Menjaga Keamanan, Menjaga Keimanan
Oleh I Gusti Ketut Widana
PERISTIWA
demi peristiwa yang terus terjadi semakin menguatkan
gambaran betapa Bali sudah tidak aman lagi. Ironis
memang, Bali dengan julukan sebagai Pulau Sorga di mana
banyak orang terutama para wisatawan berharap dalam
kesempatan hidupnya dapat menikmati keindahan alam,
keunikan adat, keeksotikan budaya dan perilaku religius
dengan nuansa kedewataannya yang kental, ternyata
semakin sirna, menjauh dari kenyataan.
Wajah Bali yang begitu indah seakan mulai punah. Gurat
senyum pertanda keramahan yang berakar pada kepolosan
dan ketaatan orang Bali semakin langka saja. Nilai ''jual''
Bali di dunia pariwisata pun kian tersaingi, bahkan
tertandingi. Meski Visit Indonesia Year 2008 digebyarkan,
tetapi tanpa dibarengi dengan jaminan keamanan, maka
harapan akan mendatangkan kunjungan wisatawan dalam
jumlah yang lumayan bisa jadi akan buyar. Penyebabnya
mudah diterka yaitu ketidakmampuan seluruh komponen dan
elemen di Bali untuk menciptakan, memelihara dan menjaga
keamanan Bali. Dengan kata lain keamanan dan pengamanan
Pulau Bali yang kecil ini perlu terus ditingkatkan.
Tentunya harus dimulai dari orang Bali itu sendiri
sebagai pihak yang paling berkepentingan, lebih-lebih
dalam kerangka merealisasikan wacana Ajeg Bali yang
selalu didengungkan. Caranya, dengan membentengi orang
Bali yang notabene umat Hindu melalui peningkatan
kualitas diri, terutama dalam hal sradha, bhakti, tresna
dan eling.
Sradha yang adalah kepercayaan dan keyakinan beragama
agar semakin diperkuat untuk melahirkan ketaatan akan
hukum Tuhan, sehingga dapat mengurangi atau malah
meniadakan perilaku melanggar aturan.
Lalu sikap bhakti, khususnya kehadapan Hyang Widhi patut
dijadikan penguat pondasi spiritualitas, yang tentunya
diharapkan dapat menuntaskan sifat-sifat keras dan
beringas yang mulai sering ditampilkan wong Bali
belakangan ini.
Kemudian sifat tresna, cinta kasih terhadap sesama,
bahwa sesungguhnya semua manusia adalah bersaudara --
sarwam idam kuthem bhukem. Satu sama lain di antara
manusia, dengan landasan ajaran tat twam asi berkwajiban
untuk saling memelihara dan menjaga. Karena hakikat
hidup adalah melayani kehidupan itu sendiri. Artinya
manusia yang satu sesungguhnya mempunyai misi untuk
menghidupi sesama insani, bukan sebaliknya suka
menyakiti, sering melukai, apalagi sampai berani
menghabisi hak hidup seseorang.
Terakhir adalah jiwa yang selalu eling, tidak sekadar
ingat tetapi benar-benar sadar bahwa amanat mendasar
yang diemban setiap manusia sebagai insan Tuhan adalah
untuk senantiasa menyuarakan, menggemakan dan tentunya
mengamalkan ajaran kebenaran, kebaikan dan kepatutan
dengan selalu menjauhkan diri dari tindakan pelanggaran
yang dapat mengganggu keamanan.
Dengan berpijak pada sikap untuk lebih mengutamakan
keamanan dan pengamanan diri atas dasar ajaran agama
sebagai komponen yang memperkuat benteng keimanan, jika
hal itu dapat dilakukan oleh semua umat, khususnya umat
Hindu, keamanan atau pengamanan Bali sebagai suatu
wilayah bukanlah pekerjaan yang susah untuk
diwujudnyatakan. Sebab, unsur keamanan akan menjadi
bagian penting dari keimanan seorang umat.
Selama ini konteks pengamanan selalu dikaitkan dengan
penambahan kekuatan dan pengerahan personel aparat
keamanan lengkap dengan alat bersenjatanya, seperti
polisi atau TNI. Bahkan perangkat pengamanan tradisional
sekelas pecalang pun ditampilkan. Seakan-akan tindakan
keamanan atau pengamanan itu identik dengan sesuatu yang
berhubungan dengan sikap keras dan kelengkapan senjata.
Dalam kaitan mengamankan Bali seutuhnya, gambaran serba
fisikal sekaligus artifisial, harus diubah dengan lebih
menampilkan sikap mental dan moral berdasar tuntunan
spiritual yang akan tercermin ke dalam bentuk etika
berperilaku yang baik, santun, ramah, bijaksana, taat
pada aturan dan mampu menghindar dari segala hasutan
atau ajakan untuk berbuat anarkis.
Ke depan, untuk orang Bali, terutama umat Hindu
hendaknya bisa lebih membentengi diri dari dalam dengan
kekuatan keimanannya, sehingga urusan keamanan dan
pengamanan di luar diri, menyangkut wilayah Bali tentu
dengan sendirinya terbentengi juga -- akan aman, nyaman,
tenang, damai dan membahagiakan.
Penulis, Klian Adat Br. Lumbung Sari,
Denpasar