kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 19 Maret 2008

 Bali


Kacamata
Hitam Mangku Pastika 

DALAM perjalanan pulang dari menghadiri HUT PDI Perjuangan di Kota Amlapura, Karangasem menuju Denpasar, rombongan calon gubernur PDI Perjuangan, I Made Mangku Pastika, singgah di warung kecil di tepi pantai. Tepatnya di perbatasan Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Klungkung.

Saat itu jam satu siang. Matahari sedang di puncak semangatnya membakar bumi. Mangku Pastika dan wartawan berhenti sejenak. Melepas lelah. Sebagian rombongan memesan kopi. Sebagian lagi memesan es kelapa muda.

Saat Mangku Pastika dan rombongan menikmati bakso dan es kelapa muda, dua pedagang kacamata menawarkan dagangannya. Rupanya, keduanya tahu kalau yang singgah adalah calon gubernur Bali, Mangku Pastika. Sehingga seorang yang perawakan lebih pendek tetapi badannya berisi mencoba membujuk Mangku Pastika untuk membeli kacamata dagangannya. Sementara seorang lagi yang lebih tinggi dan kurus mencoba membujuk wartawan yang mendampingi Mangku Pastika.

Melihat gigihnya si pedagang dan menghargai kerja keras mereka, Mangku Pastika membeli sebuah kacamata. Bahkan rombongan pun ditraktir kacamata hitam.

''Silahkan pilih kacamata yang cocok. Agar seperti anggota Brimob (Brigade Mobil-red) semua,'' canda Mangku Pastika sembari tertawa memakai kacamata hitam yang baru dibelinya. Sebagian wartawan dan tim relawan tak menyia-nyiakan kesempatan mendapat kacamata gratis.

Usai membayar terjadi obrolan ringan antara Mangku Pastika dengan pedagang kacamata yang tinggi kurus. Si pedagang menyebut namanya, Adnan dari Desa Kecicang, Karangasem.

Adnan bercerita kalau ia memiliki anak yang masih sekolah dan betapa susahnya zaman sekarang untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarga dan sekolah anaknya.

Cerita itu menyentuh Mangku Pastika dan mengingatkannya pada masa lalunya, ketika Mangku Pastika merasakan susahnya masuk sekolah. Mangku Pastika yang masih remaja nekat meninggalkan daerah trasmigrasi di sebuah desa di Sumatera. Menumpang truk dengan berbekal ijazah Sekolah Rakyat (setingkat SD-red), berangkat ke kota.

Selama beberapa hari ia mencoba mengadu nasib di kota. Pada satu hari ia kelelahan karena tidak makan. ''Saya kemudian pingsan di depan sebuah toko,'' kenangnya. Beruntung orang Cina si pemilik toko menolongnya. Mangku Pastika diberi makan. Bahkan Mangku Pastika kemudian diajak menjadi pembantu rumah tangga di keluarga tersebut.

''Saya kemudian sekolah SMP sambil menjadi pembantu rumah tangga di keluarga itu,'' kenang Mangku Pastika. Tergerak pengalaman pahitnya saat kecil, Mangku Pastika kembali bertanya kepada Adnan.

''Berapa umur anak Bapak?'' tanya Mangku Pastika.

''Sembilan tahun Pak,'' jawab Adnan.

''Begini Pak. Saya ada sedikit uang. Tetapi uang ini bukan untuk Bapak. Uang ini saya berikan untuk anak Bapak. Untuk beli seragam sekolah,'' tutur Mangku Pastika sembari memberi beberapa lembar uang ratusan ribu.

Adnan dengan suka cita menerima pemberian itu. Beberapa kali Adnan mengucapkan terima kasih. Mangku Pastika menepuk pundaknya beberapa kali dengan akrab. Setelah itu rombongan melanjutkan perjalanan ke Denpasar. (*)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)