kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Pon, 26 Maret 2008

 Ajeg Bali


Bersumber dari Ajaran Suci Weda dan Sastra

BERDIRINYA Pura Besakih tak lepas dari peran tokoh dan para sulinggih. Adanya pelinggih berbagai tokoh di mandala ketiga Pura Penataran Agung Besakih itu membuktikan leluhur pendiri Pura Besakih adalah orang-orang suci yang amat paham intisari ajaran suci Weda. Orang suci itu bukan sekadar orang yang diupacarai sebagai dwijati dan berpakaian dengan atribut dwijati. Hal itu baru tampak luarnya saja. Upacara dan busana itu memang penting untuk membedakan dengan orang yang bukan dwijati. Tetapi yang juga amat penting adalah mampu berbuat yang berguna untuk menyatukan masyarakat berdasarkan pengetahuan suci yang sudah dimiliki.

Seyogianya setelah memiliki pengetahuan dan kemampuan suci barulah upacara dan busana suci itu diberikan. Karena pengetahuan suci dan kemampuan suci yang diaplikasikan itulah yang dapat meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai tokoh, apalagi disebut orang suci. Akan sangat berbahaya kalau orang yang belum menguasai pengetahuan suci dan mengaplikasikan kesuciannya itu dalam kehidupan diupacarai dan diberi busana suci.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah pendirian Pura Besakih dengan seluruh kompleksnya benar-benar orang suci. Karena di balik Pura Besakih dengan arsitektur yang amat indah, agung dan sakral itu terdapat konsep-konsep penataan kehidupan yang bersumber dari ajaran suci Weda dan sastra-sastranya. Dalam hal menyatukan umat, Pura Besakih mencerminkan adanya konsep kesetaraan, persaudaraan, dan kemerdekaan.

Di Pura Besakih banyak sekali simbol yang menempatkan sesama manusia setara. Mereka dibedakan berdasarkan profesi dan kualitas tingkah lakunya. Kalau orang itu jahat meskipun keturunan orang suci, dia adalah orang cacat. Tetapi menurut Manawa Dharmasastra, orang yang jahat itu kalau dihukum dengan benar dan adil oleh penguasa yang berwenang, maka penguasa itu akan mendapatkan sorga. Sedangkan orang yang dihukum itu setelah menjalankan hukuman dengan tepat dia seperti bayi baru lahir. Dia pun bisa memperbaiki dirinya untuk kembali pada jalan dharma. Bukan harus dikeluarkan dari masyarakat dan sampai keturunannya dikelompokkan tidak setara dengan orang lain. Tinggi-rendahnya seseorang itu bukan berdasarkan keturunannya, tetapi berdasarkan kualitas perilakunya.

Dalam Subha Sita ada dinyatakan vasudeva kutumbakam semua umat manusia bersaudara. Menurut ajaran Upanisad Brahman Atman Aikyam, Tuhan dan Atman yang bersemayam dalam diri setiap orang itu adalah sama. Dalam konteks ini semua atman manusia berasal dari Brahman. Hakikat manusia di samping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial.

Manusia itu baru bisa mengekspresikan kemanusiaannya apabila berada di tengah-tengah manusia lainnya. Sebagai makhluk sosial manusia itu disebut sama beda. Maksudnya manusia memiliki berbagai persamaan dan juga sekaligus perbedaan. Kedua-duanya juga ke hukum Rwa Bhineda. Ada perbedaan yang positif saling melengkapi. Dengan perbedaan itu membawa masyarakat bersinergi membangun kekuatan bersama menyelesaikan berbagai permasalahan hidup.

Di Pura Besakih perbedaan dan persamaan itu divisualisasikan secara positif dalam bentuk simbol sakral dalam wujud tempat pemujaan. Visualisasi simbolis sakral itu sebagai media mendidik umat Hindu agar benar-benar arif bijaksana mengelola persamaan dan perbedaan yang merupakan kenyataan hidup di bumi ini.

Sumber membangun sikap arif dan bijaksana itu adalah ilmu pengetahuan suci. Karena itu di mandala ketiga Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Saraswati di Meru Tumpang Pitu. Di mandala ketiga ini berbagai perbedaan golongan baik yang bernuansa dan maupun progresi divisualisasikan. Ini artinya bermacam-macam bentuk perbedaan di bumi ini diciptakan oleh Tuhan.

Demikian juga Tuhan menciptakan ilmu sebagai sumber yang seyogianya dijadikan pegangan oleh umat manusia dalam mengelola perbedaan tersebut. Ini artinya tujuan Tuhan menciptakan berbagai perbedaan itu adalah positif. Perbedaan ciptaan Tuhan itu bukan untuk membuat bumi ini kisruh penuh hiruk-pikuk dengan berbagai perselisihan yang semakin sulit diatasi.

Perbedaan itu diciptakan oleh Tuhan agar semua ciptaannya bisa hidup saling memelihara. Dalam Bhagawad Gita.III.16 menyatakan bahwa barang siapa yang tidak ikut memutar Cakra Yadnya yang bersifat timbal balik ini, ia sesungguhnya telah berbuat jahat. Ia yang hidup hanya memenuhi nafsu indrianya saja, ia hidup dalam kesia-siaan saja.

Bagaimana hidup saling beryadnya antara manusia dengan alam, antara manusia dengan sesama manusia telah dilukiskan dengan sangat cermat di Pura Besakih pada umumnya dan di mandala keempat Pura Penataran Agung pada khususnya. Saling beryadnya itu dilakukan sebagai wujud pemujaan pada Tuhan. Ini artinya pemujaan pada Tuhan belumlah cukup kalau tidak diwujudkan dengan beryadnya pada alam dan sesama manusia.

Kalau kita perhatikan wujud pemujaan Tuhan dewasa ini belumlah seperti apa yang dimaksudkan oleh ajaran yang melatarbelakangi pendirian Pura Besakih itu. Ada juga orang berdalih dan dengan alasan memuja Tuhan merusak proses kehidupan berbagai tumbuh-tumbuhan dan hewan. Demikian juga pemujaan pada Tuhan justru menimbulkan kerusakan lingkungan alam dan merusak kebersamaan yang setara, bersaudara dan menghambat kemerdekaan sesama dalam mengembangkan hidupnya.

Kalau pemujaan pada Tuhan itu didasarkan pada pemahaman yang benar pada ajaran Cakra Yadnya itu, maka tidak ada perilaku yang merusak alam seperti membuang sampah yang terkait dengan upacara sembarangan. Demikian juga membeda-bedakan harkat dan martabat sesama dalam kehidupan beragama. Semakin dalam motivasi pemujaan pada Tuhan itu maka alam akan semakin lestari dan kebersamaan sosial itu akan semakin erat dan dalam kerja sama yang semakin berkualitas. (sut/berbagai sumber)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)