Lakukan
Terobosan
TEROBOSAN
yang dilakukan
Yayasan Dharma
Widya
Ulangun, Denpasar
patut
diacungi jempol
dan
layak untuk
ditiru
oleh penyelenggara
pendidikan
lainnya
di
Indonesia.
Betapa
tidak,
lembaga ini
tak
lagi sekadar
berorientasi
menampung
mahasiswa
sebanyak-banyaknya,
lalu
meluluskan mereka
dan tak
peduli
apakah lulusannya
terserap
di
lapangan kerja
atau
tidak.
"Kami
sudah
keluar dari
paradigma lama
seperti
itu.
Sejak
berdiri
tahun 2000, Yayasan
Dharma Widya
Ulangun
sudah memikirkan
berbagai
langkah.
Antara lain
mengupayakan agar
kita
juga memikirkan
penyaluran
mahasiswa
dan
lulusan ke
tempat
kerja, baik
di
dalam negeri
maupun
di luar
negeri,"
ujar
Ketua Yayasan Dharma
Widya
Ulangun Drs. Wayan
Gede
Astina, M.Pd.
Apa
yang dikemukakan
Astina
ini bukan
sekadar
wacana.
Dalam
tulisan
berseri yang dimuat
di
harian ini
beberapa
hari
lalu, terlihat
jelas
bahwa Yayasan Dharma
Widya
Ulangun dengan
sejumlah unit
di
bawahnya memiliki
visi yang
kuat
untuk meningkatkan
kualitas
pendidikan
di
Indonesia,
khususnya
di
Pulau Dewata.
Intinya,
menyiapkan SDM
pariwisata yang
berkualitas.
Yayasan
Dharma Widya
Ulangun
terbukti mengelola
Sekolah
Perhotelan Bali (SPB) dengan
baik.
Dari akreditasi
yang dilakukan
oleh
Disnaker Propinsi
Bali terhadap
lembaga
diklat sejenis, SPB
meraih
nilai A plus.
Ini
suatu
capaian yang tidak
mudah
di tengah
persaingan
dunia
pendidikan yang semakin
ketat.
"Kami
berbangga,
tetapi
sekaligus menganggapnya
sebagai
tantangan untuk
terus
berbuat yang terbaik,"
ujar
Astina.
Yang menarik,
Yayasan Dharma
Widya
Ulangun menawarkan
konsep yang
populer
dengan sebutan one
stop learning.
Dengan
konsep ini,
yayasan
ini mampu
berkiprah
lebih
dari sekadar
proses
belajar-mengajar dan
praktikum,
tetapi
juga ikut
menyiapkan
lulusan
untuk bisa
terserap
di
dunia kerja.
Bahkan
melalui
koperasi di
kampus
setempat, lulusan
yang mengalami
kendala
finansial saat
berangkat
di luar
negeri,
bisa terbantu.
Drs. Nyoman
Gede
Astina, M.Pd. yang
juga
Direktur SPB mengakui,
untuk
bisa mengirimkan
lulusan
atau mahasiswa
magang
ke luar
negeri
bukanlah pekerjaan
gampang.
Selain
harus
menjalin networking dengan
PJTKI, pihaknya
juga
harus mampu
menyelenggarakan
pendidikan yang
memungkinkan
para alumni SPB
bisa
lolos seleksi.
Secara
umum
setidaknya mampu
berbahasa
Inggris
dan memiliki
kompetensi
di
bidangnya.
''Sesuai
dengan
misi sekolah
kami (SPB
dan
Sekolah Tinggi
Pariwisata Bali
Internasional - red),
bagaimana
menjadi
pusat unggulan
atau center of excellent
demi
terwujudnya SDM yang
terlatih, produktif,
profesional,
bermartabat
dan
berwawasan global,'' ujar
Astina.
Center of Excellent di
sini
bukan sekadar
gagah-gagahan
tetapi
harus betul-betul
diimplementasikan
dalam
bentuk penyediaan
kurikulum,
instruktur,
sarana-prasarana
serta
iklim pendidikan yang
kondusif.
Untuk
itu,
pihaknya menyiapkan
model One Stop Learning yang
mungkin merupakan
sesuatu yang
agak
baru di Indonesia.
Di mana
lima
unsur
diklat diintegrasikan
sehingga
peran
perguruan tinggi (PT)
tak
lagi sebatas
menampung
dan
meluluskan mahasiswa
sebanyak-banyaknya,
tetapi
juga harus
ikut
bertanggung jawab
terhadap
masa
depan lulusannya.
"Hal ini
merupakan
suatu
inovasi dan
kreasi yang
secara
tim
kami
lakukan," ungkap
Astina.
Lantas
apa
saja lima
unsur
dimaksud?
Yakni
pendidikan (education),
pelatihan (trainning),
pemagangan (apprentice),
penempatan (placement)
dan
pembiayaan (finance).
Dia lantas
menjelaskan,
selain
pelatihan dan
trainning
sesuai
dengan program yang dipilih,
mahasiswa SPB
dan STPB
Internasional
juga
disediakan tempat
pemagangan
dan
penempatan bagi
lulusan,
khususnya
ke luar
negeri,
baik di
darat
maupun di
kapal
pesiar. (gre)