Kasih
Satu-satunya
Solusi
Banjir
entah
sudah berapa kali
terjadi
dan kita pun
tahu
penyebabnya.
Namun
rupanya
sampai detik
ini pun
kita belum
mau
berubah, belum
mau
mengubah sebabnya,
agar akibatnya
sesuai
dengan keinginan
kita.
Kita pun sudah
sering
mendengar bahwa
semua
bencana banjir
itu
adalah akibat
dari
ulah manusia.
Lalu
kenapa sampai
detik
ini pun kita
belum
mampu mengubah
kebiasaan
jelek
kita agar bencana
itu
tidak
datang?
Ternyata
sampai
saat ini pun
perilaku
kita
masih lebih
banyak
mengundang masalah.
Barangkali
kita
pikir bahwa
jika
telah mampu
hidup
mewah maka
semua
persoalan
akan
dapat
kita atasi
dengan
kemewahan tersebut.
Mungkin
itu pula sebabnya
setiap
pemkab,
dinas, institusi,
rumah
tangga dan
setiap
individu, berlomba-lomba
mengejar
kemewahan
dimaksud.
Tetapi
adakah
kemewahan tersebut
mampu
menyelesaikan
masalah-masalah yang kita
hadapi?
Justru
hidup
dalam kemewahan
itu
telah menimbulkan
berbagai
masalah yang
akhirnya
terakumulasi
dalam
bencana.
Sedihnya,
dalam
menghadapi berbagai
persoalan
itu,
kita semua
melarikan
diri
dengan berbagai
bentuk
ekspresi.
Ternyata
doa
dan
kurban yang kita
lakukan
tidak membawa
hasil
seperti apa yang
kita
harapkan.
Hukum
semesta
hanya mengatakan
bahwa
setiap sebab
akan
membawa
akibat, setiap
aksi
akan menimbulkan
reaksi yang
setimpal.
Oleh
karena
itu, jika
kita
ingin mengubah
akibatnya
atau
reaksinya maka yang
harus
kita lakukan
adalah
mengubah sebab
atau
aksinya.
Aksi
atau
perbuatan kita
terhadap
alamlah yang
harus
kita ubah
sesuai
dengan reaksi yang
kita
inginkan.
Untuk
itu,
tidak ada
salahnya slogan yang
diciptakan
oleh
seorang spiritualis
dan
nasionalis lintas
agama Anand Krishna
dicoba
dipraktikkan.
''Kasih
Satu-satunya
Solusi,''
itulah
slogannya. Hanya
manusia-manusia yang
memiliki
kasih yang
akan
mampu
mengubah perilakunya
agar selaras
dengan
alam.
Putu
Kesuma
Koordinator
Gerakan
Integrasi
Nasional
(NIM)
Karangasem