Pengentasan
Gizi
Buruk---
Cenderung
Bermuatan
Politis
Denpasar
(Bali Post) -
Hiruk-pikuk
dunia
politik diharapkan
tidak
membuat sektor-sektor
kesehatan
dan
kepedulian kepada
warga
miskin terpinggirkan.
Di
tengah
maraknya wacana
tentang
penderita gizi
buruk,
Pemprop Bali diminta
segera
melakukan koordinasi
terpadu
dan membuat
rencana
aksi untuk
pengentasannya.
''Rencana
aksi
untuk pengentasan
gizi
buruk terkesan
luput
dari kepedulian.
Belakangan
ini
setelah penderita
gizi
buruk dicanangkan
dana
oleh
Depkes, jumlah
penderita
gizi
buruk di Bali
bermunculan.
Fakta
ini sangat
memprihatinkan,''
ujar
Ketua DPD Lembaga
Pemberdayaan
Masyarakat (LPM)
Bali A.A.
Ngurah
Gede Widiada,
Selasa (18/3)
kemarin.
Ia
khawatir
ada
banyak masalah-masalah
sosial yang
dihadapi
krama Bali
dijadikan
dasar
untuk mendapat
kucuran
dana pusat.
Padahal
untuk
kepentingan terbangunnya
solidaritas
pengentasan
kemiskinan,
semua
pihak harus
berpihak
pada
publik. ''Penderitaan
krama
Bali
akibat
kemiskinan banyak
yang tak
muncul
ke permukaan,
karena
tak ada
pihak yang
bersimpati
membantu
meringankan
beban
warga miskin.
Padahal
untuk
membangun daya
dukung yang
kuat
terhadap program
penyelamatan
Bali, penduduknya
harus
benar-benar terayomi,''
ujarnya.
Widiada
berharap
ada
keseriusan untuk
mendata
masalah-masalah sosial
yang dihadapi
masyarakat Bali.
Pengentasan
kemiskinan
termasuk
penanganan
gizi
buruk jangan
ditunggangi
kepentingan
politis.
Pengentasan
kemiskinan
harus
berangkat dari
keikhlasan
membantu
meringankan
beban
sesama.
Pengamat
lingkungan
dan
masalah sosial
Unud Drs. KG Dharma
Putra,
M.Sc. mengatakan
selama
ini pengentasan
masalah-masalah
kemiskinan
cenderung
berbasiskan
proyek
dan kepentinagn
politis.
Dulu,
ketika KK miskin
akan
mendapat
dana
talangan dari
pusat,
di berbagai
kabupaten
di Bali
angka kemiskinan
terus
membengkak.
Padahal,
sebelumnya
semua
kabupaten mencanangkan
diri
bebas
Pra
KS.
''Pejabat
publik
harus membudayakan
pola-pola
kajian
empiris terhadap
masalah-maalah
sosial yang
dihadapi
warganya.
Berdasarkan
hasil
kajian ini
kemudian
disusun
strategi untuk
mengatasinya,''
ujarnya.
Dharma Putra
memprediksi
kasus
gizi buruk yang
kini
bermunculan di
sejumlah
kabupaten
tak
luput dari
lemahnya
kepedulian
pejabat
terhadap penderitaan
warganya.
''Inilah
risikonya
ketika
kepedulian kepada
publik
hanya terbangun
menjelang
pesta
politik.
Padahal,
seorang
pejabat politis
wajib
hukumnya mengetahui
kondisi
warganya. (044)