Renungan
Galungan----
Tingkatkan
Kepekaan
Sosial
dan Lingkungan
Umat
Hindu kembali
merayakan
rerahinan
Galungan,
Rabu (23/1)
besok.
Hari
raya yang
jatuh
tiap enam
bulan
tersebut sangat
baik
dijadikan ajang
untuk
mulat sarira --
apakah
selama ini
umat
sudah mampu
memenangkan (mengatasi)
segala
persoalan sosial
dan
lingkungan.
Semangat
berjaya
mesti dikedepankan
di
masa-masa mendatang,
dengan
melakukan hal-hal
yang terbaik
berdasarkan dharma.
Dalam
konteks
implementasi nilai-nilai
Tri Hita
Karana,
umat sebaiknya
melakukan
introspeksi
pada
hari raya
kemenangan dharma
atas
adharma ini.
Apakah
ada
peningkatan hubungan
harmonis
antara
umat dengan
sesama?
Termasuk
hubungannya
dengan
lingkungan alam?
Atau
sebaliknya
justru
mengalami kemunduran?
REKTOR
Institut Hindu Dharma
Negeri
Denpasar Gede
Rudia
Adiputra mengatakan,
hari
raya Galungan
sangat
baik dijadikan
ajang
untuk melakukan
introspeksi.
Dari situ umat
dapat ''melihat''
kelebihan
dan
kekurangan selama
ini.
Diharapkan
pada
masa mendatang
bisa
bangkit untuk
memperbaiki
kelemahan.
Dengan
demikian
umat
selalu jaya
dalam
segala hal.
Implementasi
nilai-nilai Tri
Hita
Karana hendaknya
dapat
dilakukan lebih
maksimal.
Dengan
demikian
hubungan
manusia
dengan sesama
menjadi
lebih harmonis.
Jika
suasana paras-paros
sarpanaya,
salulung
sebayantaka
di
kalangan umat
terjadi,
keharmonisan
dan
kedamaian
akan
lebih
tercipta. Rasa
solidaritas
sosial pun
muncul.
Keharmonisan
dengan
alam lingkungan
juga
terjadi, manakala
manusia
peduli terhadap
lingkungan.
Nah, dalam
momen
Galungan ini
umat
dapat menanyakan
kepada
diri
masing-masing
apakah
sudah mampu
menjadi
pemenang dalam
menghadapi
persoalan
lingkungan?
Atau
penyelamatan
lingkungan
masih
sebatas wacana.
Demikian
pula hubungan
dengan
sesama, sudahkah
umat Hindu
memperhatikan
saudara-saudara
kita yang
kurang
mampu?
Jangan
konsep
manyama braya
masih
dalam tataran
wacana
dan miskin
implementasi.
''Kita
mesti
mampu menjadi
pemenang
dalam
menghadapi persoalan
lingkungan
dan
persoalan sosial
seperti
kemiskinan dan
kebodohan,''
ujarnya.
Sekretaris
Sabha
Yowana Bali IB Jelantik
mengatakan
hal
senada.
Setiap
saat
umat diharapkan
mampu
mengendalikan diri --
mengalahkan
sifat-sifat
buruk.
Galungan
tepat
dijadikan momen
untuk
berkontemplasi, apakah
selama
ini sudah
mampu
mengendalikan diri.
Yang penting
lagi,
setelah umat
berjaya
memenangkan musuh
dalam
diri (sadripu),
kepekaan
atau
kepedulian sosial
mesti
lebih meningkat.
Perhatian
kepada
masyarakat yang marginal
seperti yang warga
yang bernasib
kurang
baik karena
kecacatan
fisik,
anak-anak yang hidup
menderita (fakir
miskin)
dan
sebagainya
mesti
lebih ditingkatkan.
Jelantik
pun menyinggung
kegiatan
bazar
saat Galungan.
Kegiatan
tersebut
hendaknya
menjadikan
ajang
komunikasi atau
madharma
suaka.
Dari kegiatan
itu
diharapkan muncul
pemikiran
bernas
dan cerdas
dalam
memecahkan
persoalan-persoalan yang
barangkali dihadapi
selama
ini.
''Jadi,
Galungan
baik
sekali dijadikan
momen
kontemplasi,'' ujar
dosen
Unud ini.
Hal yang sama
dikatakan
Kakanwil Agama
Propinsi Bali
Gusti Made
Ngurah.
Keseimbangan
diharapkan
tetap
terjadi, baik
dalam
kaitannya dengan
aspek
parahyangan, pawongan
dan
palemahan.
Kepekaan
sosial
sangatlah penting.
Demikian
pula kepekaan
terhadap
alam.
Melalui
momen
Galungan ini
diharapkan
kepedulian
umat
terhadap lingkungan
dan
sosial lebih
meningkat.
Semua
itu
mesti dilandasi
kesadaran
dan
tekad kuat
kalau
nantinya tak
mau
dicap Tri Hita
Karana
masih ada
dalam
tataran konsep.
(lun)