kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 3 Januari 2008

 Pariwisata


Hadapi ''Booming'' Pariwisata 2008,
Bagaimana Kesiapan Kita?

TAHUN 2007, boleh jadi merupakan tonggak kebangkitan pariwisata Bali setelah sejak bom Bali I terus terpuruk. Angka kunjungan wisman ke Bali tahun 2007 mengalami kenaikan sekitar 32,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Banyak kalangan optimis, tahun 2008 pariwisata Bali akan mengalami lonjakan fantastis (booming). Bagaimana kesiapan kita?

--------------------

 

Data yang dihimpun Bali Post dari Disparda Bali menyebutkan, total kunjungan wisman ke Bali tahun 2007  mencapai 1.667.655 orang. Jumlah ini naik sekitar 32,32 persen dari tahun sebelumnya, di mana tahun 2006 tercatat 1.260.317 orang. Sementara tingkat hunian hotel rata-rata tahun 2007 sekitar 54,58 persen, sedangkan tahun 2006 hanya 40,35 persen.

Tak aneh kalau kedatangan tahun 2008 ini disambut dengan penuh harapan dan optimisme. Kadisparda Bali Gde Nurjaya memasang target kunjungan wisman ke Bali tahun 2008 sekitar 1.664.000 orang (pesimis) dan 1.744.000 orang (optimis). Target Dinas Pariwisata Bali ini cukup realistis kalau melihat trend yang ada. Sepanjang tahun 2007 Bali dikunjungi wisman antara 3.500 - 5.375 orang per hari.

Optimisme ini juga terkait mulai tumbuhnya pasar baru pariwisata Bali. Nurjaya mengambil contoh wisatawan Cina. Untuk pertama kalinya tahun 2007, wisatawan dari negeri tirai bambu itu masuk dalam 10 besar (top ten) pasar utama pariwisata Bali. Cina menduduki urutan keenam, menggeser Inggris, Jerman, Prancis, Amerika Serikat dan Belanda. "Ini suatu perkembangan yang positif," ujar Nurjaya.

Sebagai gambaran pasar utama pariwisata Bali tahun 2007 berturut-turut: Jepang, Australia, Taiwan, Korea Selatan Malaysia, Cina (RRC), Inggris, Jerman, Prancis dan AS. Sementara Belanda yang tahun 2006 menduduki posisi kesepuluh terpental dari top ten. Australia yang tahun 2006 menduduki posisi ketiga, naik ke posisi kedua menggeser Taiwan yang turun ke posisi ketiga.

Di sisi lain, Ketua INCCA Bali Ida Bagus Lolec menilai Bali makin diandalkan untuk menjadi destinasi MICE. Hal ini dibuktikan dengan berbagai event berskala internasional yang digelar di Pulau Dawata. Yang paling akbar Konferensi Perubahan Iklim oleh PBB atau United Nations Climate Change Conference (UNFCC) di Nusa Dua, 3 - 15 Desember 2007.

Bagi Lolec, yang banyak beroperasi di segmen MICE, fakta di atas bisa dilihat sebagai berkah sekaligus tantangan. Berkah, karena akan mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Sebagai catatan, spending power wistawan MICE sekitar 12 kali wisatawan leasure. Tantangan, karena dengan lonjakan itu, tuntutan kualitas layanan harus selalu menjadi prioritas.

Dalam konteks ini Lolec berharap langkah antisipasi harus terus dilakukan dengan melibatkan seluruh komponen yang ada. Misalnya, soal fasilitas dan infrastruktur pendukung MICE yang perlu ditingkatkan lagi. Demikian pula kesiapan SDM pariwisata, khususnya MICE. Dia mengungkapkan, sampai 2010 nanti, Depbudpar menyiapkan sekitar 3.000 tenaga MICE di seluruh Tanah Air.

Sementara itu, Kepala Puslitbudpar Unud Dr. Anak Agung Suryawan Wiranata berharap booming pariwisata harus dihadapi dengan positif. Antara lain kesiapan fasilitas dan kebersihan di objek-objek wisata serta layanan di Bandara Ngurah Rai. Hal-hal kecil seperti kebersihan toilet jangan sampai diabaikan.

 

Aspek Keamanan

Yang tak kalah penting, lanjutnya, bagaimana agar keamanan Bali tetap kondusif. Agung Suryawan sangat apresiatif terhadap kesiapan TNI/Polri dalam menjaga Bali sepanjang tahun 2007. Hal ini tentu saja berkat dukungan yang luas dari masyarakat Bali. Selain dari ancaman bom, Bali juga sedang menghadapi sejumlah pilkada yang berpotensi mengganggu keamanan.

Dia mengajak semua pihak, khususnya para elite politik agar bisa mengendalikan massanya. Para kandidat juga diimbau agar siap menang dan juga siap kalah. Sebab, kalau sampai terjadi seuatu insiden, sekecil apa pun itu akan menjadi santapan media internasional. Kalau hal itu sampai terjadi, pariwisata Bali akan terpuruk kembali karena turis enggan untuk datang.

Kesiapan lainnya ditunjuk oleh DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali yang bekerja sama dengan Unhi dan Disparda Bali. Ketiga lembaga ini tengah mempersiapkan kursus dan ujian sertifikasi pramuwisata (guide), khususnya bahasa langka seperti Rusia, Mandarin, Arab, Prancis dan Italia. Kegiatan ini terkait upaya penyediaan pramuwisata baru yang lebih profesional.

Namun, seorang pengusaha pariwisata yang bergerak di segmen Mandarin agak keberatan dengan pemilihan waktu pelaksanaan kursus pramuwisata tersebut. Pasalnya, kegiatan itu nyaris bersamaan dengan penyelenggaraan Tahun Baru Cina, Februari 2008. "Ini bisa mengganggu aktivitas pariwisata khususnya dalam meng-handle wisatan dari Cina dan Taiwan," ujar pengusaha yang tak mau disebutkan namanya itu.

Dia khawatir, kalau kegiatan itu dipaksakan, akan mengurangi jumlah guide berbahasa Mandarin yang tak sebanding dengan lonjakan kunjungan dari Cina. Maklum, saat itu akan banyak sekali charter flight dari Cina dan Taiwan. Kalau terpaksa, justru travel agent di Bali akan mendatangkan guide berbahasa Mandarin dari daerah lain. "Pengetahuan mereka tentang budaya Bali kan tidak ada. Nah, dampaknya bisa gawat," ujarnya.

 

Promosi Jalan Terus 

Meski trend kunjungan turis internasional ke Bali terus meningkat, Nurjaya menegaskan, kegiatan promosi ke luar negeri tetap dilakukan. Pada konteks ini, tanpa mengurangi peran pemerintah pusat, industri pariwisata di Bali harus berani melakukan pameran sendiri. Beberapa kali mengikuti event internasional di bawah payung Depbudpar, Bali merasa dirugikan.

Selain itu, kegiatan sosialisasi branding Bali akan makin gencar dilakukan kendati dananya sangat terbatas. Branding ini menjadi penting karena merupakan jati diri Bali, bukan hanya aspek pariwisatanya tetapi seluruh aspek kehidupan masyarakat Bali. "Makanya kami harapkan industri pariwisata juga ikut aktif memperkenalkan branding Bali ini kepada koleganya di luar negeri," imbau Nurjaya.

Secara terpisah, Pimpinan Bali Expo Yunasril Anga mengaku setuju kalau Bali membuat sendiri pameran di luar negeri. Bali memiliki cukup sumber daya finansial untuk melakukannya sendiri, apalagi nama Bali sudah terkenal di luar negeri. Namun, dia mengaku kecewa karena pemerintah Bali justru tak mau ketika ada inisiatif dari swasta untuk menggelar pameran sekaligus promosi di luar negeri.

"Terus-terang saja, Bapak-Bapak itu hanya bicara. Implementasinya nyaris tak kelihatan," ujar Yunasril. Dia lantas menuturkan pengalamannya menggelar sejumlah pameran bertajuk "Bali" di Singapura, Malaysia, Jepang dan Australia. Animo pemda dan industri pariwisata di Bali sangat minim. "Yang antusias justru dari daerah lain yang ingin menjadikan Bali sebagai etalase," ujar Anga. (gre)

 

Kunjungan Wisman ke Bali Tahun 2007

Bulan                     Jumlah Kunjungan

----------------------------------------------------

Januari                         109.504

Pebruari                       118.275

Maret                            119.163

April                             125.140

Mei                               128.693

Juni                              145.174

Juli                               164.618

Agustus                         166.633

September                     152.532

Oktober                         146.150

November                      141.176

Desember                       150.005

----------------------------------------------------

Total                           1.667.655

-------------------------------

Sumber : Disparda Bali

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)