kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 19 Maret 2008

 Debat


Menjaga Keamanan, Menjaga Keimanan

Oleh I Gusti Ketut Widana

PERISTIWA demi peristiwa yang terus terjadi semakin menguatkan gambaran betapa Bali sudah tidak aman lagi. Ironis memang, Bali dengan julukan sebagai Pulau Sorga di mana banyak orang terutama para wisatawan berharap dalam kesempatan hidupnya dapat menikmati keindahan alam, keunikan adat, keeksotikan budaya dan perilaku religius dengan nuansa kedewataannya yang kental, ternyata semakin sirna, menjauh dari kenyataan.

Wajah Bali yang begitu indah seakan mulai punah. Gurat senyum pertanda keramahan yang berakar pada kepolosan dan ketaatan orang Bali semakin langka saja. Nilai ''jual'' Bali di dunia pariwisata pun kian tersaingi, bahkan tertandingi. Meski Visit Indonesia Year 2008 digebyarkan, tetapi tanpa dibarengi dengan jaminan keamanan, maka harapan akan mendatangkan kunjungan wisatawan dalam jumlah yang lumayan bisa jadi akan buyar. Penyebabnya mudah diterka yaitu ketidakmampuan seluruh komponen dan elemen di Bali untuk menciptakan, memelihara dan menjaga keamanan Bali. Dengan kata lain keamanan dan pengamanan Pulau Bali yang kecil ini perlu terus ditingkatkan. Tentunya harus dimulai dari orang Bali itu sendiri sebagai pihak yang paling berkepentingan, lebih-lebih dalam kerangka merealisasikan wacana Ajeg Bali yang selalu didengungkan. Caranya, dengan membentengi orang Bali yang notabene umat Hindu melalui peningkatan kualitas diri, terutama dalam hal sradha, bhakti, tresna dan eling.

Sradha yang adalah kepercayaan dan keyakinan beragama agar semakin diperkuat untuk melahirkan ketaatan akan hukum Tuhan, sehingga dapat mengurangi atau malah meniadakan perilaku melanggar aturan.

Lalu sikap bhakti, khususnya kehadapan Hyang Widhi patut dijadikan penguat pondasi spiritualitas, yang tentunya diharapkan dapat menuntaskan sifat-sifat keras dan beringas yang mulai sering ditampilkan wong Bali belakangan ini.

Kemudian sifat tresna, cinta kasih terhadap sesama, bahwa sesungguhnya semua manusia adalah bersaudara -- sarwam idam kuthem bhukem. Satu sama lain di antara manusia, dengan landasan ajaran tat twam asi berkwajiban untuk saling memelihara dan menjaga. Karena hakikat hidup adalah melayani kehidupan itu sendiri. Artinya manusia yang satu sesungguhnya mempunyai misi untuk menghidupi sesama insani, bukan sebaliknya suka menyakiti, sering melukai, apalagi sampai berani menghabisi hak hidup seseorang.

Terakhir adalah jiwa yang selalu eling, tidak sekadar ingat tetapi benar-benar sadar bahwa amanat mendasar yang diemban setiap manusia sebagai insan Tuhan adalah untuk senantiasa menyuarakan, menggemakan dan tentunya mengamalkan ajaran kebenaran, kebaikan dan kepatutan dengan selalu menjauhkan diri dari tindakan pelanggaran yang dapat mengganggu keamanan.

Dengan berpijak pada sikap untuk lebih mengutamakan keamanan dan pengamanan diri atas dasar ajaran agama sebagai komponen yang memperkuat benteng keimanan, jika hal itu dapat dilakukan oleh semua umat, khususnya umat Hindu, keamanan atau pengamanan Bali sebagai suatu wilayah bukanlah pekerjaan yang susah untuk diwujudnyatakan. Sebab, unsur keamanan akan menjadi bagian penting dari keimanan seorang umat.

Selama ini konteks pengamanan selalu dikaitkan dengan penambahan kekuatan dan pengerahan personel aparat keamanan lengkap dengan alat bersenjatanya, seperti polisi atau TNI. Bahkan perangkat pengamanan tradisional sekelas pecalang pun ditampilkan. Seakan-akan tindakan keamanan atau pengamanan itu identik dengan sesuatu yang berhubungan dengan sikap keras dan kelengkapan senjata. Dalam kaitan mengamankan Bali seutuhnya, gambaran serba fisikal sekaligus artifisial, harus diubah dengan lebih menampilkan sikap mental dan moral berdasar tuntunan spiritual yang akan tercermin ke dalam bentuk etika berperilaku yang baik, santun, ramah, bijaksana, taat pada aturan dan mampu menghindar dari segala hasutan atau ajakan untuk berbuat anarkis.

Ke depan, untuk orang Bali, terutama umat Hindu hendaknya bisa lebih membentengi diri dari dalam dengan kekuatan keimanannya, sehingga urusan keamanan dan pengamanan di luar diri, menyangkut wilayah Bali tentu dengan sendirinya terbentengi juga -- akan aman, nyaman, tenang, damai dan membahagiakan.

 

Penulis, Klian Adat Br. Lumbung Sari, Denpasar

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)