Raul Castro, Presiden
Baru
Kuba
Havana -
Seperti
perkiraan yang
sudah
hampir pasti,
parlemen
Kuba
memilih Raul Castro (76)
sebagai presiden
baru
setelah hampir 50
tahun
di bawah
naungan
kakaknya, Fidel Castro.
Ini
tentunya
sebuah
sejarah baru yang
kelihatannya
tetap
mengukuhkan Pulau
Karibia
tersebut di
jalan
komunis.
Setelah
berpuluh
tahun
dalam bayang-bayang
karismatik Fidel Castro
sebagai
orang nomor
dua di
Kuba
dan Menteri
Pertahanan, Raul Castro
sekarang
menghadapi
tantangan
besar.
Tugas
pentingnya
termasuk
mempersiapkan
transisi
kekuatan
kepada
generasi baru
dan
tuntutan mendesak
yakni
reformasi ekonomi.
"Fidel tidak
tergantikan,
masyarakat
terus
akan mengenang
jasa-jasanya
walau
secara fisik
dia
tidak bersama
kami
lagi.
Ide-ide
landasan
dasarnya
selalu
akan menjadi
acuan
pemerintah," ujar
Raul Castro kepaga
anggota
legislatif dalam
pidato
penerimaan Minggu
(24/2) malam
waktu
setempat.
Sembilan
belas
bulan sejak
ia
mengambil
alih
posisi sebagai
pemimpin
sementara, Raul Castro
melakukan
sedikit
perubahan dalam
ekonomi,
namun
berjanji langkah
tersebut
memberikan
kesempatan
lebih
besar.
Ia berjanji
semuanya
akan
berjalan jelas
untuk
masyarakat dan
pemecahan
masalah
negara akan
diselesaikan "sedikit
demi
sedikit."
Masyarakat
banyak
berharap presiden
baru
lebih memantapkan
reformasi
ekonomi
guna meningkatkan
status taraf
hidup
mereka. "Ini
yang terbaik
bagi
Kuba," tandas Carlos
Muguercia (78),
seorang
perajin kayu.
"Raul tahu
situasi
negara,
ia tahu
cara
memecahkan masalah
walaupun
masalah
tersebut sudah
serius."
Fidel Castro (81), pemimpin
revolusi
Kuba,
secara temporal menyerahkan
tampuk
kekuasaan kepada
adiknya
pada Juli 2006
ketika
masuk RS untuk
menjalani
bedah
perut. Sejak
itu pula Fidel
tidak
pernah muncul
di
hadapan publik,
dan
Selasa lalu
ia
memberikan
pengumuman
bersejarah
dengan
muncul sebagai
presiden
dengan
alasan kesehatan.
Segera
setelah
diangkat menjadi
presiden, Raul Castro
menunjuk
Jenderal Julio
Casas
Regueiro (72) muntuk
enggantikannya
sebagai
pemimpin angkatan
bersenjata
negara.
Reaksi
pertama
Amerika Serikat
atas
penunjukan Castro oleh
dewan
nasional adalah
mereka
ingin terjadinya
beberapa
perubahan.
"Ada
kemungkinan
dan
potensi perubahan
di Kuba.
Namun
hal ini
harus
lahir dari
dalam
Kuba sendiri,"
jelas Tom Shannon, diplomat
tinggi AS
untuk
Amerika Latin. (ton/afp)