kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 3 Januari 2008

 Bali


DAS Menyempit----
Perlu
Pendekatan Teknik dan Spiritual Cegah Banjir

Denpasar (Bali Post)-
Pemprop
Bali bersama kabupaten/kota diminta segera membuat desain penataan wilayah yang bisa menjadi benteng penangkal banjir perkotaan akibat meningkatnya volume air permukaan. Untuk itu, drainase perkotaan harus dirancang berjaringan dan perlu dilakukan tindakan hukum yang lebih tegas dalam menjaga daerah aliran sungai (DAS). Alternatif lainnya adalah pendekatan teknik dan spiritual untuk mencegah banjir yang rutin terjadi tiap musim hujan.

Demikian disampaikan Dekan FMIPA Unud Ir. A.A. Raka Dalem, M.Sc. dan Kepala Balai Wilayah Sungai Bali-Penida Ir. I Nyoman Ray Yusha, M.M., Rabu (2/1) kemarin. Menurut Raka Dalem, Bali mendesak perlu mendesain strategi menekan rutinitas banjir. Setidaknya, Raka Dalem memprediksi volume air permukaan yang menuju Denpasar akan terus meningkat pada masa-masa mendatang. Ada kecenderungan akan terjadi rutinitas banjir di Denpasar sebagai akibat makin terbatasnya ruang terbuka hijau. ''Salah satu strategi yang bisa ditempuh untuk mengatasi rutinitas banjir adalah membangun drainase secara berjaringan. Selama ini hubungan antara drainase yang ada sering macet sehingga air meluap ke jalan-jalan,'' ujar Ketua Kelompok studi Ekowisata Bali ini.

Raka Dalem mengatakan pemerintah harus lebih intensif melakukan sosialisasi untuk mengingatkan masyarakat menjaga alamnya. Bahkan, dalam kepentingan penjagaan alur sungai, pemerintah perlu membangun sinergi yang efektif dengan warga sekitar daerah resapan air. ''Strategi proteksi melibatkan krama adat mendesak dibuatkan format yang lebih jelas. Alam dan manusia saling ketergantungan,'' ujarnya.

 

Drainase Perkotaan

Ray Yusha mengatakan tingginya volume air permukaan menuju perkotaan belakangan ini akibat banyak hilir sungai mengalami penyempitan. Ia mengatakan kini banyak wilayah hilir sungai dijadikan sasaran pembangunan fisik, sehingga laju air menuju laut terhambat. ''Saat KTT Perubahan Iklim, sejumlah wali kota sempat mengusulkan agar alur sungai yang melewati perkotaan bisa dijadikan drainase perkotaan. Dengan pendekatan ini diharapkan fungsi sungai benar-benar efektif,'' ujarnya.

Ia mengatakan konsep ini sedang dirancang di Surabaya. ''Wali Kota Surabaya bahkan secara langsung telah meminta pada kementerian PU agar kewenangan mengelola sungai diberikan kepada daerah,'' ujarnya. Ray Yusha mengatakan langkah-langkah strategis untuk mencegah banjir perkotaan sebenarnya bisa ditempuh dengan banyak cara. Alternatif sederhana adalah menjaga DAS dan menjaga alur sungai agar tidak mengalami pendangkalan dan penyempitan.

Sedangkan secara pendekatan teknis yang bisa ditempuh adalah membuat banyak bendungan, sehingga volume air permukaan bisa ditampung tidak langsung menuju laut. Cara ini juga akan mendukung Bali dalam menyediakan sumber air minum dari air permukaan, bukan dengan menyedot air bawah tanah (ABT). '' Banjir perkotaan akan menjadi masalah rutin, jika pendekatan teknik dan spiritual tidak menjadi komitmen bersama,'' ujarnya. (044)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)