Yang cukup
mencengangkan
adalah
publikasi laporan
Lynch (2007) yang memaparkan
orang-orang
superkaya
di Indonesia
pertumbuhannya
mencapai 16
persen,
atau peringkat
ketiga
tertinggi setelah
Singapura
dan India,
sementara
pertumbuhan
orang-orang
superkaya
di
kawasan Asia Pasifik
jauh di
bawah
yakni rata-rata 8,6 persen
dan rata-rata
pertumbuhan
secara global 8,3
persen.
----------------------------------------
Pertumbuhan
dan
Realitas Kesenjangan
Ekonomi
Oleh
Prof. Dr. IB Raka
Suardana, S.E.,M.M.
MELIHAT
fenomena
perekonomian Indonesia
dalam 2
bulan terakhir
ini,
membuat para
pengamat
dan
analis ekonomi
makin
sulit untuk
melakukan
peramalan.
Berbagai
gejolak yang
terjadi
tidak bisa
diprediksi,
baik
gejolak eksternal
maupun internal,
sehingga
sangat
berpengaruh terhadap
kondisi
riil ekonomi
Indonesia yang dampaknya
langsung
maupun
tidak langsung
dirasakan
masyarakat
banyak.
Padahal di
akhir 2007
lalu --dari
berbagai
indikator
makro
ekonomi-- pemerintahan
Presiden SBY-JK
menorehkan 'prestasi'
yang cukup
baik,
yaitu kestabilan
dan
kepastian ekonomi
secara
cukup signifikan
lebih
baik dibandingkan
dengan
masa pemerintahan
sebelumnya.
Angka-angka
indikator
makro
ekonomi boleh
dikata
berada dalam
kondisi "aman
dan
terkendali".
-------------------------------------------------
Tidak
Linear
Apabila
kita
membandingkan keberhasilan
dan
kegagalan pemerintahan
SBY-JK dengan
pemerintahan
sebelumnya
dari
sudut pandang
ekonomi,
pemerintahan SBY-JK
unggul
di tiga
indikator,
yakni
pertumbuhan ekonomi,
kenaikan
investasi,
dan
nilai impor,
sementara
tiga
indikator ekonomi
lainnya,
yakni
laju inflasi,
suku
bunga Sertifikat Bank
Indonesia (SBI), dan
nilai
tukar rupiah,
pemerintahan SBY-JK
dapat
dikatakan rapornya
masih
merah. Pada
masa Megawati (2002-2004),
laju
inflasi rata-rata mencapai
8,2 persen,
sedangkan
pada
masa SBY-JK (2005-2007)
sebesar 10 persen.
Nilai
tukar rupiah
tercatat
pada
kisaran Rp 8.941 per
dolar AS
pada
masa Mega berbanding
dengan
Rp 9.343 per dolar AS
pada
pemerintahan SBY-JK.
Menyoroti
dari
satu indikator
makro
ekonomi, yaitu
dari
sisi 'prestasi'
pertumbuhan
ekonomi data
empiris
menunjukkan sepanjang
2002-2007 ekonomi Indonesia
telah
mampu tumbuh
dari 4,9
persen
menjadi 5,8 persen.
Hal itu
jelas menunjukkan
Indonesia mengalami
perbaikan yang
cukup
signifikan semasa
pemerintahan SBY-JK yang
telah
berlangsung 3,5 tahun.
Akan
tetapi, pertumbuhan
ekonomi yang
baik
itu tidak
diikuti
realitas di
lapangan,
yakni
dengan tidak
timbulnya
pemerataan,
malahan yang
terjadi
adalah kesenjangan
ekonomi
antara mereka yang
kaya
makin kaya,
sementara yang
miskin
makin menjadi
miskin.
Berdasarkan
berbagai data yang
terpublikasi,
prestasi
pertumbuhan
ekonomi yang
dicapai
hanya dinikmati
oleh 40
persen golongan
menengah
dan 20
persen golongan
orang
terkaya, sisanya
sebanyak 40
persen
makin tersisihnya
kelompok
penduduk
berpendapatan
terendah (miskin).
Data tahun 2006
menunjukkan,
kelompok
penduduk
berpendapatan
terendah
ini
hanya menikmati
porsi
pertumbuhan ekonomi
19,2 persen,
makin
mengecil dari 20,92
persen
dibanding tahun 2000.
Sebaliknya, 20
persen
kelompok penduduk
terkaya
makin menikmati
pertumbuhan
ekonomi
dari 42,19 persen
menjadi 45,72
persen.
Rasio gini --yang
menunjukkan
kesenjangan
ekonomi--
juga
makin membesar
dari 0,29
menjadi 0,35 (Kuntjoro,
2007).
Malahan
yang cukup
mencengangkan
adalah
publikasi laporan
Lynch (2007) yang memaparkan
orang-orang
superkaya
di Indonesia
pertumbuhannya
mencapai 16
persen,
atau peringkat
ketiga
tertinggi setelah
Singapura
dan India,
sementara
pertumbuhan
orang-orang
superkaya
di
kawasan Asia Pasifik
jauh di
bawah
yakni rata-rata 8,6 persen
dan rata-rata
pertumbuhan
secara global 8,3
persen.
Diperkirakan penyebab
makin
kayanya orang-orang
superkaya
di Indonesia
adalah
terjadinya peningkatan
harga
saham yang melonjak
drastis
di tahun 2007
di
kawasan Asia Pasifik,
termasuk Indonesia yang
meningkat rata-rata 45
persen.
Ada
pendapat lain yang
dapat pula
dipakai
sebagai dasar
untuk
melihat terjadinya
kesenjangan
tersebut --seperti
yang diungkapkan
Kepala
Badan Pertanahan
Nasional (BPN) Joyo
Winoto, 16 November 2007
saat
memberikan ceramah
di
kampus UGM-- makin
tingginya
angka
kemiskinan di
Indonesia antara lain
diakibatkan
adanya
monopoli kepemilikan
aset
ekonomi oleh
segelintir
orang.
Angka secara
nasional
menunjukkan, 0,2
persen
dari 220 juta
penduduk Indonesia
diduga
telah menguasai 62-87
persen
aset ekonomi
Indonesia. Monopoli
kepemilikan
aset
itu di
antaranya
meliputi
kekayaan
finansial
dan
penguasaan agraria
seperti
tanah, tambak,
kebun
dan properti.
Konsumsi
sebagai Motor
Selain
itu,
kesenjangan ekonomi
yang tidak
sejalan
dengan 'prestasi'
pertumbuhan
ekonomi
tampaknya diakibatkan
pula oleh motor
penggerak
pertumbuhan
lebih
ditopang oleh
konsumsi,
bukan
akibat adanya
investasi.
Secara
teoritis, pertumbuhan
ekonomi yang
baik
jika penggeraknya
adalah
investasi. Di
negara
kita, yang terjadi
adalah
konsumsi tumbuh
rata-rata 3,9 persen,
sebaliknya
pertumbuhan
sektor
investasi justru
anjlok
menjadi 2,9 persen
tahun 2007
dibanding 16,7
persen
pada tahun 2002.
Ketidaklineran
pertumbuhan
dengan
pemerataan itu
dapat pula
dilihat
dari angka
kemiskinan yang
makin
meningkat terutama
pada
wilayah perkotaan,
yakni
dari 9,6 tahun 1996
juta
menjadi 13,6 juta
tahun 2007,
sedangkan total
angka
kemiskinan nasional
melonjak
dari 34,5
juta
menjadi 37,2 juta
orang
atau 16,6 persen
dari total
penduduk Indonesia (Kuntjoro,
2007)
Di
samping
itu, beberapa data
lain menunjukkan
makin
mengecilnya peranan
sektor
pertanian terhadap
penciptaan
lapangan
usaha.
Sumbangan sektor
pertanian
terhadap PDB
berangsur-angsur
disalip
oleh sumbangan
sektor
industri manufaktur.
Kontribusi
sektor
industri meningkat
dari 8,5
persen
menjadi 28,1 persen
pada 2006,
dan
porsi sektor
pertanian
makin
mengecil dari 51
persen
menjadi 12 persen,
serta 13
juta
petani hanya
memiliki
lahan
garapan kurang
dari 0,5
hektar.
Jika
tidak
ada kebijakan
khusus yang
diambil
oleh pemerintah
SBY-JK pada
sisa
pemerintahannya yang tinggal
1,5 tahun
lagi
ini, maka
jangan
harap prestasi
pertumbuhan
ekonomi yang
diraihnya
akan linear
dengan
pengurangan kesenjangan.
Malah
sebaliknya yang dapat
terjadi,
yaitu
kesenjangan akan
makin
melebar saja.
Penulis,
Guru Besar
Ilmu
Manajemen FE Undiknas
Denpasar,
kini
sebagai Deputi
Rektor I
bidang
Akademis & Sistem
Informasi,
serta KPS MM
Pascasarjana
Undiknas
Denpasar
-------------------------------
*
Kesenjangan
ekonomi yang
tidak
sejalan dengan 'prestasi'
pertumbuhan
ekonomi
tampaknya diakibatkan
pula oleh motor
penggerak
pertumbuhan
lebih
ditopang oleh
konsumsi,
bukan
akibat adanya
investasi.
*
Ketidaklineran
pertumbuhan
dengan
pemerataan dapat pula
dilihat
dari angka
kemiskinan yang
makin
meningkat terutama
pada
wilayah perkotaan.
*
Jika
tidak ada
kebijakan
khusus yang
diambil
oleh pemerintah
SBY-JK pada
sisa
pemerintahannya yang tinggal
1,5 tahun
lagi
ini, maka
jangan
harap prestasi
pertumbuhan
ekonomi yang
diraihnya
akan linear
dengan
pengurangan kesenjangan.