Hadapi ''Booming'' Pariwisata
2008,
Bagaimana Kesiapan Kita?
TAHUN
2007, boleh jadi merupakan tonggak kebangkitan
pariwisata Bali setelah sejak bom Bali I terus terpuruk.
Angka kunjungan wisman ke Bali tahun 2007 mengalami
kenaikan sekitar 32,32 persen dibandingkan tahun
sebelumnya. Banyak kalangan optimis, tahun 2008
pariwisata Bali akan mengalami lonjakan fantastis
(booming). Bagaimana kesiapan kita?
--------------------
Data yang dihimpun Bali Post dari Disparda Bali
menyebutkan, total kunjungan wisman ke Bali tahun 2007
mencapai 1.667.655 orang. Jumlah ini naik sekitar 32,32
persen dari tahun sebelumnya, di mana tahun 2006
tercatat 1.260.317 orang. Sementara tingkat hunian hotel
rata-rata tahun 2007 sekitar 54,58 persen, sedangkan
tahun 2006 hanya 40,35 persen.
Tak aneh kalau kedatangan tahun 2008 ini disambut dengan
penuh harapan dan optimisme. Kadisparda Bali Gde Nurjaya
memasang target kunjungan wisman ke Bali tahun 2008
sekitar 1.664.000 orang (pesimis) dan 1.744.000 orang
(optimis). Target Dinas Pariwisata Bali ini cukup
realistis kalau melihat trend yang ada. Sepanjang tahun
2007 Bali dikunjungi wisman antara 3.500 - 5.375 orang
per hari.
Optimisme ini juga terkait mulai tumbuhnya pasar baru
pariwisata Bali. Nurjaya mengambil contoh wisatawan
Cina. Untuk pertama kalinya tahun 2007, wisatawan dari
negeri tirai bambu itu masuk dalam 10 besar (top ten)
pasar utama pariwisata Bali. Cina menduduki urutan
keenam, menggeser Inggris, Jerman, Prancis, Amerika
Serikat dan Belanda. "Ini suatu perkembangan yang
positif," ujar Nurjaya.
Sebagai gambaran pasar utama pariwisata Bali tahun 2007
berturut-turut: Jepang, Australia, Taiwan, Korea Selatan
Malaysia, Cina (RRC), Inggris, Jerman, Prancis dan AS.
Sementara Belanda yang tahun 2006 menduduki posisi
kesepuluh terpental dari top ten. Australia yang tahun
2006 menduduki posisi ketiga, naik ke posisi kedua
menggeser Taiwan yang turun ke posisi ketiga.
Di sisi lain, Ketua INCCA Bali Ida Bagus Lolec menilai
Bali makin diandalkan untuk menjadi destinasi MICE. Hal
ini dibuktikan dengan berbagai event berskala
internasional yang digelar di Pulau Dawata. Yang paling
akbar Konferensi Perubahan Iklim oleh PBB atau United
Nations Climate Change Conference (UNFCC) di Nusa Dua, 3
- 15 Desember 2007.
Bagi Lolec, yang banyak beroperasi di segmen MICE, fakta
di atas bisa dilihat sebagai berkah sekaligus tantangan.
Berkah, karena akan mendatangkan keuntungan yang luar
biasa. Sebagai catatan, spending power wistawan MICE
sekitar 12 kali wisatawan leasure. Tantangan, karena
dengan lonjakan itu, tuntutan kualitas layanan harus
selalu menjadi prioritas.
Dalam konteks ini Lolec berharap langkah antisipasi
harus terus dilakukan dengan melibatkan seluruh komponen
yang ada. Misalnya, soal fasilitas dan infrastruktur
pendukung MICE yang perlu ditingkatkan lagi. Demikian
pula kesiapan SDM pariwisata, khususnya MICE. Dia
mengungkapkan, sampai 2010 nanti, Depbudpar menyiapkan
sekitar 3.000 tenaga MICE di seluruh Tanah Air.
Sementara itu, Kepala Puslitbudpar Unud Dr. Anak Agung
Suryawan Wiranata berharap booming pariwisata harus
dihadapi dengan positif. Antara lain kesiapan fasilitas
dan kebersihan di objek-objek wisata serta layanan di
Bandara Ngurah Rai. Hal-hal kecil seperti kebersihan
toilet jangan sampai diabaikan.
Aspek Keamanan
Yang tak kalah penting, lanjutnya, bagaimana agar
keamanan Bali tetap kondusif. Agung Suryawan sangat
apresiatif terhadap kesiapan TNI/Polri dalam menjaga
Bali sepanjang tahun 2007. Hal ini tentu saja berkat
dukungan yang luas dari masyarakat Bali. Selain dari
ancaman bom, Bali juga sedang menghadapi sejumlah
pilkada yang berpotensi mengganggu keamanan.
Dia mengajak semua pihak, khususnya para elite politik
agar bisa mengendalikan massanya. Para kandidat juga
diimbau agar siap menang dan juga siap kalah. Sebab,
kalau sampai terjadi seuatu insiden, sekecil apa pun itu
akan menjadi santapan media internasional. Kalau hal itu
sampai terjadi, pariwisata Bali akan terpuruk kembali
karena turis enggan untuk datang.
Kesiapan lainnya ditunjuk oleh DPD Himpunan Pramuwisata
Indonesia (HPI) Bali yang bekerja sama dengan Unhi dan
Disparda Bali. Ketiga lembaga ini tengah mempersiapkan
kursus dan ujian sertifikasi pramuwisata (guide),
khususnya bahasa langka seperti Rusia, Mandarin, Arab,
Prancis dan Italia. Kegiatan ini terkait upaya
penyediaan pramuwisata baru yang lebih profesional.
Namun, seorang pengusaha pariwisata yang bergerak di
segmen Mandarin agak keberatan dengan pemilihan waktu
pelaksanaan kursus pramuwisata tersebut. Pasalnya,
kegiatan itu nyaris bersamaan dengan penyelenggaraan
Tahun Baru Cina, Februari 2008. "Ini bisa mengganggu
aktivitas pariwisata khususnya dalam meng-handle wisatan
dari Cina dan Taiwan," ujar pengusaha yang tak mau
disebutkan namanya itu.
Dia khawatir, kalau kegiatan itu dipaksakan, akan
mengurangi jumlah guide berbahasa Mandarin yang tak
sebanding dengan lonjakan kunjungan dari Cina. Maklum,
saat itu akan banyak sekali charter flight dari Cina dan
Taiwan. Kalau terpaksa, justru travel agent di Bali akan
mendatangkan guide berbahasa Mandarin dari daerah lain.
"Pengetahuan mereka tentang budaya Bali kan tidak ada.
Nah, dampaknya bisa gawat," ujarnya.
Promosi Jalan Terus
Meski trend kunjungan turis internasional ke Bali terus
meningkat, Nurjaya menegaskan, kegiatan promosi ke luar
negeri tetap dilakukan. Pada konteks ini, tanpa
mengurangi peran pemerintah pusat, industri pariwisata
di Bali harus berani melakukan pameran sendiri. Beberapa
kali mengikuti event internasional di bawah payung
Depbudpar, Bali merasa dirugikan.
Selain itu, kegiatan sosialisasi branding Bali akan
makin gencar dilakukan kendati dananya sangat terbatas.
Branding ini menjadi penting karena merupakan jati diri
Bali, bukan hanya aspek pariwisatanya tetapi seluruh
aspek kehidupan masyarakat Bali. "Makanya kami harapkan
industri pariwisata juga ikut aktif memperkenalkan
branding Bali ini kepada koleganya di luar negeri,"
imbau Nurjaya.
Secara terpisah, Pimpinan Bali Expo Yunasril Anga
mengaku setuju kalau Bali membuat sendiri pameran di
luar negeri. Bali memiliki cukup sumber daya finansial
untuk melakukannya sendiri, apalagi nama Bali sudah
terkenal di luar negeri. Namun, dia mengaku kecewa
karena pemerintah Bali justru tak mau ketika ada
inisiatif dari swasta untuk menggelar pameran sekaligus
promosi di luar negeri.
"Terus-terang saja, Bapak-Bapak itu hanya bicara.
Implementasinya nyaris tak kelihatan," ujar Yunasril.
Dia lantas menuturkan pengalamannya menggelar sejumlah
pameran bertajuk "Bali" di Singapura, Malaysia, Jepang
dan Australia. Animo pemda dan industri pariwisata di
Bali sangat minim. "Yang antusias justru dari daerah
lain yang ingin menjadikan Bali sebagai etalase," ujar
Anga. (gre)
Kunjungan Wisman
ke Bali Tahun 2007
Bulan
Jumlah Kunjungan
----------------------------------------------------
Januari
109.504
Pebruari
118.275
Maret
119.163
April
125.140
Mei
128.693
Juni
145.174
Juli
164.618
Agustus
166.633
September
152.532
Oktober
146.150
November
141.176
Desember
150.005
----------------------------------------------------
Total
1.667.655
-------------------------------
Sumber : Disparda Bali