kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 3 Januari 2008

 Pariwisata


Telewisata
:
Sikapi
dengan Tanggung Jawab

SEJUMLAH kalangan belum lama ini memprediksi tahun 2008 ini akan terjadi booming pariwisata. Prediksi ini tidak berlebihan kalau melihat trend kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2007 yang mencapai 1.667.655 orang atau naik 32 persen dibanding tahun 2006 yang kunjungannya tercatat 1.260.317 orang.

Booming yang dimaksud di sini diharapkan tak hanya menyangkut jumlah kedatangan langsung (direct arrival) wisatawan mancanegara, tetapi juga revenue yang diraup industri pariwisata berikut multiplier effect-nya bagi ekonomi Bali secara keseluruhan.

Booming pariwisata sesungguhnya bukan sekadar berkah kalau dilihat secara bertanggung jawab. Turis yang datang ke Bali tentu ingin memperoleh layanan yang baik dengan imbalan dolar yang mengalir dari kocek mereka. Fasilitas akomodasi khususnya hotel-hotel berbintang mungkin tak perlu diragukan lagi. Yang perlu diperhatikan justru kesiapan fasilitas umum, seperti kondisi jalan raya. Demikian pula kondisi sanitasi di objek-objek wisata serta keasrian lingkungan.

Di pengujung tahun 2007, di tengah optimisme akan booming pariwisata 2008 yang dilansir media, bersamaan dengan booming-nya sampah-sampah di pantai Kuta. Sungguh ironis! Sampah kiriman di pantai Kuta sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun, namun tampaknya mekanisme penanganannya belum juga jelas. Selama beberapa hari, sampah-sampah itu dibiarkan tergeletak di sepanjang pantai. Onggokan sampah berupa potongan kayu dalam ukuran besar dibiarkan menjadi objek wisata insidental yang menjadi tontonan turis.

Kondisi yang sama juga menghiasi sisi jalan raya By-pass Ngurah Rai. Di sepanjang jalan "bebas hambatan" itu terlihat bangunan yang tak beraturan, dipenuhi material dan mengonggok begitu saja. Sepintas tampak seperti "sampah" yang sengaja dibiarkan berserakan. Maksud pemiliknya mungkin menunjukkan keaslian, bagaimana produk mereka diproses dari awal, namun mereka tak pernah mempetirmbangkan efek jorok dari keputusan mereka. Padahal, semua tahu jalan By-pass Ngurah Rai merupakan "ruang tamu" bagi Bali.

Dari contoh sederhana di atas, tampak jelas komponen pariwisata, terutama pemerintah selaku regulator tidak siap menghadapi booming pariwisata. Istilah kasarnya, kita hanya mau enaknya saja menerima kucuran dolar dari para turis tanpa ada upaya untuk berterima kasih kepada mereka. Pemerintah asyik menghitung PHR dan industri pariwisata khusyuk memikirkan keuntungan yang diraih dalam transaksi. Lantas siapa yang memikirkan persoalan sampah di pantai Kuta dan siapa yang menertibkan bangunan yang semrawut di sepanjang Jalan By-pass Ngurah Rai?

Itu baru dua contoh. Contoh lainnya, masyarakat Bali jangan sampai justru dibebankan dengan booming pariwisata. Akibat pendirian hotel, vila dan ruko di mana-mana, harga tanah di Bali melonjak. Lonjakan ini justru memicu kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Sampai-sampai di Kuta dan Tabanan kenaikan mencapai ratusan persen. Padahal, pendapatan warga yang bukan pebisnis tetap, bahkan menurun. Lantas apa arti booming pariwisata?

Sejumlah "gugatan" di atas hanya sedikit contoh dari lautan masalah di Bali yang perlu ditangani segera. Sekali lagi, momentum booming pariwisata Bali tahun 2008 mesti disikapi dengan rasa syukur dan tanggung jawab. Booming pariwisata tanpa diikuti kesiapan dan pembenahan justru akan "memangsa" kita sendiri. * gregorius

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)