Pura
Besakih
sebagai ''Huluning
Bali Rajya''
Dalam
Lontar
Padma Bhuwana,
Pura
Besakih dinyatakan
sebagai
huluning Bali Rajya.
Artinya,
Pura
Besakih sebagai
hulunya
daerah Bali. Dengan
kata lain,
Pura
Besakih adalah
sebagai
kepalanya atau
menjadi
jiwanya Pulau Bali.
Hal ini
sesuai dengan
letak
Pura Besakih
di
sebelah timur
laut
Pulau Bali. Timur
laut
adalah arah
gunung
dan arah
terbitnya
matahari
dengan
sinarnya sebagai
salah
satu kekuatan
alam
ciptaan Tuhan yang
menjadi
sumber kehidupan
di bumi
ini.
==========================================================
Adanya
Pura
Besakih di
lereng
Gunung Agung
sebagai
simbol sakral
untuk
mengingatkan masyarakat
Bali agar selalu
menjaga
kesuburan alam Bali,
karena
hanya dengan
selalu
terjaganya kesuburan
alam
Balilah kemakmuran
dan
kebahagiaan masyarakat
Bali dapat
diwujudkan.
Matahari
dan
gunung sebagai
salah
satu hulunya
kehidupan.
Di
Pura
Besakih sendiri
terdapat
berbagai
simbol yang
melukiskan
tentang
kehidupan sesuai
dengan
apa yang diajarkan
dalam agama Hindu.
Di sini
juga
terdapat konsepsi
tentang
hubungan manusia
dengan
Tuhan, manusia
dengan
sesamanya dan
manusia
dengan alam
lingkungannya yang
dikenal
dengan nama Tri
Hita
Karana. Dari filosofi
Tri Hita
Karana
inilah diwujudkan
konsep-konsep
hidup yang
lebih detail,
baik
menyangkut bhakti
manusia
pada Tuhan,
punia
atau pengabdian
manusia
dengan sesamanya
dan
kasih sayang
manusia
pada alam
lingkungan.
Ketiga
hubungan itu
sangat detail
dilukiskan
di Pura
Besakih
dan diimplementasikan
dalam
kehidupan umat Hindu
di
seluruh Bali.
Bhakti
umat
manusia pada
Tuhan
untuk membangun
kekuatan spiritual
umat
manusia. Dengan
kekuatan spiritual
itu
manusia dapat
memiliki moral yang
luhur
dan mental yang tangguh
dalam
menghadapi berbagai
bentuk
tantangan, hambatan
dan
godaan hidup.
Tiga
perilaku
berdasarkan
ajaran Tri
Hita
Karana itu
disebut Tri Para
Artha yang
artinya
tiga tujuan
mulia
yaitu asih,
punia
dan bhakti.
Asih
itu menyayangi
alam.
Punia artinya
mengabdi
dengan
tulis ikhlas
kepada
sesama umat
manusia.
Bhakti
artinya menguatkan
sraddha
dan bhakti
kepada
Tuhan.
Misalnya
Pura
Besakih sebagai
hulunya
Pura Kahyangan
Tiga di
setiap
desa pakraman
di Bali.
Pura
Penataran Agung
Besakih
sebagai hulunya
Pura
Desa di
desa
pakraman. Pura
Basukian
di
Besakih sebagai
hulunya
Pura Puseh,
Pura
Dalem Puri
di
Besakih hulunya
Pura
Dalem di
desa
pakraman.
Di
Besakih
ada Pura
Ulun
Kulkul sebagai
hulunya
kulkul di
desa
pakraman dan
banjar
di seluruh Bali.
Di
Besakih ada
Pura
Banua sebagai
pemujaan
Dewi Sri
manifestasi
Tuhan
sebagai dewanya
padi.
Pura ini
sebagai
hulunya jineng
bangunan
sucinya
berbentuk Gedong
Limas Catu yang
atapnya
lancip ke
atas.
Pura ini
sebagai
hulunya Limas Catu
yang umumnya
ada di
setiap
Merajan Gede
atau
Merajan Gedong
Pertiwi
di setiap
pemujaan
keluarga
di Bali.
Di
setiap Merajan
Gede di
Bali umumnya
di
sebelah kanan
Pelinggih
Gedong
Pertiwi ada
Pelinggih Limas
Catu
dan Limas Mujung
lambang
Pelinggih Pesimpangan
ke
Gunung Agung
dan
Gunung Batur.
Di
Besakih
ada Pura
Bangun
Sakti pemujaan
Ananta
Bhoga atau
Sapta
Patala di
berbagai
pura di
seluruh Bali
ada
juga Pelinggih
Sapta
Patala sebagai
pemujaan
Tuhan
sebagai dewanya
lapisan
zat padat
bumi.
Pura Jenggala
di
Besakih sebagai
hulunya
Pura Prajapati
di
setiap areal
setra
di desa
pakraman
di Bali.
Pura
Rambut Sedana
di Pura
Besakih
sebagai hulu
dari
Pelinggih Rambut
Sedana
atau sering
juga
disebut Sri Sedana
umumnya yang
ada di
setiap
merajan keluarga
di Bali.
Demikianlah
di
Besakih ada
banyak
pura sebagai
hulunya
pura yang ada
di
berbagai pelosok
daerah Bali.
Pura
Besakih
memiliki banyak
fungsi.
Pura Besakih
juga
sebagai Pura
Rwa
Bhineda artinya
memuja
Tuhan sebagai
purusa
dan pradana.
Pura
Besakih adalah
Pura
Purusa, sedangkan
Pura
Hulun Danu
Batur
sebagai pradana-nya.
Pemujaan
Tuhan
sebagai pencipta
purusa
dan pradana
untuk
menumbuhkan kesadaran
umat agar
selalu
berusaha membangun
hidup yang
seimbang
lahir
batin. Pura
Besakih
juga yang didirikan
berdasarkan
konsepsi Sad
Winayaka
itu
melahirkan Pura Sad
Kahyangan
di Bali.
Tujuan
pendirian pemujaan
Tuhan
di Pura Sad
Kahyangan
untuk
menuntun umat
menjaga
kelestarian Sad Kerti
(Atma,
Samudra, Wana,
Samudra,
Jagat
dan Jana Kerthi).
Ada
sedikitnya
sembilan
lontar yang
menyatakan
keberadaan Sad
Kahyangan
di Bali
itu berbeda-beda.
Namun
dalam seminar kesatuan
tafsir
terhadap aspek-aspek
agama Hindu menetapkan
bahwa Sad
Kahyangan yang
dijadikan
pegangan
di Bali
adalah menurut
Lontar
Kusuma Dewa.
Alasannya,
karena Sad
Kahyangan
itu
dibangun saat Bali
masih
satu kerajaan.
Setelah Bali
menjadi
sembilan kerajaan,
masing-masing
kerajaan
memiliki Sad
Kahyangan
menurut
pandangan masing-masing
kerajaan. Hal
itu
tidaklah keliru
karena
itu merupakan
kedaulatan
masing-masing
kerajaan.
Pura
Besakih
juga berfungsi
sebagai
Pura Padma
Bhuwana. Mantra Veda
juga
menyatakan: Isavasyam
idam
jagat. Tuhan
berstana
di
seluruh alam
semesta.
Jadi,
menurut keyakinan
agama Hindu Tuhan
itu
Mahaesa dan
ada di
mana-mana.
Bagaimana
memahami
kemahaesaan
Tuhan
itu yang berada
di
mana-mana tentunya
tidak
mudah bagi
umat yang
awam.
Untuk melukiskan
Tuhan
itu Esa
dan ada
di
mana-mana, secara
simbolis
sakral
maka umat Hindu
di Bali
mendirikan Pura
Kahyangan
Jagat
di sembilan
penjuru Bali yang
disebut
Pura Padma
Bhuwana.
Pura
Besakih
juga sebagai
lambang
alam bawah
dan
alam atas.
Pura
Besakih sebagai
simbol
alam semesta
divisualkan
dalam
berbagai dimensi.
Alam
bawah di
Pura
Besakih disebut
Soring
Ambal-ambal. Sedangkan
alam
atas disebut
Luhuring
Ambal-ambal.
Seluruh
kompleks Pura
Besakih
ada yang digolongkan
pura di
Soring
Ambal-ambal dan
ada
pura yang tergolong
di
Luhuring Ambal-ambal.
Pura
yang tergolong
di
Soring Ambal-ambal
antara lain
Pura
Pesimpangan, Pura
Manik
Mas, Pura
Bangun
Sakti, Pura
Merajan
Selonding, Pura
Goa Raja
dengan
Pura Rambut
Sedana,
Pura Besukian,
Pura
Dalem Puri,
Pura
Jenggala, Pura
Banua
dan Pura
Merajan
Kanginan.
Pura
yang tergolong
Luhuring
Ambal-ambal
adalah
Pura Penataran
Agung
Besakih, Pura
Batu
Madeg, Pura
Gelap,
Pura Kiduling
Kreteg,
Pura Ulun
Kulkul,
Pura Peninjoan,
Pura
Tirtha, Pura
Pengubengan
dan
Pura Pasar
Agung
di Desa
Sebudi.
Kompleks Pura
Besakih
ini sering
disebut
kompleks-kompleks Pura
Besakih.
*
wiana