Masalah
Pemburuan
Paus----
Tokyo dan Canberra
Memanas
Sydney -
Sengketa
sengit
antara pemburu
ikan
paus Jepang
dengan
militan aktivis
antipemburuan
paus di
perairan
dingin
Antartika, kini
malah
merembet menuju
ketegangan
diplomatik.
Baik
pemerintah
Jepang
maupun
Australia
sama-sama
bersikukuh
dengan
pendapat masing-masing,
hingga
konflik paus
bisa
saja merenggangkan
hubungan
keduanya,
Rabu (16/1)
kemarin.
Puncak
memanasnya
perselisihan
ini
terjadi setelah
dua
aktivis Sea Shepherd Conservation Society
menjadi
tawanan kapal
Jepang.
Penahanan
ini
dilakukan menyusul
aksi
mereka yang nekat
Selasa
lalu menaiki
salah
satu kapal
untuk
menuntut diakhirinya
pembantaian
tahunan
mamalia raksasa
penghuni
lautan.
Presiden
Sea Sepherd Paul Watson
mengatakan
penguasa
di
Jepang menolak
untuk
membebaskan tahanan
hingga
ada persetujuan agar
aktivis
tidak lagi
mengganggu
proses
pemburuan. Watson juga
mengatakan
tidak
akan
tunduk
kepada taktik "teroris".
"Saat
anda
mulai melayangkan
tuntutan agar
sandera
bisa dibebaskan,
hal ini
terdengar
beraroma
laiknya
para teroris
bagi
saya," ujar Watson
dari
atas Steve Irwin, sebuah
kapal
milik Sea Sepherd
yang mengejar armada
kapal
Jepang.
Jepang
mengatakan
mereka
ingin membebaskan
dua
pria, Benjamin Potts (Australia)
dan Giles Lane (Inggris),
namun
menunggu respons Sea
Sheperd
atas tuntutan
mereka.
"Kami
sudah
mengirimkan pesan
untuk
memulangkan dua
aktivis
menuju Sea Sepherd.
Namun
hingga
kini (kemarin - red)
kelompok
tersebut
belum
juga memberikan
respons,"
tutur
juru bicara
pemerintah
Nobutaka
Machimura
di Tokyo.
Ia
menambahkan,
insiden
ini tidak
akan
mempengaruhi hubungan
dengan Australia.
"Saya
tidak
percaya hal
ini
bisa berdampak
terhadap
relasi
diplomatik kami.
Namun
tindakan
aktivis
sangat berbahaya
dan
turut campur
dalam
aktivitas yang dilakukan
di
lautan umum,"
imbuh
Machimura. "Pemerintah
Jepang
mengutuk keras
tindakan
seperti
ini," tegasnya.
Menlu
Australia Stephen Smith menyebutkan
Jepang
setuju untuk
membebaskan
tawanan
setelah dihubungi
oleh
pejabat negeri
kanguru.
"Hal yang paling
penting
di sini
adalah
keselamatan dan
kesejahteraan.
Keselamatan
dua
pria menjadi
perhatian
kami
dan pemerintah
Australia
ingin
mereka segera
dibebaskan,"
jelasnya
pada radio
nasional.
Saat
perselisihan
berlanjut, Smith
mengatakan
ia
sudah
menghubungi Watson melalui
Polisi Federal Australia,
dan
meminta kerja
sama
dan kemauan
kapal
Yushin Maru No. 2
untuk
mengembalikan dua
aktivis
Potss dan Lane.
Baik
kapten
atau siapa pun
harus
bisa memberi
keyakinan
bisa
membawa kembalinya
dua
aktivis dengan
selamat.
Pemerintah
Australia juga
telah
membuat representasi
lebih
jauh di Tokyo.
Jepang
memberi
janji jika
kedua
pria dibebaskan
dan
dikembalikan menuju
kapal
masing-masing.
Di
Perth, Australia, Smith sebelumnya
mengatakan
polisi Australia
akan
mengevaluasi
insiden
ini, apakah
proses
akan dibawa
menuju
ke pengadilan.
Australia
adalah
salah satu
pengritik paling
tajam program
pemburuan
ini.
(ton/afp)