kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 17 Januari 2008

 Mancanegara


Masalah
Pemburuan Paus----
Tokyo dan Canberra Memanas
 

Sydney -
Sengketa
sengit antara pemburu ikan paus Jepang dengan militan aktivis antipemburuan paus di perairan dingin Antartika, kini malah merembet menuju ketegangan diplomatik. Baik pemerintah Jepang maupun Australia sama-sama bersikukuh dengan pendapat masing-masing, hingga konflik paus bisa saja merenggangkan hubungan keduanya, Rabu (16/1) kemarin. 

Puncak memanasnya perselisihan ini terjadi setelah dua aktivis Sea Shepherd Conservation Society menjadi tawanan kapal Jepang. Penahanan ini dilakukan menyusul aksi mereka yang nekat Selasa lalu menaiki salah satu kapal untuk menuntut diakhirinya pembantaian tahunan mamalia raksasa penghuni lautan. 

Presiden Sea Sepherd Paul Watson mengatakan penguasa di Jepang menolak untuk membebaskan tahanan hingga ada persetujuan agar aktivis tidak lagi mengganggu proses pemburuan. Watson juga mengatakan tidak akan tunduk kepada taktik "teroris".  "Saat anda mulai melayangkan tuntutan agar sandera bisa dibebaskan, hal ini terdengar beraroma laiknya para teroris bagi saya," ujar Watson dari atas Steve Irwin, sebuah kapal milik Sea Sepherd yang mengejar armada kapal Jepang.

Jepang mengatakan mereka ingin membebaskan dua pria, Benjamin Potts (Australia) dan Giles Lane (Inggris), namun menunggu respons Sea Sheperd atas tuntutan mereka"Kami sudah mengirimkan pesan untuk memulangkan dua aktivis menuju Sea Sepherd. Namun hingga kini (kemarin - red) kelompok tersebut belum juga memberikan respons," tutur juru bicara pemerintah Nobutaka Machimura di Tokyo.

Ia menambahkan, insiden ini tidak akan mempengaruhi hubungan dengan Australia. "Saya tidak percaya hal ini bisa berdampak terhadap relasi diplomatik kami. Namun tindakan aktivis sangat berbahaya dan turut campur dalam aktivitas yang dilakukan di lautan umum," imbuh Machimura. "Pemerintah Jepang mengutuk keras tindakan seperti ini," tegasnya.

Menlu Australia Stephen Smith menyebutkan Jepang setuju untuk membebaskan tawanan setelah dihubungi oleh pejabat negeri kanguru. "Hal yang paling penting di sini adalah keselamatan dan kesejahteraan. Keselamatan dua pria menjadi perhatian kami dan pemerintah Australia ingin mereka segera dibebaskan," jelasnya pada radio nasional.

Saat perselisihan berlanjut, Smith mengatakan ia sudah menghubungi Watson melalui Polisi Federal Australia, dan meminta kerja sama dan kemauan kapal Yushin Maru No. 2 untuk mengembalikan dua aktivis Potss dan Lane. Baik kapten atau siapa pun harus bisa memberi keyakinan bisa membawa kembalinya dua aktivis dengan selamat.

Pemerintah Australia juga telah membuat representasi lebih jauh di Tokyo. Jepang memberi janji jika kedua pria dibebaskan dan dikembalikan menuju kapal masing-masing. Di Perth, Australia, Smith sebelumnya mengatakan polisi Australia akan mengevaluasi insiden ini, apakah proses akan dibawa menuju ke pengadilan. Australia adalah salah satu pengritik paling tajam program pemburuan ini. (ton/afp)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)