kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Wage, 22 Januari 2008

 Bali


Renungan
Galungan----
Tingkatkan
Kepekaan Sosial dan Lingkungan

Umat Hindu kembali merayakan rerahinan Galungan, Rabu (23/1) besok. Hari raya yang jatuh tiap enam bulan tersebut sangat baik dijadikan ajang untuk mulat sarira -- apakah selama ini umat sudah mampu memenangkan (mengatasi) segala persoalan sosial dan lingkungan. Semangat berjaya mesti dikedepankan di masa-masa mendatang, dengan melakukan hal-hal yang terbaik berdasarkan dharma.

 Dalam konteks implementasi nilai-nilai Tri Hita Karana, umat sebaiknya melakukan introspeksi pada hari raya kemenangan dharma atas adharma ini. Apakah ada peningkatan hubungan harmonis antara umat dengan sesama? Termasuk hubungannya dengan lingkungan alam? Atau sebaliknya justru mengalami kemunduran? 

REKTOR Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar Gede Rudia Adiputra mengatakan, hari raya Galungan sangat baik dijadikan ajang untuk melakukan introspeksi. Dari situ umat dapat ''melihat'' kelebihan dan kekurangan selama ini. Diharapkan pada masa mendatang bisa bangkit untuk memperbaiki kelemahan. Dengan demikian umat selalu jaya dalam segala hal.

Implementasi nilai-nilai Tri Hita Karana hendaknya dapat dilakukan lebih maksimal. Dengan demikian hubungan manusia dengan sesama menjadi lebih harmonis. Jika suasana paras-paros sarpanaya, salulung sebayantaka di kalangan umat terjadi, keharmonisan dan kedamaian akan lebih tercipta. Rasa solidaritas sosial pun muncul. Keharmonisan dengan alam lingkungan juga terjadi, manakala manusia peduli terhadap lingkungan.

Nah, dalam momen Galungan ini umat dapat menanyakan kepada diri  masing-masing apakah sudah mampu menjadi pemenang dalam menghadapi persoalan lingkungan? Atau penyelamatan lingkungan masih sebatas wacana. Demikian pula hubungan dengan sesama, sudahkah umat Hindu memperhatikan saudara-saudara kita yang kurang mampu? Jangan konsep manyama braya masih dalam tataran wacana dan miskin implementasi. ''Kita mesti mampu menjadi pemenang dalam menghadapi persoalan lingkungan dan persoalan sosial seperti kemiskinan dan kebodohan,'' ujarnya.

Sekretaris Sabha Yowana Bali IB Jelantik mengatakan hal senada. Setiap saat umat diharapkan mampu mengendalikan diri -- mengalahkan sifat-sifat buruk. Galungan tepat dijadikan momen untuk berkontemplasi, apakah selama ini sudah mampu mengendalikan diri. Yang penting lagi, setelah umat berjaya memenangkan musuh dalam diri (sadripu), kepekaan atau kepedulian sosial mesti lebih meningkat. Perhatian kepada masyarakat yang marginal seperti yang warga yang bernasib kurang baik karena kecacatan fisik, anak-anak yang hidup menderita (fakir miskin) dan  sebagainya mesti lebih ditingkatkan.

Jelantik pun menyinggung kegiatan bazar saat Galungan. Kegiatan tersebut hendaknya menjadikan ajang komunikasi atau madharma suaka. Dari kegiatan itu diharapkan muncul pemikiran bernas dan cerdas dalam memecahkan persoalan-persoalan yang barangkali dihadapi selama ini. ''Jadi, Galungan baik sekali dijadikan momen kontemplasi,'' ujar dosen Unud ini.

Hal yang sama dikatakan Kakanwil Agama Propinsi Bali Gusti Made Ngurah. Keseimbangan diharapkan tetap terjadi, baik dalam kaitannya dengan aspek parahyangan, pawongan dan palemahan. Kepekaan sosial sangatlah penting.

Demikian pula kepekaan terhadap alam. Melalui momen Galungan ini diharapkan kepedulian umat terhadap lingkungan dan sosial lebih meningkat. Semua itu mesti dilandasi kesadaran dan tekad kuat kalau nantinya tak mau dicap Tri Hita Karana masih ada dalam tataran konsep. (lun)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)