Pers
harus
Berani Lakukan
Refleksi
dan
Otokritik
Denpasar
(Bali Post) -
Pers
harus
dengan sadar
dan
dengan segala
kerendahan
hati,
berani melakukan
refleksi
diri
dan otokritik.
Hal ini
penting,
karena
tuntutan terhadap
pers agar
mampu
bersama-sama membangun
bangsa
sudah menjadi
wacana
publik.
Pers
hendaknya
jangan
menjadi komponen yang
elitis
di tengah-tengah
bangsa yang
sedang
bangkit dari
krisis.
Hal itu
dikemukakan, Ketua
Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI)
Cabang Bali,
Djesna
Winada di
Denpasar,
Selasa (18/3)
kemarin,
menyambut
peringatan
Hari
Pers Nasional (HPN)
tahun 2008,
dan HUT PWI ke-62
Tingkat
Propinsi Bali. Peringatan
yang dilanjutkan
pendidikan
melalui
sarasehan politik
menjelang
Pilgub 2008
dan
Pemilu 2009 itu
akan
diselenggarakan Kamis
(20/3) besok
di
Gedung Granadha PWI
Bali, Lumintang
Denpasar.
Sejak
era reformasi,
pers di
Indonesia telah
mendapatkan
kebebasan yang
sejak lama
didambakan.
Namun
kebebasan
itu
janganlah digunakan
dengan
semena-mena.
Pers
harus
selalu memegang
teguh
kode etik
jurnalistik
dalam
menjalankan perannya
sebagai media
komunikasi.
Peliputan
berita
harus dengan
teknik yang
jujur,
melakukan cek
dan re-cek
atau
meliput dari
dua
sisi, dan
tidak
melakukan pemerasan
terhadap
stakeholders atau
sumber
berita.
Lebih
jauh
dikemukakan bahwa
pers
harus berkembang
menjadi
pers profesional.
Yakni,
pers yang
memiliki
pengetahuan yang up to date,
insan
pers yang tahu
kode
etik dan
pers yang
rendah
hati.
Oleh
karenanya,
dalam
konteks pelaksanaan
otokritik,
maka
pers harus
bertanya
kepada
dirinya.
Seberapa
jauh
pers telah
memerankan
dirinya
untuk memberikan
informasi,
berkomunikasi,
melakukan
kontrol,
melakukan
edukasi,
dengan
cara-cara yang elegan,
beradab
dan konstruktif.
Di
masa
depan,
kata
Djesna, pers
memiliki
tanggung
jawab yang
sangat
penting untuk
tetap
memelihara jalannya
koridor
tegaknya demokrasi
yang mapan,
dan
bukan demokrasi yang
otoritarian.
(kmb)