Deindustrialisasi
Bayangi
Industri Nasional
Jakarta(Bali
Post) -
Deindustrialisasi
mulai
membayangi kinerja
industri
nasional.
Ini
tidak
terlepas akibat
etos
industri nasional
itu
sendiri yang terlalu
bersandar
pada
pasar global. "Indikatornya
jelas
seperti diumumkan
Menperin
Fahmi
Idris, bahwa
pertumbuhan
industri
nasional
turun
dari 5,27 persen
pada 2006
menjadi 5,15
persen
pada 2007, jauh
di
bawah target 7,9 persen,"
ujar
ekonom Ichsanuddin
Noorsy
di Jakarta, Rabu
(20/2) kemarin.
Menperin
mengutarakan,
pertumbuhan
industri
tahun
lalu tertekan
akibat
kenaikan harga
minyak
dunia dan
kenaikan
harga
komoditas pertanian
seperti
kedelai, jagung,
susu,
minyak sawit
mentah (crude palm oil/CPO),
serta
gandum.
Selain
itu,
perlambatan ekonomi
di AS
akibat subprime
mortgage juga
mempengaruhi
kinerja
industri nasional
pada
akhir tahun.
Noorsy
berpendapat,
merosotnya
performa
industri
nasional
tidak lain
karena Indonesia
terlalu
bersandar ke
pasar global.
Dengan
begitu,
jika timbul
gejolak
di luar,
kinerja
industri nasional
kontan
melorot. "Kita
terlalu
mengandalkan pasar
global.
Itu
disebut
pertumbuhan bubble sehingga
kita
harus bersiap-siap
jika
terjadi gejolak
di
pasar global," ujar
Noorsy.
Karenanya,
dia
menilai penurunan
industri
nasional
merupakan
sinyal
kuat
Indonesia
tengah
memasuki fenomena
deindustrialisasi.
Proses
penyesuaian
terkait
gejolak harga-harga
komoditi
di
dalam negeri,
menurut
Ichsanuddin membutuhkan
waktu
cukup panjang.
Pasalnya,
dunia
usaha memerlukan
penyesuaian
akibat
kenaikan biaya
produksi.
"Setidaknya
butuh
waktu satu
atau
dua bulan
untuk
memprediksi pertumbuhan
di
tahun ini.
Paling cepat
baru
bisa terbaca
Maret
atau selambatnya
akhir semester
pertama
nanti," jelas
Ichsanuddin.
Semua
sektor
industri, lanjut
Ichsanuddin,
mengalami
tekanan yang
cukup
parah.
Sektor
Usaha
Mikro Kecil
dan
Menengah (UMKM) dianggap
bisa
menjadi tumpuan
terakhir
penyelamat
nadi
perekonomian negara.
Sebab,
hampir
semua sektor
industri
skala
besar hanya
bertumpu
pada
kekuatan modal.
Menperin
Fahmi
Idris menepis
anggapan
tersebut.
Kendati
diakui
selama tiga
tahun
terakhir pertumbuhan
industri
terus
menurun, namun
hal
tersebut belum
bisa
menunjukkan terjadinya
deindustrialisasi
di
Indonesia.
"Itu (deindustrialisasi)
mesti
dilihat secara
lengkap.
Jika
dibandingkan dengan
sektor
lain seperti
pertanian,
juga
terjadi penurunan.
Tapi
dalam
penurunan itu,
industri
tetap
jadi yang terbesar,"
ujarnya.
Dikatakannya,
deindustrialisasi
atau
penurunan sumbangan
industri
terhadap
perokonomian
harus
dilihat dari
sejumlah
variabel,
seperti
kontribusinya terhadap
pendapatan
domestik
bruto (PDB), total
ekspor,
peranan menyerap
tenaga
kerja, dan lain-lain.
"Nah,
itu
harus dilihat
satu-satu,"
ucapnya.
Saat
ini
industri manufaktur
masih
menjadi penyumbang
nilai
tambah terbesar
pada PDB
nasional.
Sumbangan
sebesar 27
persen
diberikan oleh
sektor
industri pengolahan,
melampaui
kontribusi
sektor
pertanian yang hanya
mampu
bergerak di
angka 14
persen.
Sedangkan,
industri
pengolahan
nonmigas
sendiri
memiliki kontribusi
sekitar 23
persen
terhadap PDB nasional.
(kmb1)