Pengentasan
Kemiskinan
harus Dimulai
dari
Petani
Negara (Bali Post) -
Sekitar
60 % - 70 % rakyat Indonesia
adalah
petani.
Sayang,
sebagian
besar
di antaranya
tergolong
miskin.
Karenanya,
pengentasan
kemiskinan
seharusnya
dimulai
dari petani.
Hal ini
disampaikan
Bupati
Jembrana Prof. Winasa
saat
memberikan pengarahan
kepada
pengurus Dewan
Pimpinan
Kabupaten
Himpunan
Kerukunan
Tani
Indonesia (DPK HKTI) Jembrana
beberapa
waktu
lalu di
Gedung
Mendopo Kesari,
Negara.
Biarpun
kemiskinan
menjadi
masalah nasional,
Winasa
tidak menginginkan
kemiskinan
berlarut-larut
ada di
Jembrana.
Menurutnya,
kemiskinan
itu
bisa diselesaikan
dengan
mensejahterakan petani.
''Kan
kita
sudah tahu
kalau
kemiskinan terbanyak
ada
pada petani.
Jadi
obatnya,
sejahterakanlah
petani,
dan sejahteralah
Indonesia
tercinta
ini,''
ungkapnya.
Untuk
memperbaiki
kesejahteraan
petani,
Winasa mengusulkan
agar petani
merubah
pola pikirnya yang
dari
petik kemudian
jual
menjadi petik,
olah,
kemas baru
kemudian
dijual.
''Kalau
kita
mampu seperti
itu,
produk-produk pertanian
akan
memiliki nilai
tambah yang
makin
besar,'' usulnya.
Menyikapi
keberadaan
subak,
Winasa menekankan
agar subak
jangan
semata-mata dijadikan
objek
wisata.
Ironis,
subak
itu tidak
memperoleh
apa-apa
dari pariwisata yang
menjualnya
sebagai
objek wisata.
''Selama
ini
subak kita
perkenalkan
sebagai
objek wisata
namun
subak itu
malah
tidak memperoleh
apa-apa
dari pariwisata.
Agar
bisa
bertahan, subak
harus
diberikan peranan
ekonomi,''
jelasnya.
Hal senada
disampaikan
Ketua DPP HKTI Bali Prof.
Suparta.
Separuh
lebih
penduduk miskin
di
Bali
adalah
petani sehingga
diperlukan
pembangunan
pertanian yang
terintegrasi
untuk
pengentasan kemiskinan
di Bali.
''Dari 147.000 KK Miskin
di Bali, 55 %
di
antaranya adalah
petani,''
katanya.
Suparta
memuji
terobosan Winasa
dalam
membangun pertanian
di
Jembrana.
Terutama
dalam
hal pemberian
proteksi
kepada
petani dan
terobosan
pada
penggunaan pupuk
organik.
''Andaikan
semua
bupati di
Bali
seperti
itu, kemiskinan
di Bali
akan segera
dapat
dientaskan,'' tandasnya.
Ia
sepakat
untuk memberikan
peranan
ekonomi kepada
subak. ''Kalau
keberadaan
subak yang
selama
ini hanya
menjadi
lembaga sosial
dan
religius tanpa
diberikan
peranan
ekonomi, saya
pikir
subak tidak
akan
bisa survive.
Saya
sepakat
dengan pemikiran Pak
Winasa
untuk memberikan
peranan
ekonomi kepada
subak agar
bisa
terus ada
dan
kian mapan,''
pungkasnya.
(r/*)