HIV/AIDS, Diketahui untuk
Dihindari
Oleh Drs. I Made Yudha, M.Si.
SEBAGAI
penyakit dengan tingkat penyebaran yang relatif sangat
cepat serta memiliki kekhususan tersendiri, dalam
pencegahan dan penanganan HIV/AIDS diperlukan
kewaspadaan semua pihak. Mengingat, HIV/AIDS sudah
berkembang dan merupakan kompleksitas masalah karena
dampak yang ditimbulkannya sangat luas terhadap aspek
sumber daya manusia, ekonomi, sosial, politik dan
budaya.
Di samping itu penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit
infeksi virus yang akan diderita seumur hidup dan
berakibat fatal, mengingat belum ada obat penyembuhnya
dan vaksin pencegahnya, dan selalu berakhir dengan
kematian si penderita dalam jangka waktu tertentu.
Di Bali, data yang tercatat pada Dinas Kesejahteraan
Sosial Propinsi Bali merupakan data resmi yang
dilaporkan namun belum menunjukkan keadaan sebenarnya
mengingat banyak kasus yang tidak dilaporkan, khususnya
yang dalam tahap infeksi HIV disebabkan si penderita
merasa malu, takut, ketidaktahuan dan lain sebagainya.
Kelompok-kelompok masyarakat khususnya penyandang
masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang rentan dan
berisiko tinggi terhadap penyakit HIV/AIDS, antara lain:
bekas narapidana, korban penyalahgunaan narkotika, anak
nakal, gelandangan, pengemis, anak jalanan, tuna susila
(wanita/pria/waria). Oleh karena itu, pembinaan dan
rehabilitasi sosial yang dilakukan tidak hanya terbatas
pada aspek-aspek sosial dan peningkatan kemampuan
motorik atau keterampilan semata. Tetapi, perlu juga
dititikberatkan pada aspek spiritual keagamaan serta
pemahamannya terhadap penyakit HIV/AIDS sehingga upaya
pencegahan dan identifikasi dini penyakit HIV/AIDS dapat
dilakukan bekerja sama dengan instansi terkait.
Penyebaran informasi tentang HIV/AIDS secara benar dan
tepat perlu dilakukan dengan harapan akan menambah
wawasan dan pemahaman masyarakat khususnya
kelompok-kelompok potensial dan berisiko tinggi.
Sehingga pada gilirannya nanti muncul partisipasi sosial
secara aktif seluruh lapisan masyarakat dalam
upaya-upaya pencegahan dan penanganan penyakit HIV/AIDS.
Untuk menghindari penularan AIDS, perlu diketahui
gejala-gejala yang sering timbul sebagai tindakan diri
yang bersifat prefentif. Beberapa alasan mengapa AIDS
perlu dicermati antara lain: AIDS belum ada obatnya dan
belum ada vaksin untuk pencegahannya. Orang yang
terinfeksi HIV akan menjadi pembawa dan penular HIV
selama hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak
sehat. AIDS merupakan fenomena gunung es di mana kasus
yang diketahui saat ini kelihatan kecil padahal kasus
yang sebenarnya lebih besar.
Secara umum dapat dijelaskan bahwa kelompok-kelompok
masyarakat yang berpotensi dan berisiko tinggi terkena
AIDS adalah mereka yang mempunyai banyak pasangan
seksual, penerima transplantasi darah, bayi yang
dilahirkan dari ibu pengidap HIV, pecandu narkotika
suntikan, pasangan dari pengidap HIV.
Sebagaimana layaknya warga masyarakat yang memiliki hak
dan martabat, penderita HIV/AIDS pun seyogianya
diperlakukan sama untuk mencegah penularan serta
menumbuhkan rasa percaya diri yang berdampak terhadap
proses penyembuhannya. Beberapa hal perlu diperhatikan
dalam memperlakukan penderita HIV/AIDS. Perlakuan mereka
secara manusiawi, jangan dikucilkan dari pergaulan
biasa, bantu menghilangkan beban penderitanya, tuntutlah
ke jalan yang benar sesuai ajaran agamanya masing-masing
agar hidupnya tenang.
Seperti uraian awal di atas, pencegahan terhadap
penularan HIV/AIDS relatif sulit mengingat data yang ada
belum menunjukkan keadaan sebenarnya sehingga
perkembangan hak secara kuantitatif maupun kualitas
belum dapat terdeteksi dan dicarikan alternatifnya.
Namun, sebagai tahap awal pencegahan dini dapat
dilahirkan dengan memberikan informasi yang benar
tentang permasalahan virus HIV/AIDS, baik kepada
khalayak umum maupun orang yang mengidap AIDS.
Sementara yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam
upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS di lingkungan
masyarakat adalah meningkatkan iman dan takwa, ikut
menyebarluaskan informasi yang benar dan tepat, memberi
dukungan kepada penanggulangan HIV/AIDS, berperilaku
yang bertanggung jawab.
Penulis, PNS di Dinas Kesejahteraan Sosial Prop. Bali