedatangan Danghyang Nirartha dan sebagainya. Justru kisah Bali kuno ini yang banyak melekat di hati orang Bali. Kenapa? Karena publikasinya banyak tersebar, dan peninggalan tokoh-tokoh sejarah itu masih terawat dengan baik berupa pura yang sampai saat ini dikunjungi banyak umat. Kalau Puputan Badung, Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga, kenangan apa yang masih tersisa? Bisa saja pemerintah membuatkan patung atau monumen, tetapi akan menjadi ''benda mati'' kalau monumen itu tak terurus dan tak memberi penjelasan apa-apa tentang masa lalu. * Putu Setia

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)