Kejar Aset Koruptor-
Perlu Kerja Sama Multilateral
Denpasar (Bali Post) -
Negara-negara berkembang yang tergabung dalam kelompok
G-77 menginginkan kerja sama multilateral di bidang
hukum dalam upaya pengembalian aset negara yang diduga
merupakan hasil korupsi. Sebab, bila hanya perjanjian
bilateral, upaya itu tetap saja sulit dilakukan
mengingat tidak menutup kemungkinan uang yang disimpan
telah mengalir ke sejumlah negara.
''Kalau ada simpanan seorang koruptor ditempatkan di
sejumlah negara tentu lebih efektif kalau ada kerja sama
multilateral,'' kata anggota delegasi Indonesia Eddy
Pratomo di sela-sela Second of The Session of The
Conference of the States Parties to the Unites Nations
Convention Against Corruption (COSP II UNCAP), di Nusa
Dua, Rabu (30/1) kemarin.
Dirjen Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen
Luar Negeri ini menyebutkan, usulan tersebut sudah masuk
dalam rancangan resolusi mengenai review implementation
UNCAC dari G-77. Sayangnya, jelas Eddy, usulan itu
justru bertentangan dengan draf resolusi yang diajukan
oleh negara-negara maju seperti Kanada, Norwegia,
Portugal, Swizerland dan AS. ''Kami terus melakukan
lobi-lobi untuk mencari jalan tengahnya. Bila konsisten
dengan semangat awal konvensi, mestinya negara-negara
maju akan cukup fleksibel,'' katanya.
Indonesia, tegasnya, terus berusaha meyakinkan mereka
karena konvensi dilatarbelakangi oleh kepentingan semua
negara dengan dukungan PBB dan Bank Dunia. Negara
berkembang berharap negara-negara maju bisa
membuka data mengenai aset-aset koruptor yang ada
di di luar negeri. (015/056)
UNCAC ''Kebobolan''
Denpasar (Bali Post) -
Keamanan superketat yang diterapkan petugas keamanan
demi suksesnya pelaksanaan COSP II UNCAC di Nusa Dua,
Rabu (30/1) kemarin, akhirnya bobol juga. Sebanyak 7
orang pengunjuk rasa yang mengatasnamakan diri Pemuda
NKRI bisa menerobos ketatnya penjagaan sampai lobi Hotel
Westin, tempat berlangsungnya kegiatan.
Ketujuh pemuda yang sebagian besar mengenakan jas
bermotif batik itu bisa masuk dengan menggunakan pas
visitor. Setelah diperiksa secara formalitas, mereka pun
akhirnya bisa menginjakkan kaki di areal parkir Bali
International Convention Centre. Di sinilah kedoknya
terbuka. Ternyata di tengah jas yang digunakan ada baju
kaos berwarna putih yang bertuliskan ''UN builshit''.
Tidak lupa juga mereka memakai pita merah putih pada
bagian kepala, semakin memperjelas tujuan kedatangannya
adalah untuk demo.
Mereka kemudian bergerak menuju tempat berlangsungnya
konvensi, namun dihalang-halangi petugas keamanan Polda
Bali dan Polisi PBB. Perjalanan berlanjut menuju lobi
depan Hotel Westin. Namun, keinginan mereka untuk
menyampaikan pernyataan di depan para delegasi ditolak
petugas keamanan. Di bawah koordinator lapangan Tri Joko
Susilo, mereka kemudian digiring ke luar lokasi
pelaksanaan konvensi.
''Kami sangat malu, Indonesia dikatakan negara paling
korupsi. Tuduhan tersebut sangat menyakitkan hati,
mengingat tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta,''
ujarnya.
Tri Joko Susilo dalam pernyataan sikapnya mengecam
pernyataan PBB yang menempatkan Indonesia sebagai negara
terkorup di dunia. Terlebih lagi menempatkan Soeharto
sebagai pejabat paling korup, padahal PBB belum pernah
menyerahkan bukti-bukti dan fakta korupsi Soeharto.
Belum sempat mereka melampiaskan unek-uneknya, polisi
sudah langsung menghalaunya.
(015/056)