kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Pon, 25 April 2008

 Artikel


Partai politik, seharusnya mengerti bahwa mereka hanya bagian kecil dari sebuah komunitas publik besar yang ada di  sekitarnya. Karena itu, bagaimana pun partai politik harus sadar bahwa dirinya sesungguhnya (sekrup) kecil dan karena itu harus mengalah. Pilihan sikap untuk mengalah itu sebenarnya juga berarti sebuah kampanye (kampanye simpatik). Dalam hal pemanfaatan kepentingan umum untuk pengerahan massa, seharusnya dilakukan pada saat aktivitas publik masih sepi.
----------------------------------- 

Tindakan tidak simpatik pasti akan menjauhkan pelakuknya dari publik. Penampilan partai bahkan lebih dari  iklan bahan bangunan atau rokok yang menutup pemandangan publik (meski iklan itu telah mendapatkan izin). Pada titik ini, partai politik jelas-jelas tidak mencoba memahami bagaimana perasaan publik yang secara langsung memanfaatkan fasilitas tersebut.
-----------------------------------

Kampanye jangan Menyerobot Hak Milik Publik
Oleh GPB Suka Arjawa

MASA kampanye sembilan bulan yang ditetapkan undang-undang  untuk Pemilihan Umum 2009 memberikan kesempatan yang cukup luas bagi partai politik untuk unjuk gigi. Kampanye yang panjang ini juga bisa dipakai untuk memperlihatkan bagaimana sesungguhnya keberadaan partai yang bersangkutan. Beberapa pihak menyebutkan bahwa rentang waktu panjang ini memberi kesempatan bagi partai besar untuk semakin memperlihatkan keunggulannya. Tetapi pendapat ini tidak selalu benar.

-------------------------------

Dukungan dana besar belum tentu mampu memberikan gambaran positif bagi partai politik. Sebaliknya, partai politik kecil justru mempunyai kesempatan besar untuk menelikung partai politik besar dengan memanfaatkan metode-metode populer yang lebih mendidik masyarakat. Namun ingat, kampanye rapat umum baru dimulai bulan Maret tahun depan!

Dalam praktik, sebagian kegiatan kampanye (yakni berupa pemasangan alat peraga) sebenarnya telah banyak dilakukan oleh partai-partai politik yang mempunyai modal besar, jauh sebelum  waktu kampanye dimulai. Di masa pemilu sebelumnya juga telah dilangsungkan kampanye oleh berbagai partai politik. Tetapi kelemahan paling mendasar dari kampanye model demikian adalah membalikkan fenomena sosial yang sudah ada. Pembalikan tersebut berupa penyerobotan hak  milik publik menuju kepentingan privat (dalam hal ini kepentingan kelompok). Contoh paling umum pembalikan fenomena itu adalah pemasangan spanduk dan pemanfaatan jalan. Partai politik, terutama partai politik yang merasa dirinya besar,  dengan seenaknya memasang spanduk di pinggir-pinggir jalan jalan besar, baik itu menempel di pohon, memasang melalui tiang buatan maupun memasang baliho yang ukurannya raksasa. Aturan yang dikeluarkan undang-undang memang memberikan kesempatan tetapi di tempat-tempat tertentu yang tidak mengganggu. Fakta yang kita lihat adalah eksploitasi wilayah publik oleh kepentingan pribadi (partai politik) dengan menghiasi hampir seluruh jalan raya kabupaten (atau kecamatan atau propinsi) dengan berbagai macam ukuran spanduk dan baliho. Lebih celaka lagi, demi mudahnya pengikat spanduk, pinggiran jembatan juga ''dibajak'' untuk itu.

Praktik-praktik seperti ini adalah perampasan wilayah publik oleh kepentingan privat, kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok partai politik. Ini merupakan kekeliruan sosial paling besar bagi partai politik yang melakukan ''pembajakan''  milik publik seperti itu. Pembajakan milik publik tentu saja merupakan tindakan yang tidak simpatik. Tindakan tidak simpatik pasti akan menjauhkan pelakuknya dari publik. Penampilan partai bahkan lebih dari  iklan bahan bangunan atau rokok yang menutup pemandangan publik (meski iklan itu telah mendapatkan izin). Pada titik ini, partai politik jelas-jelas tidak mencoba memahami bagaimana perasaan publik yang secara langsung memanfaatkan fasilitas tersebut. Partai politik seolah tidak mencoba menguji pertanyaan, tidakkah publik merasa jengkel jika pemandangan alam mereka dihalangi oleh baliho besar atau bendera berukuran raksasa. Atau tidakkah publik sudah bosan dengan metode-metode kuno seperti itu? Partai politik semestinya juga mencoba menguji melalui penelitian-penelitian kecil seperti fenomena penurunan perolehan suara dengan tampilan publik yang tidak populer. Kajian-kajian inilah yang tidak dilakukan oleh partai politik, yang justru kebanyakan dilakukan oleh partai politik (yang rumongso) besar.

Termasuk penyerobotan hak publik ini adalah pemakaian jalanan umum oleh massa partai politik. Ini biasanya terjadi pada waktu kampanye rapat umum.  Sering kali pengerahan massa menuju tempat rapat umum, waktunya dilakukan berbenturan dengan saat aktivitas umum sedang ramai, meski itu dilakukan pada waktu hari libur. Bayangkan saja, arak-arakan massa partai politik melintas di jalan umum sekitar pukul 10 pagi. Ini sungguh fenomena yang luar biasa konyol. Bukan saja kemacetan yang mengorbankan publik ayang terjadi, tetapi juga ada pameran kekuasaan melalui satuan pengamanan partai. 

Bagian Komunitas Publik

Partai politik, seharusnya mengerti bahwa mereka hanya bagian kecil dari sebuah komunitas publik besar yang ada di  sekitarnya. Karena itu, bagaimana pun partai politik harus sadar bahwa dirinya sesungguhnya (sekrup) kecil dan karena itu harus mengalah. Pilihan sikap untuk mengalah itu sebenarnya juga berarti sebuah kampanye (kampanye simpatik). Dalam hal pemanfaatan kepentingan umum untuk pengerahan massa, seharusnya dilakukan pada saat aktivitas publik masih sepi. Jadi, tidak salah jika misalnya iring-iringan itu berangkat pagi-pagi agar tidak mengganggu kepentingan umum. Sekali lagi, partai politik jangan merasa besar karena ia sekadar bagian kecil dari kominitas besar yang bernama  masyarakat itu.

Dengan demikian, partai-partai kecil yang kebetulan memiliki dana yang tidak begitu besar, bisa melakukan hal yang sebaliknya dari praktik apa yang diutarakan tersebut, yang biasanya sering dilakukan oleh partai politik yang merasa dirinya besar. Partai politik kecil jangan sampai melakukan penyerobotan dan pembajakan terhadap milik dan kepentingan publik. Biarkan masyarakat melihat pemandangan gunung dari kejauhan, biarkan mereka melihat hijau rimbunnya pepohonan, dan berikan kelancaran bagi masyarakat untuk menikmati jalan raya. Setelah seminggu bekerja di hari libur biarkan masyarakat leluasa menikmati liburan, meregangkan otot-ototnya. Jangan hari Minggu mereka ''diperkosa'' lagi dengan berbagai kegiatan. Lebih baik kampanye yang langsung menyentuh kepentingan publik, semisal mencegah penyakit menular, mencegah dampak pemakaian bahan kimia pada makanan, manfaat keterampilan pribadi bagi masa depan, sarjana pengangguran dan sebagainaya yang lebih menyentuh masyarakat. Jangan merasa berjaya hanya semata-mata karena  bisa memasang bendera besar di pinggir jalan. Kalau hanya menempelkan/memasang spanduk seperti itu, siapa pun. Tetapi tidak banyak yang mampu menjelaskan manfaat keterampilan memasak bagi masa depan generasi muda.

-----------------------

* Kekeliruan sosial paling besar bagi partai politik yang melakukan ''pembajakan'' milik publik. Pembajakan milik publik tentu saja merupakan tindakan yang tidak simpatik.

* Partai politik seolah tidak mencoba menguji pertanyaan, tidakkah publik merasa jengkel jika pemandangan alam mereka dihalangi oleh baliho besar atau bendera berukuran raksasa.

* Lebih baik kampanye yang langsung menyentuh kepentingan publik.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)