kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 21 Pebruari 2008

 Ekuin


Deindustrialisasi Bayangi Industri Nasional 

Jakarta(Bali Post) -
Deindustrialisasi
mulai membayangi kinerja industri nasional. Ini tidak terlepas akibat etos industri nasional itu sendiri yang terlalu bersandar pada pasar global.  "Indikatornya jelas seperti diumumkan Menperin Fahmi Idris, bahwa pertumbuhan industri nasional turun dari 5,27 persen pada 2006 menjadi 5,15 persen pada 2007, jauh di bawah target 7,9 persen," ujar ekonom Ichsanuddin Noorsy di Jakarta, Rabu (20/2) kemarin.

Menperin mengutarakanpertumbuhan industri tahun lalu tertekan akibat kenaikan harga minyak dunia dan kenaikan harga komoditas pertanian seperti kedelai, jagung, susu, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), serta gandum. Selain itu, perlambatan ekonomi di AS akibat subprime mortgage juga mempengaruhi kinerja industri nasional pada akhir tahun.

Noorsy berpendapat, merosotnya performa industri nasional tidak lain karena Indonesia terlalu bersandar ke pasar global. Dengan begitu, jika timbul gejolak di luar, kinerja industri nasional kontan melorot. "Kita terlalu mengandalkan pasar global. Itu disebut pertumbuhan bubble sehingga kita harus bersiap-siap jika terjadi gejolak di pasar global," ujar Noorsy. Karenanya, dia menilai penurunan industri nasional merupakan sinyal kuat Indonesia tengah memasuki fenomena deindustrialisasi.

Proses penyesuaian terkait gejolak harga-harga komoditi di dalam negeri, menurut Ichsanuddin membutuhkan waktu cukup panjang. Pasalnya, dunia usaha memerlukan penyesuaian akibat kenaikan biaya produksi.  "Setidaknya butuh waktu satu atau dua bulan untuk memprediksi pertumbuhan di tahun ini. Paling cepat baru bisa terbaca Maret atau selambatnya akhir semester pertama nanti," jelas Ichsanuddin.

Semua sektor industri, lanjut Ichsanuddin, mengalami tekanan yang cukup parah. Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dianggap bisa menjadi tumpuan terakhir penyelamat nadi perekonomian negara. Sebab, hampir semua sektor industri skala besar hanya bertumpu pada kekuatan modal.

Menperin Fahmi Idris menepis anggapan tersebut. Kendati diakui selama tiga tahun terakhir pertumbuhan industri terus menurun, namun hal tersebut belum bisa menunjukkan terjadinya deindustrialisasi di Indonesia. "Itu (deindustrialisasi) mesti dilihat secara lengkap. Jika dibandingkan dengan sektor lain seperti pertanian, juga terjadi penurunan. Tapi dalam penurunan itu, industri tetap jadi yang terbesar," ujarnya.

Dikatakannya, deindustrialisasi atau penurunan sumbangan industri terhadap perokonomian harus dilihat dari sejumlah variabel, seperti kontribusinya terhadap pendapatan domestik bruto (PDB), total ekspor, peranan menyerap tenaga kerja, dan lain-lain. "Nah, itu harus dilihat satu-satu," ucapnya.

Saat ini industri manufaktur masih menjadi penyumbang nilai tambah terbesar pada PDB nasional. Sumbangan sebesar 27 persen diberikan oleh sektor industri pengolahan, melampaui kontribusi sektor pertanian yang hanya mampu bergerak di angka 14 persen. Sedangkan, industri pengolahan nonmigas sendiri memiliki kontribusi sekitar 23 persen terhadap PDB nasional. (kmb1)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)