Telewisata
:
Sikapi
dengan
Tanggung
Jawab
SEJUMLAH
kalangan
belum lama
ini
memprediksi tahun
2008 ini
akan
terjadi booming
pariwisata.
Prediksi
ini
tidak berlebihan
kalau
melihat trend kunjungan
wisatawan
mancanegara (wisman)
tahun 2007 yang
mencapai 1.667.655
orang
atau naik 32
persen
dibanding tahun 2006
yang kunjungannya
tercatat 1.260.317
orang.
Booming yang dimaksud
di sini
diharapkan
tak
hanya menyangkut
jumlah
kedatangan langsung
(direct arrival) wisatawan
mancanegara,
tetapi
juga revenue yang diraup
industri
pariwisata
berikut multiplier effect-nya
bagi
ekonomi Bali secara
keseluruhan.
Booming pariwisata
sesungguhnya
bukan
sekadar berkah
kalau
dilihat secara
bertanggung
jawab.
Turis
yang datang
ke
Bali
tentu
ingin memperoleh
layanan yang
baik
dengan imbalan
dolar yang
mengalir
dari
kocek mereka.
Fasilitas
akomodasi
khususnya hotel-hotel
berbintang
mungkin
tak perlu
diragukan
lagi.
Yang perlu
diperhatikan
justru
kesiapan fasilitas
umum,
seperti kondisi
jalan
raya.
Demikian
pula kondisi
sanitasi
di
objek-objek wisata
serta
keasrian lingkungan.
Di
pengujung
tahun 2007,
di
tengah optimisme
akan
booming pariwisata 2008 yang
dilansir media,
bersamaan
dengan booming-nya
sampah-sampah
di
pantai Kuta.
Sungguh
ironis!
Sampah
kiriman
di pantai
Kuta
sudah menjadi
tradisi
dari tahun
ke
tahun, namun
tampaknya
mekanisme
penanganannya
belum
juga jelas.
Selama
beberapa
hari,
sampah-sampah itu
dibiarkan
tergeletak
di
sepanjang pantai.
Onggokan
sampah
berupa potongan
kayu
dalam ukuran
besar
dibiarkan menjadi
objek
wisata insidental
yang menjadi
tontonan
turis.
Kondisi
yang sama
juga
menghiasi sisi
jalan
raya By-pass Ngurah
Rai.
Di
sepanjang
jalan "bebas
hambatan"
itu
terlihat bangunan
yang tak
beraturan,
dipenuhi material
dan
mengonggok begitu
saja.
Sepintas
tampak
seperti "sampah" yang
sengaja
dibiarkan berserakan.
Maksud
pemiliknya
mungkin
menunjukkan keaslian,
bagaimana
produk
mereka diproses
dari
awal, namun
mereka
tak pernah
mempetirmbangkan
efek
jorok dari
keputusan
mereka.
Padahal,
semua
tahu jalan By-pass
Ngurah
Rai merupakan "ruang
tamu"
bagi
Bali.
Dari contoh
sederhana
di atas,
tampak
jelas komponen
pariwisata,
terutama
pemerintah
selaku regulator
tidak
siap menghadapi
booming pariwisata.
Istilah
kasarnya,
kita
hanya mau
enaknya
saja menerima
kucuran
dolar dari
para
turis tanpa
ada
upaya untuk
berterima
kasih
kepada mereka.
Pemerintah
asyik
menghitung PHR dan
industri
pariwisata
khusyuk
memikirkan keuntungan
yang diraih
dalam
transaksi.
Lantas
siapa yang
memikirkan
persoalan
sampah
di pantai
Kuta
dan siapa yang
menertibkan
bangunan yang
semrawut
di
sepanjang Jalan
By-pass Ngurah
Rai?
Itu
baru
dua contoh.
Contoh
lainnya,
masyarakat
Bali
jangan
sampai justru
dibebankan
dengan booming
pariwisata.
Akibat
pendirian hotel,
vila
dan
ruko di
mana-mana,
harga
tanah di Bali
melonjak.
Lonjakan
ini
justru memicu
kenaikan
Pajak
Bumi dan
Bangunan (PBB).
Sampai-sampai
di Kuta
dan
Tabanan kenaikan
mencapai
ratusan
persen.
Padahal,
pendapatan
warga yang
bukan
pebisnis tetap,
bahkan
menurun. Lantas
apa
arti booming
pariwisata?
Sejumlah
"gugatan"
di atas
hanya
sedikit contoh
dari
lautan masalah
di Bali yang
perlu
ditangani segera.
Sekali
lagi, momentum booming
pariwisata Bali tahun
2008 mesti
disikapi
dengan
rasa syukur
dan
tanggung jawab.
Booming pariwisata
tanpa
diikuti kesiapan
dan
pembenahan justru
akan
"memangsa"
kita
sendiri. *
gregorius