kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 5 Maret 2008

 Ajeg Bali


Lempuyang
Madya
Stana
Mpu Genijaya 

Rsibhyah pitaro jatah
pitrbhyo
dewa manavah
devebhyastu
jagat sarvam
caram
sthanvanu purvasah.
(Manawa Dharmasastra.
III.201).
 

Maksudnya:

Dari para Resi lahirlah para leluhur, dari leluhur muncullah para Dewa dan Manawa atau manusia. Tetapi dari para Dewata munculah seluruh dunia ini yang bergerak dan yang tidak bergerak menurut normanya. 

SLOKA pustaka sastra Veda ini di dalamnya tersirat suatu konsep dinamika kehidupan yang baik untuk dilakukan dalam kehidupan bersama di bumi ini. Yang dimaksud dengan leluhur lahir dari para Resi itu adalah leluhur yang memiliki kualifikasi untuk menjadi panutan keturunannya.

Dalam kehidupan beragama Hindu di Bali konsepsi penataan sosial dengan landasan sistem raligi Hindu tersebut dapat kita dijumpai dalam sistem sosial Hindu di Bali. Dalam beberapa pustaka lontar ada dinyatakan bahwa leluhur orang-orang suci di Bali adalah Sang Hyang Pasupati yang berstana di Jawa Timur. Dari Sang Hyang Pasupati inilah menurunkan orang-orang suci di Bali yang setelah sebagai Dewa Pitara dipuja di berbagai Kahyangan Jagat di Bali.

Sang Hyang Pasupati sebagai leluhur orang-orang suci di Bali diceritakan dalam berbagai pustaka lontar di Bali. Nampaknya pustaka lontar yang menceritakan Sang Hyang Pasupati itu berasal dari pustaka Jawa Kuna yang bernama Tantu Pagelaran.

Sang Hyang Pasupati diceritakan menurunkan Sapta Hyang untuk berstana di berbagai gunung di Bali. Gunung dalam konsep Hindu tergolong Lingga Acala yaitu tempat suci untuk memuja Dewa manifestasi Tuhan dan para Dewa Pitara atau roh suci leluhur.

Demikianlah Sang Hyang Pasupati menurunkan tujuh orang suci yang dipuja di berbagai Kahyangan Jagat di Bali. Sapta Hyang itu adalah Hyang Putra Jaya dipuja di Pura Besakih. Hyang Dewi Danu dipuja di Pura Batur. Hyang Tugu dipuja Andakasa, Hyang Tumuwuh di Batukaru, Hyang Gumawang di Beratan dan Hyang Manik Corong di Pejeng.

Dari Sapta Hyang inilah terus menurunkan orang-orang suci. Keturunan selanjutnya ada yang disebut Panca Pandita atau sering disebut juga Panca Tirtha yaitu lima orang suci. Panca Pandita tersebut adalah lima orang suci yang bersaudara. Lima orang suci itu adalah Mpu Geni Jaya, Mpu Sumeru, Mpu Gana, Mpu Beradah dan Mpu Kuturan.

Mpu Geni Jaya salah seorang dari Panca Tirtha ini sebagai leluhurnya atau disebut Wangsa Karta dari Parasemeton Pasek Sanak Sapta Resi di Bali. Wangsa Karta adalah sebagai tokoh yang diyakini sebagai pembentuk Gotra dari suatu kelompok keluarga atau klan. Mpu Beradah adalah leluhur Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra.

Wangsa Brahmana Siwa di Bali meyakini Dang Hyang Dwijendra inilah sebagai Wangsa Karta atau pembentuk Gotranya. Demikianlah berbagai kelompok keluarga di Bali meyakini para Resilah sebagai Wangsa Karta atau pembentuk Gotra. Sistem Wangsa atau Gotra ini bukanlah membeda-bedakan harkat dan martabat manusia sebagai sistem Kasta. Tetapi untuk menegakkan pemujaan dan penghormatan pada leluhur.

Leluhur yang dapat melakukan lima kewajiban suci yang disebut Panca Wida dalam Nitisastra VIII.3 akan menurunkan putra-putra yang suputra. Salah satu ciri suputra itu adalah senantiasa berbakti pada leluhurnya. Suputra yang senantiasa berbakti pada leluhur dan pada Dewa manifestasi Tuhan menurut Sarasamuscaya 250 akan mendapatkan empat pahala mulia dalam hidupnya.

Empat pahala mulia itu adalah Ayu, Vidya, Yasa dan Bala. Demikian mulialah sesungguhnya tujuan sistem wangsa dalam membangun sistem sosial yang luhur atau Satsangga. Bukan untuk membeda-bedakan tinggi-rendahnya antara satu wangsa dengan wangsa yang lainnya.

Adanya Sapta Hyang dan Panca Tirtha di Bali ini sebagai suatu penerapan sistem religi Hindu dalam sistem sosial umat Hindu di Bali yang dihubungkan dengan sistem pemujaan. Dengan adanya Sapta Hyang dan Panca Tirtha di Bali diharapkan sebagai sumber inspirasi yang memotivasi umat Hindu agar senantiasa mengarahkan segala aktivitas hidupnya mengikuti tradisi orang-orang suci. Inilah penerapan sistem religi Hindu ke dalam sistem kebudayaan.

Prof. Dr. Koentjaraningrat menyatakan adanya tujuh sistem budaya. Tujuh sistem budaya itu adalah sistem religi, sistem sosial, sistem ilmu pengetahuan, sistem bahasa, sistem seni, sistem mata pencaharian dan sistem teknologi.

Menurut Koentjaraningrat, sistem budaya yang menjadi jiwa dari semua sistem budaya adalah sistem religi. Nampaknya di Bali orang-orang suci di Bali di masa lampau telah demikian cerdas menata ajaran agama Hindu menjadi sistem religi ke dalam kehidupan empiris.

Agama sebagai sabda Tuhan memang bukanlah kebudayaan karena bersifat supraempiris, artinya di luar pengalaman hidup manusia. Agama sabda suci Tuhan diaplikasikan ke dalam kehidupan empiris oleh umat Hindu. Proses aplikasi sabda Tuhan inilah yang melahirkan sistem religi. Dengan sistem religi ini diharapkan umat tergerak mengikuti tradisi mulia leluhurnya yang distanakan di tempat pemujaan.

Demikianlah Mpu Geni Jaya, Wangsa Karta Pasemetonan Warga Pasek Sanak Sapta Resi, distanakan di Pelinggih Gedong di Pura Lempuyang Madya sebagai salah satu wujud sistem religi Hindu ke dalam sistem sosial. Dengan adanya Pelinggih Gedong untuk memuja Mpu Geni Jaya di Pura Lempuhyang Madya akan menjadi sumber motivasi spiritual Pasemetonan Warga Pasek Sanak Sapta Resi untuk menyatukan berbagai persepsinya dalam membangun visi dan misi dalam kehidupan ini untuk membina kehidupan warga yang jagathita.

Ini artinya adanya suatu pura sebagai tempat pemujaan seperti Pura Lempuyang Madya ini bukanlah semata-mata sebagai tempat melangsungkan upacara yadnya. Pura tersebut hendaknya dijadikan sumber inspirasi mengembangkan berbagai persepsi yang baik dan benar tentang berbagai masalah kehidupan. Kalau persepsi umat sudah baik dan benar tentang berbagai persoalan hidup ini maka akan lebih memudahkan dalam merumuskan visi dan misi membangun kehidupan bersama dalam mewujudkan tujuan hidup mencapai Dharma, Artha, dan Kama sebagai landasan mencapai Moksha. * I Ketut Gobyah

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)