Promosikan
Pariwisata Bali
Berbekal ''Bali Brochure''
Oleh
Drs. I Gede
Kasna
MENJADI
harapan
kita bersama
setelah
beberapa kejadian
menimpa
Pulau Bali agar segera
pulih
dari cedera
dan
bangkit kembali
di
kancah pariwisata
dunia.
Masyarakat pun
ingin
kembali menikmati
manisnya
pariwisata Bali
seperti yang
pernah
dirasakan dulu
karena
tidak bisa
dimungkiri
bahwa
roda
perekonomian
Bali
bergantung
dari
kelanjutan pariwisata
di
daerah ini.
Upaya
yang harus
lebih
banyak dilakukan
semestinya
tidak
saja terpaku
pada
promosi semata
melainkan
konsentrasi internal
guna
mempercantik diri
dengan
menata lingkungan
dan
menata objek
wisata yang
lebih
baik.
Dana promosi
selama
ini yang dianggarkan
melalui pos APBD
Pemda Bali
dan
Pemkab/Pemkot se-Bali
sebagian bisa
dialihkan
untuk
memperbaiki jalan
menuju
objek wisata,
pembuatan toilet yang
berstandar
internasional
di
masing-masing objek,
pencetakan
brosur
objek wisata,
petunjuk
jalan
menuju objek
dan yang
terpenting
pengamanan
di
objek wisata.
Sedangkan
sebagian
dana
promosi yang
bersumber
dari APBD
itu
benar-benar dipakai
untuk
mempromosikan Bali secara
terpadu
pada pasar-pasar
wisata,
baik yang digelar
di
dalam maupun
di luar
negeri.
Cara
berpromosi
sendiri-sendiri
selama
ini ke
beberapa
negara
sudah tidak
efektif
lagi karena
sering
dikonotasikan ngelencer
dan
sulit dipertanggungjawabkan.
Untuk
itu
mekanisme sebuah
promosi
perlu digodok
sebelum
berangkat dan
dibentuk
tim
terpadu
untuk menyediakan
bahan-bahan yang
telah
diuji kelayakannya
baik
dari segi
bahasa
maupun gambar-gambar
yang akan
disajikan. Dari
sini
diharapkan
lahir
sebuah ''Brosur
Bali'' yang memiliki
daya
tarik dan
daya
jual tinggi.
Melalui
semangat
kebersamaan
satu
kata satu
tujuan
siapa pun dan
kemana pun
berpromosi
hendaknya
sudah
siap dengan Bali
Brochure 2008 dicetak
dalam
beberapa bahasa
sesuai
keperluan. Dengan
mengubah
cara
dan
mekanisme berpromosi
di
samping lebih
efisien
akan berdampak
positif
di mata
calon
wisatawan karena
mereka
benar-benar mendapatkan
informasi
tentang Bali
sebelum
mereka datang.
Brosur
Bali menampilkan
latar
belakang pulau
ini
kemudian di
dalamnya
dikemas
masing-masing objek
wisata, hotel,
restoran,
dan
fasilitas penunjang
pariwisata
lainnya yang
dimiliki
oleh
Kabupaten/Kota se-Bali.
Brosur Bali
harus
di-up date tiap
tahun
atas perubahan yang
terjadi
di masing-masing
kabupaten/kota se-Bali
sebelum
mengadakan promosi
berikutnya.
Meningkatnya
kunjungan
wisatawan
ke Bali
mesti diikuti
oleh
perangkat hukum yang
jelas
melalui peraturan
daerah.
Hal ini
penting
untuk dilakukan
karena
tidak mustahil
ada
oknum pribadi
maupun
kelompok yang hanya
mencari
keuntungan atas
pariwisata
Bali
tanpa
ikut menjaga
kelestariannya.
Di
bandara, misalnya,
makin
hari makin
banyak
turis dijemput
turis yang
tak
jelas keberadaannya
bahkan
beberapa dari
mereka
dengan pakaian
seadanya
sambil
menenggak sebotol
bir
dengan santainya
berada
di deretan
penjemputan
di
tengah-tengah pramuwisata
berpakaian
adat Bali,
ratusan
brosur berbagai
produk
wisata dengan
persaingan
harga yang
mencolok
bebas
dicetak
dan didistribusikan.
Apakah
ini the first impression
tentang
Bali yang
kita
harapkan?
Kalau
kesan
Bali
saat
pertama kali wisatawan
menginjakkan
kakinya
di bandara
sudah
seperti itu,
lantas
mereka berpikir
di Bali
ternyata urakan
dan
gampang (boleh
tidak
berpakaian di
mana
saja dan
boleh
minum-minum di
mana
saja).
Dari segi
armada pariwisata
sebagian
sudah
tidak laik
jalan
dan celakanya
sebagian armada
pengangkut
wisatawan
tidak
dilengkapi izin
angkutan
wisata.
Ratusan
vila
menghiasi
tebing
di Bali yang izinnya
perlu
dipertanyakan dan
masih
banyak lagi
pernik-pernik Bali
di sela
gencarnya
promosi Bali,
terlebih
saat
menyongsong
Tahun
Kunjungan Indonesia 2008.
Kalau
kita
mau jujur
dan
menginginkan kualitas
pariwisata
Bali betul-betul
terjaga
kelangsungannya, semua
komponen
terkait
harus introspeksi
diri
untuk menata
ulang
perangkat yang diperlukan
dan
tidak ada
istilah
terlambat untuk
sebuah
perbaikan karena
sesungguhnya
kita
tidak mengejar
kuantitas
kunjungan
wisatawan
semata.
Penulis,
praktisi
pariwisata