Pendekatan Sektor Kesehatan untuk Tanggulangi Gizi Buruk
Oleh dr. I Made Ady Wirawan
KEMISKINAN
dikatakan menjadi penyebab utama yang mendasari
terjadinya malnutrisi dan faktor-faktor determinannya.
Padahal tingkat keparahan dan penyebaran kasus kurang
gizi sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya
situasi politik dan ekonomi, tingkat pendidikan dan
sanitasi, kondisi cuaca dan musim, produksi bahan
makanan, adat dan budaya, prevalensi penyakit infeksi
dan efektivitas program-program di bidang gizi yang ada
serta ketersediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Secara umum masalah kurang gizi di masyarakat
dikelompokkan menjadi defisiensi makronutrien seperti
protein, karbohidrat dan lemak yang menyebabkan kurang
energi dan protein (KEP), dan defisiensi mikronutrien
seperti elektrolit, mineral dan vitamin. Perbaikan
manajemen dan pengendalian kurang energi dan protein dan
kekurangan mikronutrien akan berkontribusi secara
langsung terhadap penanggulangan gizi buruk.
Melihat faktor-faktor yang berpengaruh, tindakan
pencegahan untuk mengatasi KEP bisa sangat luas dari
strategi peningkatan pendapatan, pendidikan gizi,
suplementasi makanan hingga subsidi bahan pangan, serta
tindakan lain yang berefek pada peningkatan
kesejahteraan masyarakat secara umum.
Dalam mengatasi KEP yang umumnya terjadi di daerah
dengan kondisi miskin, fokus harus diarahan pada kondisi
spesifik yang ada. Pengobatan infeksi cacing 3 kali
setahun misalnya akan sangat bermanfaat dan dapat
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Penanganan diare yang saling terkait dan seperti
membentuk lingkaran setan dengan KEP juga memerlukan
perhatian khusus.
Penyuluhan mengenai pentingnya ASI, peningkatan kondisi
air bersih dan kebersihan lingkungan, monitoring
pertumbuhan anak melalui sarana pelayanan kesehatan
telah terbukti sangat efektif. Oleh karena itu hal yang
sangat mungkin namun sulit diwujudkan adalah
mengaktifkan kembali posyandu-posyandu terutama yang
sudah tidak berjalan pada tingkat dusun.
Dalam mengatasi masalah defisiensi mikronutrien,
konsumsi makanan yang kaya mikronutrien dan bisa diserap
oleh pencernaan merupakan tindakan pencegahan yang
paling baik. Di komunitas di mana persediaan
makanan-makanan tersebut tidak ada, diperlukan strategi
khusus dalam pencegahan dan pengobatan kasus defisiensi
mikronutrien.
Suplemen mikronutrien biasanya tersedia di tempat-tempat
pelayanan kesehatan dan bisa dikonsumsi secara oral (umumnya
tablet) atau (lebih jarang) melalui suntikan. Prioritas
harus diberikan kepada populasi yang lebih rentan
seperti wanita hamil dan anak-anak. Suplementasi ini
sangat dianjurkan pada kasus-kasus kekurangan
mikronutrien tertentu saat pendekatan yang lain sudah
terlalu terlambat. Meskipun beberapa mikronutrien harus
dikonsumsi tiap hari atau minggu (seperti zat besi dan
zinc), jenis yang lain bisa tersimpan di dalam tubuh dan
hanya perlu diberikan dalam interval bulan atau tahun (seperti
vitamin A dan iodium). Akan tetapi cara pemberian,
kepatuhan penderita, dan potensi efek samping juga harus
dipertimbangkan.
Strategi yang berbasis bahan makanan mungkin menjadi
pendekatan yang paling menjanjikan dan berkesinambungan
untuk mengatasi masalah gizi buruk. Meningkatkan variasi
jenis makanan terutama yang berasal dari kebun dan
ternak sendiri juga sangat efektif. Penyuluhan gizi
sebaiknya diberikan pada tingkat rumah tangga untuk
meningkatkan produksi sayur-sayuran berdaun hijau tua,
buah-buahan berwarna kuning dan orange, unggas, telur,
ikan dan susu. Program penyuluhan gizi mengenai
keberadaan produk pangan yang kaya protein dan
mikronutrien di daerah setempat akan sangat efektif dan
bekesinambungan.
Strategi yang juga sangat memungkinkan di masa depan
adalah mencegah defisiensi mikronutrien ini dengan
mengembangkan bibit pertanian yang kaya mikronutrien
melalui teknik konvensional ataupun rekayasa genetika.
Karena gizi buruk memiliki banyak faktor penentu, hanya
intervensi yang dilakukan secara bersama dan sinergis
dalam bentuk program-program yang multisektoral yang
bisa efektif. Berbagai langkah nyata diperlukan termasuk
intervensi di bidang pertanian, mikronutrien, penyediaan
air minum yang aman dan sanitasi yang baik, pendidikan
tentang gizi dan makanan, memberikan perhatin khusus
kepada kelompok yang rentan serta pengadaan pelayanan
kesehatan yang berkualitas.
Penulis, dosen PS IKM Universitas Udayana,
mahasiswa S2 Monash University, Australia