Meng-Hongkong-kan
Bali
KETIKA
banjir
meluber di
Kuta
beberapa hari
lalu,
Ketua Kadin Bali
Gde
Wirata sempat
mencak-mencak.
Dia
menuding
pemerintah
pusat "tidak
tahu
diuntung". Di
mana,
pemerintah pusat
terkesan
hanya
memeras Bali, tanpa
mau
bertanggung jawab
ketika
daerah ini
dilanda
bencana, termasuk
ketika "kampus
wisata"
Kuta dilanda
banjir yang
terjadi
setiap tahun.
Keluhan
Wirata
ini mengingatkan
kita
saat terjadinya
bom Bali II.
Sehari
setelah bom
meledak
di Kuta
dan
Jimbaran 1 Oktober
2005, sejumlah
pejabat
negara, termasuk
Presiden
Yudhoyono
mengunjungi
lokasi
kejadian, baik
di
Jimbaran maupun
di Kuta.
Seperti
biasa,
mereka lantas
menyampaikan
rasa
prihatin, menekankan
kembali
pentingnya keamanan,
mengimbau
masyarakat
meningkatkan
kewaspadaan
dan
ucapan normatif
lainnya.
Masyarakat
lantas
menonton tayangannya
di TV
atau membaca
berita
di koran.
Image yang tercipta
tentu
saja: petinggi
negeri
ini begitu
peduli
pada Bali! Namun,
setelah
sekian bulan
lewat,
coba
amati, apa
follow-up dari
cuap-cuap
para
pejabat itu?
Apa
langkah
kongkret untuk
meredam
dampak bom,
selain
bercuap-cuap "kunjungi
Bali, di Bali
masih
ada Nusa
Dua,
Ubud, Lovina,
bla-bla-bla"?
Jaminannya
apa?
Begitu
pula dengan
penanganan
pascabom
Legian, 12
Oktober 2002.
Saat
itu
diadakan rapat
khusus
di salah
satu hotel
berbintang
di Nusa
Dua.
Tak
tanggung-tanggung,
rapat
koordinasi dipimpin
Menko
Ekuin saat
itu.
Dijabar
program pemulihan
pariwisata
Bali
dan
nasional, lengkap
dengan schedule.
Lantas
apa yang
terjadi
kemudian?
Ketika
kasus program Bali Recovery
tahun 2006
mencuat,
harian
ini pernah
memberitakan
seorang
praktisi pariwisata
Bali dengan
ketus
mengeluh, Tragedi
Bali justru
dijadikan
proyek
oleh "orang Jakarta".
Semua
kegiatan di-handle
oleh
orang-orang pusat,
apalagi
kalau sudah
menyangkut
dana.
Kalaupun
ada
pengusaha dan
pejabat
dari
Bali yang terlibat,
posisinya
sekadar
simbol untuk
mengesankan
bahwa "proyek"
itu
juga menyertakan
unsur Bali.
Mendengar
cerita
ini, Gde
Wirata
hanya tertawa
kecil.
Namun,
dia
sepakat sudah
saatnya
Bali
tidak
bergantung pada
pusat.
Tetapi,
pusat
juga mesti fair
terhadap
Bali.
Mantan
Ketua PHRI Bali
ini
lantas kembali
melontarkan "ide
gila" yang
pernah
dia sampaikan
pada
sebuah media terkemuka
yang terbit
di Jakarta.
Apa
ide
gila Wirata?
Dia
berharap
pengelolaan
Bali
dijadikan
seperti
pemerintah Cina
memperlakukan
Hongkong.
"Jadikan
Bali seperti
Hongkong.
Urusan
selesai,"
ujarnya
dengan nada agak
propokatif.
Dia
menyadari
ide itu
tak
bakal terwujud
kalau
menanggapinya melalui
pendekatan
normatif,
bukan
substantif.
Pria
yang memulai
kariernya
sebagai
pedagang kotoran
sapi
ini lantas
berargumentasi.
"Artinya,
pemerintah
pusat
memberikan kewenangan
penuh,
otonomi atau
apalah
namanya, untuk
mengatur
seluruh yang
ada di
Bali.
Kita sendiri
di sini
yang menentukan
besarnya
pajak
ini itu
dan
masuk ke
kas
Pemda Bali. Sementara
pemerintah
pusat
duduk
manis, tinggal
minta
Bali
sumbangkan
sekian
persen pendapatannya
ke
pusat," ujar
Wirata.
Namun,
dia
mewanti-wanti, jangan
sampai
pendapatnya ini
dilihat
sebagai kegiatan
subversif,
apalagi
separatis.
Dia
berharap,
semua
pihak bisa
menangkap
substansi
dari
gagasannya agar
Bali
tidak
terus-menerus jadi "tunggangan"
pusat.
Sebagai
daerah yang nyaris
tak
memiliki sumber
daya
alam, Bali layak
diperlukan lain.
Wirata
yakin,
dengan kewenangan
penuh,
Bali
pasti
mampu memberdayakan
dirinya
sendiri.
Dengan
catatan, kita
di sini
harus
kompak! (gre)