Partai politik, seharusnya mengerti bahwa mereka hanya
bagian kecil dari sebuah komunitas publik besar yang ada
di sekitarnya. Karena itu, bagaimana pun partai
politik harus sadar bahwa dirinya sesungguhnya (sekrup)
kecil dan karena itu harus mengalah. Pilihan sikap untuk
mengalah itu sebenarnya juga berarti sebuah kampanye
(kampanye simpatik). Dalam hal pemanfaatan kepentingan
umum untuk pengerahan massa, seharusnya dilakukan pada
saat aktivitas publik masih sepi.
-----------------------------------
Tindakan tidak simpatik pasti akan menjauhkan pelakuknya
dari publik. Penampilan partai bahkan lebih dari
iklan bahan bangunan atau rokok yang menutup pemandangan
publik (meski iklan itu telah mendapatkan izin). Pada
titik ini, partai politik jelas-jelas tidak mencoba
memahami bagaimana perasaan publik yang secara langsung
memanfaatkan fasilitas tersebut.
-----------------------------------
Kampanye
jangan Menyerobot Hak Milik Publik
Oleh GPB Suka Arjawa
MASA
kampanye sembilan bulan yang ditetapkan undang-undang
untuk Pemilihan Umum 2009 memberikan kesempatan yang
cukup luas bagi partai politik untuk unjuk gigi.
Kampanye yang panjang ini juga bisa dipakai untuk
memperlihatkan bagaimana sesungguhnya keberadaan partai
yang bersangkutan. Beberapa pihak menyebutkan bahwa
rentang waktu panjang ini memberi kesempatan bagi partai
besar untuk semakin memperlihatkan keunggulannya. Tetapi
pendapat ini tidak selalu benar.
-------------------------------
Dukungan dana besar belum tentu mampu memberikan
gambaran positif bagi partai politik. Sebaliknya, partai
politik kecil justru mempunyai kesempatan besar untuk
menelikung partai politik besar dengan memanfaatkan
metode-metode populer yang lebih mendidik masyarakat.
Namun ingat, kampanye rapat umum baru dimulai bulan
Maret tahun depan!
Dalam praktik, sebagian kegiatan kampanye (yakni berupa
pemasangan alat peraga) sebenarnya telah banyak
dilakukan oleh partai-partai politik yang mempunyai
modal besar, jauh sebelum waktu kampanye dimulai.
Di masa pemilu sebelumnya juga telah dilangsungkan
kampanye oleh berbagai partai politik. Tetapi kelemahan
paling mendasar dari kampanye model demikian adalah
membalikkan fenomena sosial yang sudah ada. Pembalikan
tersebut berupa penyerobotan hak milik publik
menuju kepentingan privat (dalam hal ini kepentingan
kelompok). Contoh paling umum pembalikan fenomena itu
adalah pemasangan spanduk dan pemanfaatan jalan. Partai
politik, terutama partai politik yang merasa dirinya
besar, dengan seenaknya memasang spanduk di
pinggir-pinggir jalan jalan besar, baik itu menempel di
pohon, memasang melalui tiang buatan maupun memasang
baliho yang ukurannya raksasa. Aturan yang dikeluarkan
undang-undang memang memberikan kesempatan tetapi di
tempat-tempat tertentu yang tidak mengganggu. Fakta yang
kita lihat adalah eksploitasi wilayah publik oleh
kepentingan pribadi (partai politik) dengan menghiasi
hampir seluruh jalan raya kabupaten (atau kecamatan atau
propinsi) dengan berbagai macam ukuran spanduk dan
baliho. Lebih celaka lagi, demi mudahnya pengikat
spanduk, pinggiran jembatan juga ''dibajak'' untuk itu.
Praktik-praktik seperti ini adalah perampasan wilayah
publik oleh kepentingan privat, kepentingan pribadi atau
kepentingan kelompok partai politik. Ini merupakan
kekeliruan sosial paling besar bagi partai politik yang
melakukan ''pembajakan'' milik publik seperti itu.
Pembajakan milik publik tentu saja merupakan tindakan
yang tidak simpatik. Tindakan tidak simpatik pasti akan
menjauhkan pelakuknya dari publik. Penampilan partai
bahkan lebih dari iklan bahan bangunan atau rokok
yang menutup pemandangan publik (meski iklan itu telah
mendapatkan izin). Pada titik ini, partai politik
jelas-jelas tidak mencoba memahami bagaimana perasaan
publik yang secara langsung memanfaatkan fasilitas
tersebut. Partai politik seolah tidak mencoba menguji
pertanyaan, tidakkah publik merasa jengkel jika
pemandangan alam mereka dihalangi oleh baliho besar atau
bendera berukuran raksasa. Atau tidakkah publik sudah
bosan dengan metode-metode kuno seperti itu? Partai
politik semestinya juga mencoba menguji melalui
penelitian-penelitian kecil seperti fenomena penurunan
perolehan suara dengan tampilan publik yang tidak
populer. Kajian-kajian inilah yang tidak dilakukan oleh
partai politik, yang justru kebanyakan dilakukan oleh
partai politik (yang rumongso) besar.
Termasuk penyerobotan hak publik ini adalah pemakaian
jalanan umum oleh massa partai politik. Ini biasanya
terjadi pada waktu kampanye rapat umum. Sering
kali pengerahan massa menuju tempat rapat umum, waktunya
dilakukan berbenturan dengan saat aktivitas umum sedang
ramai, meski itu dilakukan pada waktu hari libur.
Bayangkan saja, arak-arakan massa partai politik
melintas di jalan umum sekitar pukul 10 pagi. Ini
sungguh fenomena yang luar biasa konyol. Bukan saja
kemacetan yang mengorbankan publik ayang terjadi, tetapi
juga ada pameran kekuasaan melalui satuan pengamanan
partai.
Bagian Komunitas Publik
Partai politik, seharusnya mengerti bahwa mereka hanya
bagian kecil dari sebuah komunitas publik besar yang ada
di sekitarnya. Karena itu, bagaimana pun partai
politik harus sadar bahwa dirinya sesungguhnya (sekrup)
kecil dan karena itu harus mengalah. Pilihan sikap untuk
mengalah itu sebenarnya juga berarti sebuah kampanye
(kampanye simpatik). Dalam hal pemanfaatan kepentingan
umum untuk pengerahan massa, seharusnya dilakukan pada
saat aktivitas publik masih sepi. Jadi, tidak salah jika
misalnya iring-iringan itu berangkat pagi-pagi agar
tidak mengganggu kepentingan umum. Sekali lagi, partai
politik jangan merasa besar karena ia sekadar bagian
kecil dari kominitas besar yang bernama masyarakat
itu.
Dengan demikian, partai-partai kecil yang kebetulan
memiliki dana yang tidak begitu besar, bisa melakukan
hal yang sebaliknya dari praktik apa yang diutarakan
tersebut, yang biasanya sering dilakukan oleh partai
politik yang merasa dirinya besar. Partai politik kecil
jangan sampai melakukan penyerobotan dan pembajakan
terhadap milik dan kepentingan publik. Biarkan
masyarakat melihat pemandangan gunung dari kejauhan,
biarkan mereka melihat hijau rimbunnya pepohonan, dan
berikan kelancaran bagi masyarakat untuk menikmati jalan
raya. Setelah seminggu bekerja di hari libur biarkan
masyarakat leluasa menikmati liburan, meregangkan
otot-ototnya. Jangan hari Minggu mereka ''diperkosa''
lagi dengan berbagai kegiatan. Lebih baik kampanye yang
langsung menyentuh kepentingan publik, semisal mencegah
penyakit menular, mencegah dampak pemakaian bahan kimia
pada makanan, manfaat keterampilan pribadi bagi masa
depan, sarjana pengangguran dan sebagainaya yang lebih
menyentuh masyarakat. Jangan merasa berjaya hanya
semata-mata karena bisa memasang bendera besar di
pinggir jalan. Kalau hanya menempelkan/memasang spanduk
seperti itu, siapa pun. Tetapi tidak banyak yang mampu
menjelaskan manfaat keterampilan memasak bagi masa depan
generasi muda.
-----------------------
*
Kekeliruan sosial paling besar bagi partai politik yang
melakukan ''pembajakan'' milik publik. Pembajakan milik
publik tentu saja merupakan tindakan yang tidak
simpatik.
*
Partai politik seolah tidak mencoba menguji pertanyaan,
tidakkah publik merasa jengkel jika pemandangan alam
mereka dihalangi oleh baliho besar atau bendera
berukuran raksasa.
*
Lebih baik kampanye yang langsung menyentuh kepentingan
publik.