Bersumber dari Ajaran Suci Weda dan Sastra
BERDIRINYA
Pura Besakih tak lepas dari peran tokoh dan para
sulinggih. Adanya pelinggih berbagai tokoh di mandala
ketiga Pura Penataran Agung Besakih itu membuktikan
leluhur pendiri Pura Besakih adalah orang-orang suci
yang amat paham intisari ajaran suci Weda. Orang suci
itu bukan sekadar orang yang diupacarai sebagai dwijati
dan berpakaian dengan atribut dwijati. Hal itu baru
tampak luarnya saja. Upacara dan busana itu memang
penting untuk membedakan dengan orang yang bukan dwijati.
Tetapi yang juga amat penting adalah mampu berbuat yang
berguna untuk menyatukan masyarakat berdasarkan
pengetahuan suci yang sudah dimiliki.
Seyogianya setelah memiliki pengetahuan dan kemampuan
suci barulah upacara dan busana suci itu diberikan.
Karena pengetahuan suci dan kemampuan suci yang
diaplikasikan itulah yang dapat meningkatkan harkat dan
martabatnya sebagai tokoh, apalagi disebut orang suci.
Akan sangat berbahaya kalau orang yang belum menguasai
pengetahuan suci dan mengaplikasikan kesuciannya itu
dalam kehidupan diupacarai dan diberi busana suci.
Tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah pendirian Pura
Besakih dengan seluruh kompleksnya benar-benar orang
suci. Karena di balik Pura Besakih dengan arsitektur
yang amat indah, agung dan sakral itu terdapat
konsep-konsep penataan kehidupan yang bersumber dari
ajaran suci Weda dan sastra-sastranya. Dalam hal
menyatukan umat, Pura Besakih mencerminkan adanya konsep
kesetaraan, persaudaraan, dan kemerdekaan.
Di Pura Besakih banyak sekali simbol yang menempatkan
sesama manusia setara. Mereka dibedakan berdasarkan
profesi dan kualitas tingkah lakunya. Kalau orang itu
jahat meskipun keturunan orang suci, dia adalah orang
cacat. Tetapi menurut Manawa Dharmasastra, orang yang
jahat itu kalau dihukum dengan benar dan adil oleh
penguasa yang berwenang, maka penguasa itu akan
mendapatkan sorga. Sedangkan orang yang dihukum itu
setelah menjalankan hukuman dengan tepat dia seperti
bayi baru lahir. Dia pun bisa memperbaiki dirinya untuk
kembali pada jalan dharma. Bukan harus dikeluarkan dari
masyarakat dan sampai keturunannya dikelompokkan tidak
setara dengan orang lain. Tinggi-rendahnya seseorang itu
bukan berdasarkan keturunannya, tetapi berdasarkan
kualitas perilakunya.
Dalam Subha Sita ada dinyatakan vasudeva kutumbakam
semua umat manusia bersaudara. Menurut ajaran Upanisad
Brahman Atman Aikyam, Tuhan dan Atman yang bersemayam
dalam diri setiap orang itu adalah sama. Dalam konteks
ini semua atman manusia berasal dari Brahman. Hakikat
manusia di samping sebagai makhluk individu juga sebagai
makhluk sosial.
Manusia itu baru bisa mengekspresikan kemanusiaannya
apabila berada di tengah-tengah manusia lainnya. Sebagai
makhluk sosial manusia itu disebut sama beda. Maksudnya
manusia memiliki berbagai persamaan dan juga sekaligus
perbedaan. Kedua-duanya juga ke hukum Rwa Bhineda. Ada
perbedaan yang positif saling melengkapi. Dengan
perbedaan itu membawa masyarakat bersinergi membangun
kekuatan bersama menyelesaikan berbagai permasalahan
hidup.
Di Pura Besakih perbedaan dan persamaan itu
divisualisasikan secara positif dalam bentuk simbol
sakral dalam wujud tempat pemujaan. Visualisasi simbolis
sakral itu sebagai media mendidik umat Hindu agar
benar-benar arif bijaksana mengelola persamaan dan
perbedaan yang merupakan kenyataan hidup di bumi ini.
Sumber membangun sikap arif dan bijaksana itu adalah
ilmu pengetahuan suci. Karena itu di mandala ketiga
Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Saraswati di Meru
Tumpang Pitu. Di mandala ketiga ini berbagai perbedaan
golongan baik yang bernuansa dan maupun progresi
divisualisasikan. Ini artinya bermacam-macam bentuk
perbedaan di bumi ini diciptakan oleh Tuhan.
Demikian juga Tuhan menciptakan ilmu sebagai sumber yang
seyogianya dijadikan pegangan oleh umat manusia dalam
mengelola perbedaan tersebut. Ini artinya tujuan Tuhan
menciptakan berbagai perbedaan itu adalah positif.
Perbedaan ciptaan Tuhan itu bukan untuk membuat bumi ini
kisruh penuh hiruk-pikuk dengan berbagai perselisihan
yang semakin sulit diatasi.
Perbedaan itu diciptakan oleh Tuhan agar semua
ciptaannya bisa hidup saling memelihara. Dalam Bhagawad
Gita.III.16 menyatakan bahwa barang siapa yang tidak
ikut memutar Cakra Yadnya yang bersifat timbal balik ini,
ia sesungguhnya telah berbuat jahat. Ia yang hidup hanya
memenuhi nafsu indrianya saja, ia hidup dalam
kesia-siaan saja.
Bagaimana hidup saling beryadnya antara manusia dengan
alam, antara manusia dengan sesama manusia telah
dilukiskan dengan sangat cermat di Pura Besakih pada
umumnya dan di mandala keempat Pura Penataran Agung pada
khususnya. Saling beryadnya itu dilakukan sebagai wujud
pemujaan pada Tuhan. Ini artinya pemujaan pada Tuhan
belumlah cukup kalau tidak diwujudkan dengan beryadnya
pada alam dan sesama manusia.
Kalau kita perhatikan wujud pemujaan Tuhan dewasa ini
belumlah seperti apa yang dimaksudkan oleh ajaran yang
melatarbelakangi pendirian Pura Besakih itu. Ada juga
orang berdalih dan dengan alasan memuja Tuhan merusak
proses kehidupan berbagai tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Demikian juga pemujaan pada Tuhan justru menimbulkan
kerusakan lingkungan alam dan merusak kebersamaan yang
setara, bersaudara dan menghambat kemerdekaan sesama
dalam mengembangkan hidupnya.
Kalau pemujaan pada Tuhan itu didasarkan pada pemahaman
yang benar pada ajaran Cakra Yadnya itu, maka tidak ada
perilaku yang merusak alam seperti membuang sampah yang
terkait dengan upacara sembarangan. Demikian juga
membeda-bedakan harkat dan martabat sesama dalam
kehidupan beragama. Semakin dalam motivasi pemujaan pada
Tuhan itu maka alam akan semakin lestari dan kebersamaan
sosial itu akan semakin erat dan dalam kerja sama yang
semakin berkualitas. (sut/berbagai
sumber)