Dalai Lama Ancam
Mundur
DALAI LAMA
melontarkan
ancaman
akan
mengundurkan
diri
sebagai pemimpin
pemerintah
Tibet
dalam
pengasingan, bilamana
kekerasan
oleh
warganya di Tibet
mengarah
makin
tidak terkontrol.
Unjuk
rasa di
Tibet
berubah
menjadi tindak
kekerasan
pekan
lalu dan Dalai Lama
memaksa
warga untuk
bersikap
lebih
tenang.
Bahkan,
perusakan oleh
warga
sempat menuai
kecaman
keras dari PM
Cina
Wen Jiabao
menyebut
pelaku
sebagai separatis
dan
dituduh sebagai
pemicu
bencana di
ibu
kota
Lhasa,
Tibet.
Dalai Lama mengatakan "jika
semuanya
berubah
menjadi tidak
terkontrol"
maka
pilihan terakhirnya "adalah
mundur total."
Sebagian
besar
kekerasan di
Tibet
dilakukan
oleh
aktivis unjuk
rasa,
namun ada
juga
laporan menyebutkan
aktivis
menyerang pertokoan
dan
membakar mobil.
Kemudian
salah
satu ajudan
tertingginya
mengklarifikasi
komentar Dalai Lama.
"Jika
warga
Tibet lebih
memilih
jalan kekerasan,
ia akan
mengundurkan
diri
karena tidak
sesuai
dengan asas
perjuangannya
yakni
damai dan
tanpa
kekerasan," papar
Tenzin
Takhla, Selasa (18/3)
kemarin.
Unjuk
rasa
baru-baru ini
di
Lhasa
dipimpin
oleh
bhiksu dan
berjalan
damai
dimulai Senin 10
Maret
memperingati gagalnya
pemberontakan 1959
terhadap
penguasan
Cina.
Namun
unjuk
rasa ini
berubah
keras dan
puncaknya
terjadi
Jumat, di
mana
kekacauan sampai
menyebar
menjadi
kekerasan jalanan.
Pejabat
Cina
mengatakan 16 orang
meninggal,
namun
pemerintah Tibet dalam
pengasingan
menyebut 80
tewas.
Dalai Lama
pergi meninggalkan
Tibet
menyusul
pemberontakan 1959,
dan
membentuk pemerintahannya
dalam
pengasingan
di
Dharamsala, India.
(ton/ap/afp)