Renungan Kuningan ---
Mencapai ''Santha Jagadhita''
Hari ini, Sabtu Kliwon (2/2), umat Hindu kembali
merayakan rerahinan Kuningan, setelah merayakan Galungan
sepuluh hari lalu. Hari-hari raya keagamaan tersebut
penting dimaknai hakikatnya, tak hanya dirayakan secara
rutinitas. Sebab, banyak makna penting tersirat di
dalamnya yang perlu ''dibumikan'' dalam kehidupan
sehari-hari. Bagaimana dengan Kuningan? Apa yang mesti
dimaknai dari perayaan Kuningan yang sarat dengan
simbol-simbol atau niyasa upakara seperti tamiang,
endongan dan sebagainya?
--------------------------
UMAT
Hindu hendaknya jangan berhenti pada terselenggaranya
perayaan hari keagamaan, tetapi memaknainya. Sebab, ada
banyak makna yang terkandung dalam perayaan keagamaan
tersebut.
Dosen IHDN Denpasar yang mantan Dirjen Bimas Hindu Depag
RI Dr. Wayan Suarjaya, M.Si. mengatakan, para leluhur
membuat banyak rerahinan agar umat selalu ingat kepada
Sang Pencipta -- Ida Sang Hyang Widi Wasa dan mensyukuri
karunia-Nya. Melalui perayaan hari raya keagamaan, umat
dituntut selalu ingat menyamabraya -- meningkatkan
persatuan dan solidaritas sosial. Selebihnya, melalui
rerahinan umat diharapkan selalu ingat kepada lingkungan.
''Guna mendapatkan sarana upakara, umat mesti menjaga
kelestarian lingkungan (kebersihan lingkungan). Selain
buah, bunga dan daun (sarana upakara), umat menggunakan
tirta (air suci) dalam penyelenggaraan yadnya. Karena
itu dalam konteks ini, ada pesan penting yang mesti
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, yakni
umat mesti menjaga alam -- jangan mencemari air,''
ujarnya.
Tetapi kenyataannya, banyak sungai yang sudah tercemar.
Di sinilah pentingnya kesadaran untuk memelihara alam.
Jadi dalam konteks kekinian, pesan yang bisa kita petik
dari perayaan hari keagamaan adalah umat mesti selalu
ingat Tuhan, menjaga persatuan, peka terhadap
nilai-nilai kemanusiaan dan selalu menjaga alam
lingkungan. Semua itu sesungguhnya implementasi dari
konsep Tri Hita Karana.
Lambang Perlindungan
Dalam perayaan Kuningan, simbol-simbol upakara menjadi
ciri khasnya seperti tamiang dan endongan. Apa maknanya?
Tamiang, kata Ketua Parisada Bali Drs. I Gusti Ngurah
Sudiana, M.Si. berasal dari kata tameng yang berarti
alat penangkis senjata. Sebagai alat penangkis, tamiang
memiliki lambang perlindungan. Di samping itu, tamiang
juga sebagai lambang Dewata Nawa Sanga, karena menunjuk
sembilan arah mata angin. Tamiang juga melambangkan
perputaran roda alam -- cakraning panggilingan. Lambang
itu mengingatkan manusia pada hukum alam. Jika
masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau
tak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh
roda alam. Melalui pelaksanaan Kuningan, tegas Sudiana
yang dosen IHDN Denpasar itu, umat diharapkan mampu
menata kembali kehidupan yang harmonis (hita) sesuai
dengan tujuan agama Hindu.
Selain tamiang, dalam perayaan Kuningan juga terdapat
endongan yang bermakna perbekalan. Bekal yang paling
utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu pengetahuan
dan bhakti (jnana). Sementara senjata yang paling ampuh
adalah ketenangan pikiran. Ketenangan pikiran ini yang
tak dapat dikalahkan oleh senjata apa pun.
Ikang
manah pinaka witing indra, yang artinya pikiran itu
sumber dari indria. Itu berarti senjata pikiranlah yang
paling ampuh dan utama dalam menghadapi berbagai
persoalan hidup.
Saat Kuningan, Batara-Batari diyakini turun dari
kahyangan, dan kemudian kembali lagi ke alamnya. Karena
itu umat Hindu berusaha menghaturkan upacara
sepagi-paginya, pada hari raya Kuningan.
Tetapi yang penting dari semua itu, kata Asdir I Program
Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia (Unhi)
Drs. Wayan Budi Utama, M.Si., umat Hindu mesti lebih
menguatkan bekal (endongan) hidup yakni ilmu pengetahuan.
Umat Hindu mesti unggul dari segi kualitas, sehingga
memiliki posisi tawar dan menang menghadapi persaingan
global.
Untuk meningkatkan kualitas, pendidikan adalah bekal dan
senjatanya. Karena itu yadnya dalam bidang pendidikan
mesti digalakkan di kalangan umat. Bila memungkinkan,
sumbangan dana pemerintah ke desa pakraman beberapa
persennya dialokasikan untuk investasi di bidang
pendidikan atau beasiswa. Dengan demikian, krama yang
kurang mampu dari segi ekonomi memiliki kesempatan untuk
meningkatkan kualitas SDM-nya. Hal ini dinilai penting
bagi Bali ke depan. ''Jika SDM Bali betul-betul
berkualitas akan memiliki posisi tawar dalam kancah yang
lebih luas. Jadi, simbol-simbol yang terdapat dalam
Kuningan mesti dimaknai lebih luas lagi.
Lewat perayaan Kuningan, diharapkan krama Bali lebih
terpacu lagi untuk mencetak kaum intelektual
sebanyak-banyaknya, sehingga mampu membawa Bali
lebih baik lagi dalam berbagai aspek, ya... alamnya,
budayanya, pendidikannya, ekonominya dan sebagainya,''
katanya.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan IHDN Denpasar Dr.
Ketut Subagiasta mengatakan hal yang sama. Melalui
perayaan Galungan-Kuningan umat diisyaratkan agar tak
henti-hentinya berjuang melawan adharma guna mencapai
kejayaan. Dalam konteks kekinian, umat mesti terus
berjuang untuk mengentaskan kemiskinan, mengentaskan
buta aksara, selain berjuang mengendalikan diri dan
selalu menyucikan pikiran biar hening. Semua itu dalam
rangka untuk mencapai santha jagadhita atau kerahayuan
atau keharmonisan yang langgeng. Semoga!
(lun)