kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 21 Pebruari 2008

 Pariwisata


Lakukan
Terobosan

TEROBOSAN yang dilakukan Yayasan Dharma Widya Ulangun, Denpasar patut diacungi jempol dan layak untuk ditiru oleh penyelenggara pendidikan lainnya di Indonesia. Betapa tidak, lembaga ini tak lagi sekadar berorientasi menampung mahasiswa sebanyak-banyaknya, lalu meluluskan mereka dan tak peduli apakah lulusannya terserap di lapangan kerja atau tidak.

"Kami sudah keluar dari paradigma lama seperti itu. Sejak berdiri tahun 2000, Yayasan Dharma Widya Ulangun sudah memikirkan berbagai langkah. Antara lain mengupayakan agar kita juga memikirkan penyaluran mahasiswa dan lulusan ke tempat kerja, baik di dalam negeri maupun di luar negeri," ujar Ketua Yayasan Dharma Widya Ulangun Drs. Wayan Gede Astina, M.Pd.

Apa yang dikemukakan Astina ini bukan sekadar wacana. Dalam tulisan berseri yang dimuat di harian ini beberapa hari lalu, terlihat jelas bahwa Yayasan Dharma Widya Ulangun dengan sejumlah unit di bawahnya memiliki visi yang kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di Pulau Dewata. Intinya, menyiapkan SDM pariwisata yang berkualitas.

Yayasan Dharma Widya Ulangun terbukti mengelola Sekolah Perhotelan Bali (SPB) dengan baik. Dari akreditasi yang dilakukan oleh Disnaker Propinsi Bali terhadap lembaga diklat sejenis, SPB meraih nilai A plus. Ini suatu capaian yang tidak mudah di tengah persaingan dunia pendidikan yang semakin ketat. "Kami berbangga, tetapi sekaligus menganggapnya sebagai tantangan untuk terus berbuat yang terbaik," ujar Astina.

Yang menarik, Yayasan Dharma Widya Ulangun menawarkan konsep yang populer dengan sebutan one stop learning. Dengan konsep ini, yayasan ini mampu berkiprah lebih dari sekadar proses belajar-mengajar dan praktikum, tetapi juga ikut menyiapkan lulusan untuk bisa terserap di dunia kerja. Bahkan melalui koperasi di kampus setempat, lulusan yang mengalami kendala finansial saat berangkat di luar negeri, bisa terbantu.

Drs. Nyoman Gede Astina, M.Pd. yang juga Direktur SPB mengakui, untuk bisa mengirimkan lulusan atau mahasiswa magang ke luar negeri bukanlah pekerjaan gampang. Selain harus menjalin networking dengan PJTKI, pihaknya juga harus mampu menyelenggarakan pendidikan yang memungkinkan para alumni SPB bisa lolos seleksi. Secara umum setidaknya mampu berbahasa Inggris dan memiliki kompetensi di bidangnya.

''Sesuai dengan misi sekolah kami (SPB dan Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional - red), bagaimana menjadi pusat unggulan atau center of excellent demi terwujudnya SDM yang terlatih, produktif, profesional, bermartabat dan berwawasan global,'' ujar Astina.

Center of Excellent di sini bukan sekadar gagah-gagahan tetapi harus betul-betul diimplementasikan dalam bentuk penyediaan kurikulum, instruktur, sarana-prasarana serta iklim pendidikan yang kondusif.

Untuk itu, pihaknya menyiapkan model One Stop Learning yang mungkin merupakan sesuatu yang agak baru di Indonesia. Di mana lima unsur diklat diintegrasikan sehingga peran perguruan tinggi (PT) tak lagi sebatas menampung dan meluluskan mahasiswa sebanyak-banyaknya, tetapi juga harus ikut bertanggung jawab terhadap masa depan lulusannya. "Hal ini merupakan suatu inovasi dan kreasi yang secara tim kami lakukan," ungkap Astina.

Lantas apa saja lima unsur dimaksud? Yakni pendidikan (education), pelatihan (trainning), pemagangan (apprentice), penempatan (placement) dan pembiayaan (finance). Dia lantas menjelaskan, selain pelatihan dan trainning sesuai dengan program yang dipilih, mahasiswa SPB dan STPB Internasional juga disediakan tempat pemagangan dan penempatan bagi lulusan, khususnya ke luar negeri, baik di darat maupun di kapal pesiar. (gre)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)