Kacamata
Hitam
Mangku Pastika
DALAM
perjalanan
pulang
dari menghadiri HUT
PDI Perjuangan
di Kota
Amlapura, Karangasem
menuju
Denpasar, rombongan
calon
gubernur PDI Perjuangan,
I Made Mangku
Pastika,
singgah
di warung
kecil
di tepi
pantai.
Tepatnya
di
perbatasan Kabupaten
Karangasem
dan
Kabupaten Klungkung.
Saat
itu jam
satu siang.
Matahari
sedang
di puncak
semangatnya
membakar
bumi.
Mangku
Pastika
dan wartawan
berhenti
sejenak.
Melepas
lelah.
Sebagian
rombongan
memesan kopi.
Sebagian
lagi
memesan es
kelapa
muda.
Saat
Mangku
Pastika dan
rombongan
menikmati
bakso
dan es
kelapa
muda, dua
pedagang
kacamata
menawarkan
dagangannya.
Rupanya,
keduanya
tahu
kalau yang singgah
adalah
calon gubernur
Bali,
Mangku
Pastika.
Sehingga
seorang yang
perawakan
lebih
pendek tetapi
badannya
berisi
mencoba membujuk
Mangku
Pastika untuk
membeli
kacamata dagangannya.
Sementara
seorang
lagi yang lebih
tinggi
dan kurus
mencoba
membujuk wartawan
yang mendampingi
Mangku
Pastika.
Melihat
gigihnya
si
pedagang dan
menghargai
kerja
keras mereka,
Mangku
Pastika membeli
sebuah
kacamata.
Bahkan
rombongan pun
ditraktir
kacamata
hitam.
''Silahkan
pilih
kacamata yang cocok.
Agar seperti
anggota
Brimob (Brigade Mobil-red)
semua,'' canda
Mangku
Pastika sembari
tertawa
memakai kacamata
hitam yang
baru
dibelinya. Sebagian
wartawan
dan
tim
relawan
tak menyia-nyiakan
kesempatan
mendapat
kacamata gratis.
Usai
membayar
terjadi
obrolan ringan
antara
Mangku Pastika
dengan
pedagang kacamata
yang tinggi
kurus.
Si
pedagang
menyebut
namanya,
Adnan
dari Desa
Kecicang,
Karangasem.
Adnan
bercerita
kalau
ia
memiliki
anak yang
masih
sekolah dan
betapa
susahnya zaman
sekarang
untuk
mencari nafkah
guna
memenuhi kebutuhan
keluarga
dan
sekolah anaknya.
Cerita
itu
menyentuh Mangku
Pastika
dan mengingatkannya
pada
masa lalunya,
ketika
Mangku Pastika
merasakan
susahnya
masuk
sekolah.
Mangku
Pastika yang
masih
remaja nekat
meninggalkan
daerah
trasmigrasi di
sebuah
desa di
Sumatera.
Menumpang
truk
dengan berbekal
ijazah
Sekolah Rakyat (setingkat
SD-red), berangkat
ke
kota.
Selama
beberapa
hari
ia
mencoba
mengadu nasib
di
kota.
Pada
satu hari
ia
kelelahan
karena
tidak makan. ''Saya
kemudian
pingsan
di depan
sebuah
toko,'' kenangnya.
Beruntung
orang
Cina si
pemilik
toko menolongnya.
Mangku
Pastika
diberi makan.
Bahkan
Mangku
Pastika kemudian
diajak
menjadi pembantu
rumah
tangga di
keluarga
tersebut.
''Saya
kemudian sekolah SMP
sambil
menjadi pembantu
rumah
tangga di
keluarga
itu,''
kenang Mangku
Pastika.
Tergerak
pengalaman
pahitnya
saat
kecil, Mangku
Pastika
kembali bertanya
kepada
Adnan.
''Berapa
umur
anak Bapak?''
tanya
Mangku
Pastika.
''Sembilan
tahun Pak,''
jawab
Adnan.
''Begini Pak.
Saya
ada sedikit
uang.
Tetapi
uang
ini bukan
untuk
Bapak.
Uang
ini
saya berikan
untuk
anak Bapak.
Untuk
beli
seragam sekolah,''
tutur
Mangku Pastika
sembari
memberi beberapa
lembar
uang ratusan
ribu.
Adnan
dengan
suka cita
menerima
pemberian
itu.
Beberapa
kali Adnan
mengucapkan
terima
kasih.
Mangku
Pastika
menepuk pundaknya
beberapa kali
dengan
akrab.
Setelah
itu
rombongan melanjutkan
perjalanan
ke
Denpasar. (*)