kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Pon, 25 April 2008

 Bali


Pengentasan
Kemiskinan harus Dimulai dari Petani

Negara (Bali Post) -
Sekitar
60 % - 70 % rakyat Indonesia adalah petani. Sayang, sebagian besar di antaranya tergolong miskin. Karenanya, pengentasan kemiskinan seharusnya dimulai dari petani. Hal ini disampaikan Bupati Jembrana Prof. Winasa saat memberikan pengarahan kepada pengurus Dewan Pimpinan Kabupaten Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPK HKTI) Jembrana beberapa waktu lalu di Gedung Mendopo Kesari, Negara.

Biarpun kemiskinan menjadi masalah nasional, Winasa tidak menginginkan kemiskinan berlarut-larut ada di Jembrana. Menurutnya, kemiskinan itu bisa diselesaikan dengan mensejahterakan petani. ''Kan kita sudah tahu kalau kemiskinan terbanyak ada pada petani. Jadi obatnya, sejahterakanlah petani, dan sejahteralah Indonesia tercinta ini,'' ungkapnya.

Untuk memperbaiki kesejahteraan petani, Winasa mengusulkan agar petani merubah pola pikirnya yang dari petik kemudian jual menjadi petik, olah, kemas baru kemudian dijual. ''Kalau kita mampu seperti itu, produk-produk pertanian akan memiliki nilai tambah yang makin besar,'' usulnya.

Menyikapi keberadaan subak, Winasa menekankan agar subak jangan semata-mata dijadikan objek wisata. Ironis, subak itu tidak memperoleh apa-apa dari pariwisata yang menjualnya sebagai objek wisata. ''Selama ini subak kita perkenalkan sebagai objek wisata namun subak itu malah tidak memperoleh apa-apa dari pariwisata. Agar bisa bertahan, subak harus diberikan peranan ekonomi,'' jelasnya.

 

Hal senada disampaikan Ketua DPP HKTI Bali Prof. Suparta. Separuh lebih penduduk miskin di Bali adalah petani sehingga diperlukan pembangunan pertanian yang terintegrasi untuk pengentasan kemiskinan di Bali. ''Dari 147.000 KK Miskin di Bali, 55 % di antaranya adalah petani,'' katanya.

Suparta memuji terobosan Winasa dalam membangun pertanian di Jembrana. Terutama dalam hal pemberian proteksi kepada petani dan terobosan pada penggunaan pupuk organik. ''Andaikan semua bupati di Bali seperti itu, kemiskinan di Bali akan segera dapat dientaskan,'' tandasnya.

Ia sepakat untuk memberikan peranan ekonomi kepada subak. ''Kalau keberadaan subak yang selama ini hanya menjadi lembaga sosial dan religius tanpa diberikan peranan ekonomi, saya pikir subak tidak akan bisa survive. Saya sepakat dengan pemikiran Pak Winasa untuk memberikan peranan ekonomi kepada subak agar bisa terus ada dan kian mapan,'' pungkasnya. (r/*)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)