kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Pon, 25 April 2008

 Aspirasi


Minimalkan
Kerusakan Lingkungan----
Warga
Pancasari Tetap Awasi Investor

PROYEK pembangunan vila di lereng Danau Buyan yang dipermasalahkan oleh anggota DPRD Buleleng, DPRD Bali, sejumlah warga dan pengamat lingkungan di Bali, membuat sejumlah tokoh adat dan tokoh desa di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, menjadi gerah. Pasalnya, pihak-pihak yang mempermasalahkan proyek tersebut seolah-olah mengesampingkan peran tokoh dan warga Desa Pancasari yang sudah bertahun-tahun sebagai penjaga lingkungan di sekitar Danau Buyan.

Padahal selama bertahun-tahun kami yang selalu menjaga wilayah danau dan hutan di daerah Pancasari ini, kata  Klian Desa Pakraman Pancasari I Wayan Mulia didampingi Ketua BPD Gede Darmada, prajuru Ulun Desa Pancasari  Gusti Ngurah Made Nuada dan Klian Banjar Yeh Mas Komang Rengayasa saat meninjau proyek pembangunan vila di lereng Danau Buyan, Kamis (24/4) kemarin.

Untuk itu, lanjut Mulia, ketika proyek vila yang dibuat oleh PT Nikita itu melakukan sosialisasi kepada tokoh dan warga desa, mereka tetap melakukan kajian-kajian secara mendalam. Setelah dilakukan kejadian dan dampak baik dan buruknya, maka proyek itu mendapat dukungan dari masayarakat. Kalau pun ada yang tidak mendukung, itu tak lebih dari lima orang, katanya.

Hal itu dibenarkan Ketua BPD Gede Darmada. Menurutnya, proyek itu sudah dipikirkan masak-masak oleh warga di Desa Pancasari. Karena sebuah proyek tentu saja ada positif dan negatifnya. Jika pemerintah mau melakukan kajian terhadap proyek itu, ia berharap kajian harus dilakukan dengan baik dengan mempertimbangkan keberadaan warga di Pancasari. Karena kami juga ikut menjadi penjaga lingkungan di wilayah ini, katanya.

Sebagai warga yang turut menjadi penjaga lingkungan di Danau Buyan, kata Darmada, pihaknya tak akan membiarkan investor masuk sengan seenaknya. Jika kerugiannya lebih banyak dari keuntungannya, maka investor itu pasti akan dilarang masuk ke Pancasari. Kami akan tetap melakukan pengewasan terhadap investor, karena kami yang akan menerima dampak paling awal, katanya.

Prajuru Ulun Desa Pancasari Gusti Ngurah Made Nuada mengatakan pihaknya mendukung keberadaan proyek itu karena salah satu investornya berasal dari Desa Pancasari. Jadi, menurutnya, tak mungkin oarng Pancasari menghancurkan Pancasari. Kalau mereka membuat kesalahan terhadap lingkungan, maka orang Pancasari akan memperingatkannya. Jadi, kami mendukung, namun urusan IMB, RTRW atau Amdal itu urusan pemerintah dan lembaga berwenang, silahkan mereka yang mengkajinya, katanya.  

Kerusakan Lingkungan 

Mengenai kekahwatiran adanya dampak lingkungan, Wayan Mulia mengatakan masalah banjir, pendangkalan danau dan longsor, di Desa Pancasari merupakan fenomena alam yang sudah sering terjadi. Bahkan pada tahun 1960-an, Desa Pancasari belum didatangi oleh investor, belum ada vila, belum ada lapangan golf, namun banjir saat itu sudah sering terjadi. Namun dengan belajar dari pengalaman warga di Pancasari bisa mengatasi banjir dan pendangkalan danau secara swadaya. Selama ini kami sudah sering melakukan penanaman pohon secara swadaya, katanya.

Bahkan Mulia mengkritik program-program penghijauan yang dilakukan oleh pemerintah belakangan ini. menurutnya, program penghijauan itu lebih banyak bersifat seremonial. Mereka biasa melakukan penanaman pohon di hutan lindung, di tepi danau dan tempat-tempat yang bukan menjadi milik warga. Setelah ditanam pohon itu tidak mendapatkan pemeliharaan yang baik sehingga mati.

Berbeda dengan program penghijauan yang dilakukan secara swadaya. Menurut Mulia, penanaman pohon secara swadaya lebih banyak dilakukan di lahan-lahan yang memang dekat dengan warga atau di tanah milik warga. Penghijauan itu lebih efektif karena akan selalu bisa dipantau oleh warga. Jika ditanam di hutan lindung biasanya dibiarkan begitu saja, padahal harusnya pemerintah melanjutkan program penanaman itu dengan program pemeliharaan sampai pohon itu jadi besar, katanya.

Begitu juga dengan terjadinya pendangkalan danau. Prajuru Ulun Desa Pancasari Gusti Ngurah Made Nuada mengatakan pendangkalan danau atau berkurangnya air di danau memang sudah sering terjadi dan dilihat dengan mata sendiri oleh warga Pancasari. Selain karena factor musim, pendangkalan terjadi karena banjir yang terjadi beberapa kali sejak tahun 1960 lalu. Dengan adanya fenomena seperti itu seharusnya pemerintah segera melakukan tindakan misalnya dengan membuat berbagai program penyelamatan. Selama ini warga kerap melakukan upaya sendiri dalam upaya penyelamatan lingkungan danau. Misalnya ketika danau ditumbuhi banyak enceng gondok, warga berinisiatif membersihkannya secara swadaya meski kemudian mendapat bantuan dari sejumlah pihak, katanya. (ole)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)