Krisis
Politik Kuwait
makin
Parah
Kuwait City -
Emir Kuwait Sheikh Sabah
al-Ahmad al-Sabah
mempersingkat
kunjungan
pribadinya
menuju
Maroko dan
balik
pulang Selasa (18/3)
kemarin,
menyusul
pengunduran
diri
kabinet yang mengejutkan.
Kabinet
negara emirat
kaya
minyak tersebut
mundur
Senin -- diduga
karena
kurangnya kerja
sama
pihak
oposisi yang mendominasi
parlemen
hingga
menyeret produsen
terbesar
ke
empat OPEC ke
jurang
krisis politik yang
makin
ruwet.
Mundurnya
kabinet
berujung pada
kemungkinan
dibubarkannya
parlemen
dan
pemilu lebih
awal,
di tengah
semaraknya
tensi
sektarian dan
konfrontasi
tak
berujung antara
parlemen
dan
pemerintah.
Di
bawah konstitusi
Kuwait, emir berhak
menerima
pengunduran
diri
kabinet dan
meminta PM
saat
ini atau PM
baru
untuk
membentuk pemerintahan,
atau
membubarkan parlemen
dan
menggelar pemilu.
Parlemen
sendiri
dijadwalkan bersidang
kemarin,
untuk
menentukan UU yang ditolak
pemerintah yang
isinya
menaikkan gaji
masyarakat
sebesar 50
dinar (sekitar
Rp 1,6
juta) per
bulan.
Namun
sidang
ini urung
dilaksanakan
menyusul
boikot
dari pemerintah.
Bulan
lalu
pemerintah meningkatkan
gaji
masyarakat hingga 120
dinar (sekitar
Rp 4
juta), namun
peningkatan
tersebut
dilihat
kurang banyak
oleh
mayoritas parlemen.
Sejak
dua
tahun terakhir,
negeri
ini sudah
dilanda
rentetan krisis
politik
dimulai dengan
kemelut
kekuasan, mundurnya 4
anggota
kabinet, pembubaran
parlemen
dan
menggelar pemilu
nasional 2006.
Harian
lokal memperingatkan
negara
Teluk Arab ini
perlu
melakukan reformasi
politik fundamental
untuk
menghindari krisis
di masa
depan. (ton/afp)