kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 2 April 2008

 Ajeg Bali


Pura Amerthasari Tempat Mohon Kesejahteraan

Pura Dang Kahyangan Amerthasari terletak sekitar 1,5 km arah selatan kota Negara, tepatnya di Banjar Mertasari, Desa Adat Lokasari, Loloan Timur, Negara. Dari dulu hingga sekarang Pura ini merupakan sungsungan subak. Hal tersebut terbukti setiap awal musim tanam selalu dilakukan kegiatan dan upacara memohon kepada Hyang Widhi Wasa di pura tersebut. Pura tersebut termasuk Pura Dang Kahyangan (sungsungan jagat) karena yang distanakan di sana adalah seorang guru agama besar pada zamannya.

======================================================= 

Bangunan pura ini pernah direnovasi tahun 1961. Namun di tahun 1965 bangunan pura tersebut sempat telantar sebelum belum sempat selesai, akhirnya pada 14 Juli 1976 bangunan tersebut ambruk total akibat gempa bumi yang terjadi. Hingga kemudian empat desa adat menjadi pekandel pura tersebut yakni Desa Adat BB Agung, Puseh Agung Kelurahan Banjar Tengah, Desa Adat Kertha Jaya Kelurahan Pendem dan Desa Adat Lokasari Kelurahan Loloan Timur.

Awal berdirinya Pura Amerthasari ini sebelum direhab tahun 1965 hanya ada satu pura yang terletak di bawah pohon beringin besar. Menurut Pemangku Pura Amerthasari, Mangku Nendra, di sekitar pura tersebut sebelumnya ada telaga kecil. Baru setelah dilakukan rehab, telaga itu dipindahkan dan dibuat meru di sana. Dan sekarang di atas telaga itu dibuatkan Padma. Sedangkan air telaga itu diambil secara modern dari dalam tanah ini sekitar 15 meter, lalu dialirkan di bawah Padma.

Nama pura ini sebenarnya Amertasari, namun karena orang mempermudah lafal dan biar cepat maka biasa disebut Merthasari. Mangku generasi ketiga ini menjelaskan arti Amertasari itu Amerta yakni, seluruh makanan, berfungsi, sedangkan Sari berarti isinya.

Mangku Nendra merupakan penerus dari pemangku sebelumnya, yakni Nengah Netra yang juga merupakan ayahnya almarhum. Sedangkan yang pertama, masih belum jelas karena pada saat itu pura masih belum dipugar.

Saat ini Pura Dangkahyangan Amerthasari memiliki beberapa pelinggih yakni pelinggih Ratu Nyoman, Padmasana, Meru, Pepelik, Taksu dan Dewa Ayu Manik Galih tempat menyembah Batara Sri.

Cikal-bakalnya adanya pura ini diawalai saat Danghyang Niratha mengajari beragama di Pura Gede Perancak kemudian langsung pindah ke Tanjung Tangis dan bertanya kepada kera-kera di mana ada desa lagi. Lalu kera tersebut menghadap ke utara, lalu ada Desa Budeng. Di sana ada bojog badeng atau ijah. Di sana bertanya lagi di mana ada desa, lalu kera tersebut menghadap kemari, ke barat, menuju Merthasari.

Sesampainya di desa ini, beliau mengajari masyarakat bertani pada khususnya. Penyungsung pura ini adalah empat desa yakni Desa Lokasari Kelurahan Loloan Timur, Pendem Desa Adat Kertajaya, BB Agung, Banjar Tengah. Dulu para pengempon kebanyakan dari petani, namun sekarang banyak pengemponnya dari Srono, Blambangan, Jawa Timur.

Selama 15 tahun menjadi pemangku, Nedra mengaku beberapa kali mengalami peristiwa aneh. Yang terakhir ini, pada 13 Desember 2007 lalu, pernah bajra (genta) berbunyi sendiri tepat pukul 10.00 pagi. Genta tersebut berbunyi sendiri dua kali. Diperkirakan yang madue (punya) genta tersebut mengambilnya. Tapi ketika dicek genta masih ada di tempat pemujaan.

Berselang dua malam sejak kejadian itu, ada tuak arak brem dipecahkan dan dikumpulkan pukul 09.00 pagi di tanah bawah tempat pemujaan. Tidak ada yang tahu siapa yang melakukan hal itu. Kemudian Mangku maprayah pada 24 Desember 2007 saat purnama pukul 20.00 malam di tempat ini. Kejadian aneh lainnya, juga dialaminya saat purnama tahun 90-an sekitar pukul 09.00 wita.

 

Sejarah Singkat

Setelah Dalem Waturenggong dari Gelgel (Klungkung) gagal niatnya untuk mempersunting putri Blambangan (Cokorda Ayu Mas) maka Raja Blambangan sempat diasut kaki tangannya untuk mencurigai Danghyang Nirartha, bahwa beliau telah berbuat serong terhadap selir dan Putri Raja.

Untuk menghindari kemurkaan sang Dalem maka Danghyang Nirartha bersama keluarganya pergi ke Bali dengan menaiki perahu bocor. Beliau sempat singgah di Tanjung Tangis (pesisir selatan Kabupaten Jembrana) pada tahun 1411 Caka, sekitar tahun 1489 Masehi. Di kawasan tersebut memang sudah ada tokoh (pemimpin) yang bergelar Gusti Ngurah Sawe Rangsasa.

Kehidupan beragama penduduk di kawasan tersebut menganut sistem animisme dan menyembah berhala (bukan menyembah Tuhan). Di sanalah kemudian Danghyang Nirartha mulai mengenalkan Padmasana sebagai tempat pemujaan terhadap Tuhan YME dan mengajarkan cara menyembah Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Maka terjadilah selisih paham antara sang pemimpin dan pendeta yang baru datang yang diakhiri dengan adu adnyana (kesaktian).

Dalam adu kesaktian itu, kekalahan ada pada pihak Gusti Ngurah Sawe Rangsasa yang akhirnya dia pergi meninggalkan kawasan tersebut. Danghyang Nirartha memandang perlu memperbaiki kehidupan beragama yang benar. Keluarga beliau sering ditinggalkan di rumah, yang mengakibatkan istri dan anak-anaknya berantakan.

Dalam hikayat diceritakan bahwa beliau menjumpai seekor naga yang mulutnya menganga lalu beliau masuk ke mulut naga sampai kepada perut naga tersebut. Setelah ke luar dari perut naga tersebut, warna beliau berubah dan menyeramkan, akhirnya anak dan istri beliau lari tunggang-langgang ketakutan.

Beliau tidak lama tinggal di kawasan Tanjung Tangis ini, setelah penduduk di sana mengerti tentang melaksanakan agama yang benar, beliau akhirnya mendirikan pura sebagai tempat persembahyangan kini disebut Pura Dang Kahyangan Perancak. Dan, kawasan tersebut akhirnya disebut Desa Perancak, pura ini merupakan tempat memohon waranugraha Ida Sang Hyang Widhi bila kita hendak memulai belajar ilmu pengetahuan agama (kerahayuan).

Beliau melanjutkan perjalanan di kawasan Telaga Taman sekitar tahun 1485 Masehi. Kawasan Telaga Taman merupakan kawasan yang sangat subur. Kehidupan beragama sudah agak baik. Di kawasan ini sudah ada lima tempat pemujaan yaitu bagian tengah dan di pojok-pojok kawasan. Kedatangan Danghyang Nirartha di kawasan ini tidak terjadi perselisihan paham dengan tokoh bernama Empu Macan Gading. Di daerah ini beliau mengajarkan ilmu pertanian dan pengolahan hasil pertanian.

Adanya Pura Lesung Batu sebagai tempat pemujaan adalah untuk memohon amreta (kesejahteraan) ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sebagai pelayan pendeta di kawasan ini adalah seorang keturunan dari Pasek dan berdasarkan hikayat ini keturunan yang pantang terhadap ikan julit. Lama-kelamaan kawasan ini berubah menjadi Desa Amrethasari dan sekarang menjadi Merthasari.

Setelah penduduk mengerti cara beragama dan mengolah pertanian, beliau meninggalkan kawasan tersebut. Dengan menuju ke timur dan diantar oleh penduduk (ketugtug) karena tersiar berita bahwa di kawasan bagian timur penduduk diserang wabah penyakit. Kadatangan beliau di sana disambut baik oleh penduduk. Dan, beliau di sana mendapat julukan Ida Peranda Sakti Wahu Rawuh. Akhirnya beliau mendirikan tempat pemujaan yang fungsinya untuk menolak bala (nangluk merana). Yang sekarang kita kenal dengan nama Pura Rambut Siwi di Desa Yeh Embang.

Sebelum beliau diangkat menjadi bhagawanta pada masa pemerintahan Dalem Watu Renggong (tahun 1460-1550) beliau tiba di Gelgel berkisar tahun 1489 Masehi. Jadi ketiga Pura Dang Kahyangan di wilayah Jembrana memiliki fungsi yang berbeda yaitu Pura Perancak tempat memohon bila memperdalam ilmu agama dan pengetahuan. Di Pura Dang Kahyangan Amerthasari tempat memohonkan amreta (kesejahteraan) dan di Pura Rambut Siwi tempat memohonkan penolak bala (nangkluk merana). (sur)

1. Telaga - Telaga yang sudah dipindah di Pura Amerthasari, sekarang airnya diambil menggunakan cara modern.

2. Amerthasari - Pura Amerthasari yang terdapat di Negara.

3. Mangku Nendra

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)