Pura
Dasar
Bhuana Pemersatu
Umat
Brahmane
brahmanam,
ksatraya
rajanyam,
marudbhyo
vaisyam
tapase
sudram.
(Yajurveda.XXX.5).
Artinya:
Tuhan
telah
menciptakan Brahmana
untuk
mengembangkan pengetahuan.
Ksatria
untuk perlindungan,
Vaisya
untuk kesejahteraan
dan
Sudra untuk
pekerjaan
jasmani.
SALAH
satu
swadharma pemimpin
negara
seperti raja adalah
membangun
sistem
sosial yang dapat
membangun
kebersamaan yang
dinamis
untuk menciptakan
kerukunan
sosial.
Rukun itu
adalah terminal
sosial
untuk mengantarkan
kehidupan
bersama
dalam keadaan
aman
dan damai.
Keadaan
aman dan
damai
itu sebagai
kondisi yang
dibutuhkan agar
tumbuh
potensi-potensi material dan
spiritual yang seimbang
dan
kontinu untuk
membangun
manusia yang
seutuhnya
lahir
batin sebagai
manusia yang
hidup
bahagia.
Masyarakat
yang aman
dan
damai itu
adalah
masyarakat yang di
dalamnya
ada
kesetaraan, persaudaraan
dan
kemerdekaan mengembangkan
diri
sesuai dengan
profesi
dan fungsi
masing-masing.
Dalam
ajaran Hindu
ada
filosofi dasar
membangun
masyarakat yang
rukun
secara vertikal
dan horizontal.
Bagaikan
tampak
dara yaitu
ada dua
garis
menyilang. Ada
garis
vertikal dari
bawah
ke atas
dan ada
garis horizontal.
Garis
vertikal dan
horizontal ini
menyilang
di
tengah-tengah. Itulah
yang membentuk
apa yang
disebut
dalam simbol Hindu
di Bali
sebagai tampak
dara.
Rukun
secara
vertikal antargenerasi
berdasarkan
konsep
Catur Asrama.
Brahmacari
hormat
dan bakti
pada
generasi tua yang
Gerhasta
Asrama.
Demikian juga
seterusnya
dengan
Asrama yang selanjutnya.
Demikian
juga
rukun secara
horizontal antara
profesi
berdasarkan Catur
Varna.
Sebagaimana
dinyatakan
dalam Mantra
Yajurveda. XXX.5
bahwa
Catur Varna
itu
sama-sama ciptaan
Tuhan
berdasarkan Guna
dan Karma.
Artinya
berdasarkan bakat
dan
pekerjaannya. Catur
varna
itu kedudukannya
paralel horizontal,
tidak
membeda-bedakan harkat
dan
martabat sesama
manusia.
Keberadaan
Pura
Dasar Bhuana
di Desa
Gelgel
Klungkung ini
sebagai
tempat pemujaan
untuk
menyatukan berbagai
golongan yang
ada di
Bali saat
kejayaan
Kerajaan
Klungkung
ketika
beribu kota
di
Gelgel yang waktu
itu
disebut Sweca
Pura.
Di Pura
Dasar
Bhuwana ini
di
samping ada
sarana
memuja Tuhan Yang
Maha
Esa juga
terdapat
pemujaan
Dewa
Pitara (roh
suci
leluhur) dari
beberapa
warga
atau wangsa.
Ada
pemujaan
Warga
Satria Dalem,
Warga
Pasek Maha
Gotra
Sanak Sapta
Resi,
Warga Pande
dan
Wangsa Dang Hyang
Nirartha.
Pemujaan
berbagai
warga
nampaknya baru
didirikan
saat
kejayaan Kerajaan
Klungkung yang
beribu
kota di
Sweca
Pura.
Sebagaimana
umumnya
pura di Bali
berkembangnya
secara
evolusi sesuai
dengan
perkembangan kebudayaan
masyarakatnya.
Oleh
para peneliti
pura
ini sudah
ada
sejak abad ke-10
Masehi
sebagai Pasraman
Pandita
Mpu Graha.
Kalau
kita perhatikan
perkembangan
berbagai
tempat
pemujaan umat Hindu
di Bali
umumnya pura
itu
dikembangkan oleh
setiap
generasi. Ini
artinya
lewat sistem
pemujaan
itu
umat Hindu menghormati
peninggalan-peninggalan
leluhurnya
dengan
melanjutkan apa yang
diwariskan
oleh
generasi sebelumnya.
Inilah yang
dapat
disebut adanya
kerukunan
antara
generasi.
Mengembangkan
warisan
leluhur itu
disesuaikan
dengan
kebutuhan dan
perkembangan
zaman.
Meskipun demikian
substansi universal
dari
warisan itu
sebagai
tempat pemujaan
untuk
membina hidup yang
benar
dan suci
tetap
dilanjutkan.
Dalam
sistem
pemujaan Hindu di
samping
adanya pemujaan
pada
Tuhan sebagai
unsur yang
tertinggi,
ajaran Hindu
mengajarkan
juga
pemujaan leluhur
atau
Dewa Pitara.
Karena
menurut Sarasamuscaya
250 ada
empat pahala
orang yang
berbakti
pada
leluhurnya yaitu
Kirti,
Bala, Yasa
dan
Yusa.
Sementara
dalam Manawa
Dharmasastra II.121
dinyatakan
bahwa
mereka yang tekun
berbakti
pada
leluhurnya akan
memperoleh
pahala:
Ayu, Widya,
Yasa
dan Bala. Dari
ajaran
inilah menimbulkan
adanya
sistem pengelompokan
warga.
Pandhaninath Prabhu
dalam
bukunya ''Hindu Social
Organisation'' menyatakan
ada
tiga sistem
pengelompokan
leluhur
yaitu berdasarkan
Sapinda,
Gotra,
dan Pravara.
Sapinda
kesamaan
leluhur
berdasarkan kesamaan
darah
keturunan yang dapat
dilacak
dengan pasti.
Gotra
kesamaan keluarga
berdasarkan
tokoh yang
diyakini
sebagai
leluhurnya sebagai
pembentuk
wangsa.
Pravara kesamaan
keluarga
didasarkan
pada
kesamaan sampradaya
atau
sekte Hindu yang dianutnya.
Di
India umat Hindu
juga
dikelompokkan berdasarkan
sistem
Gotra. Karena
itu ada
ratusan
bahkan ribuan
Gotra.
Sistem pengelompokan
berdasarkan
sistem
wangsa ini
tidak
ada kaitannya
dengan
kasta, apalagi
Catur
Varna. Sistem
wangsa
atau sistem
klan Hindu
adalah
untuk memantapkan
ajaran
pemujaan leluhur
sebagai
tangga untuk
memuja
Tuhan.
Umat
Hindu amat
yakin
akan pahala
mulia
bagi mereka yang
berbakti
pada
leluhurnya sebagaimana
dijanjikan
oleh
Pustaka Sarasamuscaya
dan Manawa
Dharmasastra
tersebut.
Tidaklah
tepat
kalau sistem
wangsa
ini dicampuradukkan
dengan
sistem Catur
Varna.
Sistem Varna
adalah
sabda Tuhan
sebagai
ajaran untuk
mengembangkan
profesi
melalui pengembangan
dan
pembinaan Guna
dan Karma.
Keberadaan
Pura
Dasar Bhuana
ini
sebagai pengejawantahan
sabda
Tuhan menjadi
sistem
religi untuk
menata
masyarakat Hindu agar
bersatu padu
dalam
kebhinekaan swadharma
sesuai
dengan wangsa
dan
varna-nya. Karena
itu
sistem wangsa
atau
soroh harus
tetap
ditegakkan untuk
memuja
leluhur mewujudkan
empat
pahala mulia
yaitu
hidup sehat
sejahtera (ayu),
berilmu (widya),
mampu
berbuat jasa
pada
sesama hidup
ini (yasa)
dan
memiliki daya
tahan
diri yang kuat
lahir
batin (bala).
Sementara
menegakkan
sistem
Catur Varna
untuk
membina agar setiap
orang
memiliki profesi yang
jelas,
benar dan
andal.
Lebih-lebih di era
post modern ini
hidup
tanpa profesi yang
jelas,
andal dan
berkualitas
tidak
mungkin dapat
memenangkan
persaingan
hidup yang
makin
penuh tantangan
ini.
Karena itu
berbagai
lembaga Hindu
di Bali,
baik
lembaga tradisional
maupun
lembaga modern, seyogianya
menegakkan
sistem
pemujaan leluhurnya
sebagai
tangga memuja
Tuhan.
Demikian juga
dalam
membina pengembangan
profesi
melalui ajaran
Catur
Varna agar dapat
hidup
bersaing secara
sehat
di era global yang semakin
penuh
dengan hiruk-pikuk
persaingan
dalam
berbagai bidang
kehidupan
ini.
* I Ketut
Gobyah