Setuju
Nama
Manghapura
Seperti
diusulkan
pada
Surat Pembaca Bali
Post, 14 Februari 2008,
Manghapura
sebagai
ibu
kota
Kabupaten
Badung,
saya sangat
setuju.
Ini
untuk
mengembalikan keberadaan
kebesaran
kerajaan
Mengwi
pada abad ke-17 yang
pemerintahannya
berkedudukan
di
Manghapura.
Pada
abad ke-16 raja
Blambangan
meminta
bantuan kepada raja
Buleleng
untuk
meredakan kerusuhan
di
keraton Macan
Putih
dalam hal
pengangkatan raja
dan
perlindungan dari
serbuan
Mataram Islam.
Setelah
kesepakatan
dicapai,
diangkatlah
Mas
Putra menjadi raja
Blambangan
dengan
gelar Pangeran
Danureja
pada
tahun 1697-1736.
Saat
pengangkatannya
mendapat
perlindungan
dari
Gusti Ngurah
Panji
Kertanegara atau
Panji
Sakti dari
Buleleng, yang
pusat
pemerintahannya di
Semayapura (Mahyapura).
Pada
tahun 1709-1711
Buleleng
dikuasai
oleh
kerajaan Mengwi,
sehingga
dengan
sendirinya Blambangan
juga
ikut dikuasai
Mengwi.
Saat
itu
anak-anak Surapati
di
Pasuruan meminta
salah
satu keturunan raja
Mengwi
untuk memerintah
di
Blambangan.
Dari Mengwi
diangkatlah I
Gusti
Agung Sakti yang
bergelar
Cokordha
Sakti
Blambangan yang merupakan
menantu
Panji Sakti
bersama
dengan 10.000 orang
Bali memerintah
di
daerah Puger
Blambangan
Barat.
Blambangan
waktu
itu diperintah
oleh
Pangeran Danureja,
yang wafat
tahun 1736
kemudian
dimakamkan
di
Tuban (wilayah
airport Ngurah
Rai, Bali)
dan
diganti oleh
putranya
bernama
Pangeran Mas
Sepuh
atau Pangeran
Danuningrat yang
didampingi
oleh
para wali
agung
dari Bali.
Pada
tahun 1745-1767
beliau
memerintah Blambangan
diwakili
oleh
adiknya Pangeran Wong
Agung
Wilis.
Pada
tahun 1764 keduanya
dipanggil
oleh Raja
Mengwi
dan Raja Klungkung (Gelgel),
yang diperintah
oleh Ida I
Dewa
Agung Dimade yang
berkedudukan
di
Semarapura.
Selama
di
Mengwi beliau
juga
berpindah tempat
dan
pernah juga
di
Kawiyapura (wilayah
Sibang)
dan menetap
di
Tegal Balumbungan
sebelum
beliau dibunuh
di
pantai Seseh
tahu 1761.
Pada
abad ke-17 ibu
kota
kerajaan
Mengwi
adalah Manghapura.
Kiranya
saran ini
bisa
dipertimbangkan untuk
mengenang
kebesaran
kerajaan
Mengwi
pada waktu
itu.
Dr. Pageh
Badunggawa
Br. Rangkan Sari
Pemogan
Denpasar