SDM, Persoalan
Konkret
Umat Hindu
Denpasar
(Bali Post) -
Kakanwil
Agama Propinsi Bali Drs.
IGAK Sutha
Yasa,
M.Si.
mengatakan dalam
rangka
pembinaan umat
di
lapangan, persoalan
yang paling konkret
dihadapi
yakni
menyangkut SDM. ''Jumlah
pembimas
kita
masih terbatas.
Di
beberapa
daerah
pembimas kita
masih
bergabung antara
Hindu dan Buddha.
Bahkan
di Gorontalo,
sama
sekali
belum ada
pembimas.
Tak
itu
saja, guru-guru agama Hindu
juga masih
kurang,
termasuk penyuluh
agama Hindu,'' katanya
saat
pembukaan acara
konsultasi
tokoh-tokoh
kelembagaan Hindu
di
Sanur, Selasa (18/3)
kemarin.
Kata
Sutha
Yasa, penyuluh agama
Hindu idealnya 1:100 KK.
Sementara
di Bali,
ada 102
penyuluh agama Hindu yang
ber-NIP, dibantu
sekitar 1.400
penyuluh
honorer.
Selain
menyangkut
masih
kurangnya SDM, anggaran
juga
masih kecil.
Anggaran
di
bidang urusan agama
dan
pendidikan agama Hindu
sangat terbatas.
Karena
itu
diharapkan pemerintah
daerah
bisa mem-back-up
kegiatan-kegiatan
keagamaan Hindu.
Sementara
kegiatan
konsultasi
tokoh-tokoh
kelembagaan Hindu
ini
berlangsung dua
hari,
diikuti 30 peserta
seperti PHDI, PDHB, FKUB,
Majelis
Desa Pakraman, WHDI,
Peradah
dan sebagainya.
Kegiatan
ini
dalam rangka
menjalin
kerja
sama yang
lebih solid
antara
pemerintah (dalam
hal ini
Ditjen
Bimas Hindu Depag/Kanwil
Depag Bali)
dengan
tokoh-tokoh kelembagaan
Hindu, dalam
rangka
membangun rohani
umat--meningkatkan
sradha
dan bakti
umat Hindu.
Sebab,
tokoh-tokoh
kelembagaan
umat Hindu
memiliki
peran
strategis dalam
rangka
mengemban tugas
tersebut.
''Melalui
kegiatan
ini paling
tidak
ada persamaan
visi
dan misi
dalam
rangka menyiapkan
pola
pembinaan umat
ke
depan,'' ujar
Sutha
Yasa yang baru
beberapa
pekan
dilantik menjadi
Kakanwil Agama
Propinsi Bali
tersebut.
(08)