Melambat,
Peningkatan PAD Bali 2008
Denpasar
(Bali Post) -
Komisi
II DPRD Bali merasa
heran
terhadap proyeksi
peningkatan
pendapatan
asli
daerah (PAD) pada
APBD Bali 2008 lebih
rendah
dibandingkan pascabom
Bali 2005.
Hal ini
mencerminkan
terjadinya
pelambatan
peningkatan PAD yang
bisa
berimbas pada
pertumbuhan
ekonomi
daerah Bali 2008.
Demikian disampaikan
Sekretaris
Komisi II DPRD Bali Ir.
Wayan
Wardita dan
anggotanya Ida
Bagus
Indra Prasta
Manuaba, S.E.,
M.Si.,
Rabu (2/1)
kemarin
di Renon.
Dikatakannya,
tahun 2008 PAD
dipatok
Rp 730,50
milyar,
hanya meningkat 2,47
persen
dari PAD tahun 2007.
Jika
dibandingkan PAD 2006 Rp
652,638 milyar
dengan
tahun 2007 Rp 712,916
milyar,
terjadi peningkatan 9,23
persen.
Peningkatan 2,47
persen
itu dinilai
sangat
kecil kalau
dilihat
proyeksi pertumbuhan
ekonomi
tahun 2008 yang diperkirakan
tumbuh
lebih baik
dibanding
tahun 2007.
''Harapan
kita agar
persentase
peningkatan PAD
tahun 2008
tak
jauh berbeda
dengan
tahun sebelumnya,''
ujarnya.
Wardita
mencurigai
pelambatan PAD
itu
disebabkan adanya
penghapusan
retribusi
ternak
oleh Mendagri
karena
biaya ekonomi
tinggi.
Namun
pengurangan
Rp 3-5
milyar retribusi
ternak
diyakini tak
berpengaruh
besar
terhadap PAD 2008.
Selain
itu,
terjadi penurunan
standar
nilai jual
objek
pajak kendaraan
mewah
karena penjualannya
menurun.
Konsumen
cenderung
memilih
kendaraan niaga
pada
tahun 2008. Kedua
faktor
ini, katanya,
tak
akan
berpengaruh
besar
pada pelambatan
penerimaan PAD Bali.
''Pasti
ada
potensi yang disembunyikan
yang belum
tampak
saat ini.
Kemungkinan
itu
baru bisa
diketahui
setelah APBD Bali 2008
berjalan
enam
bulan ke
depan,''
tambahnya.
Stagnan
Dengan
adanya
pelambatan tersebut,
Wardita
menyatakan prediksi
yang disampaikan
Pimpinan BI
Cabang
Denpasar Viraguna
Bagoes
Oka beberapa
waktu
lalu bahwa
ekonomi Bali
tahun 2008
akan
tumbuh rata-rata 7 persen
akan
meleset. Dewan
menilai
pertumbuhan ekonomi
Bali tahun
2008 akan
stagnan
pada angka 6,2
persen
sebagaimana tahun
2007.
Pertumbuhan
ekonomi
tersebut diakui
belum
berkualitas, sebab
belum
mampu menggerakkan
sektor
riil seperti UKM,
koperasi
dan
pertanian.
Sementara
investasi
masih
didominasi oleh
sektor
jasa dan
perdagangan,
termasuk
di
dalamnya pariwisata
yang tumbuh 30
persen.
Pihaknya
berharap
Pemprop Bali
mampu
menggenjot sektor
pertanian
dan UKM agar
tidak
jauh timpang
dengan
pariwisata.
Selain
itu,
Indra Prasta
berharap
pemerintah
mengkaji
sumber-sumber
pendapatan
daerah lain
di luar
pajak
kendaraan bermotor
(PKB), bea
balik
nama kendaraan
bermotor (BBNKB)
dan
pajak bahan
bakar
kendaraan bermotor
(PBBKB) yang kontribusinya
hampir 85
persen
terhadap pajak
daerah.
Kajian
sumber
pendapatan baru
diharapkan
dari
pariwisata yang menjadi
tulang
punggung pertumbuhan
ekonomi Bali.
Alasannya
sektor
ini masih
kurang
dirasakan oleh
masyarakat
khususnya
pada
sektor ekonomi
kerakyatan.
Untuk
itu,
perlu dikaji
pungutan
atau
retribusi terhadap
pemanfaatan
objek
pariwisata di
seluruh
Bali agar
ada
pemerataan sumber
ekonomi
masyarakat.
(029)