Makna Kahyangan Tiga di Desa Pakraman
Brahma srsti lokam, wisnawe palaka stitam,
Rudre twe sangharas caiwam, Tri Murtti nama ewaca.
Lwir Bhatara Siwa magawe jagat, Brahma rupa siran
panresti jagat. Wisnu rupa siran pangraksa jagat, Rudra
rupa sira mralayaken rat. Nahan tawak nira tiga bheda
nama.
(Buana Kosa, III. 76)
Maksudnya:
Ketika Batara Siwa mengadakan dunia, berwujud Batara
Brahma saat menciptakan dunia, berwujud Batara Wisnu
saat memelihara dan melindungi dunia, berwujud Batara
Rudra saat melebur dunia. Demikianlah tiga wujud Beliau
dengan nama yang berbeda.
YANG
mengajarkan pendirian Kahyangan Tiga di setiap desa
pakraman adalah Mpu Kuturan kira-kira pada abad ke-11.
Pada abad tersebut yang menjadi raja di Bali adalah Raja
Udayana yang didampingi oleh permaisurinya dari Jawa
bernama Mahendradatta dengan gelar Gunapriya Dharma
Patni.
Gagasan Mpu Kuturan mendirikan Kahyangan Tiga di setiap
desa pakraman itu diperkirakan muncul saat ada pesamuan
besar di Pura Samuan Tiga sekarang yang terletak di Desa
Bedulu Kabupaten Gianyar. Ada berbagai pendapat tentang
pesamuan agung tersebut. Ada yang menyatakan bahwa
pesamuan di Samuan Tiga itu untuk menyatukan sekte-sekte
Hindu yang pecah belah pada saat itu. Tetapi banyak guru
besar arkeologi yang menyatakan tidak menjumpai
bukti-bukti yang mengandung nilai sejarah yang
menyatakan bahwa zaman tersebut sekte-sekte Hindu yang
ada pecah belah.
Raja Udayana dan permaisurinya saja saat itu beda sekte
keagamaannya. Raja Udayana menganut Buddha Mahayana,
sedangkan permaisurinya menganut sekte Siwa Pasupata.
Pesamuan tersebut nampaknya untuk menetapkan
kebijaksanaan dalam meningkatkan daya spiritual
masyarakat Bali untuk membangun kehidupan yang sejahtera
lahir batin. Karena pendirian Kahyang Tiga di setiap
desa pakraman itu untuk memuja Tuhan dalam
manifestasinya sebagai Tri Murti sebagaimana dinyatakan
dalam Pustaka Bhuana Kosa III. 76.
Tuhanlah yang menciptakan (utpati), melindungi (sthiti)
dan mempralayakan (pralaya atau pralina) semua
ciptaan-Nya. Kemahakuasaan Tuhan untuk melakukan Utpati,
Sthiti dan Pralina ini disebut Tri Kona. Dengan pemujaan
Tuhan Siwa sebagai Tri Murti mengandung dua konsep
pembinaan kehidupan spiritual, yaitu konsep Tri Kona dan
Tri Guna.
Dalam Bhagawata Purana dinyatakan ada tiga kelompok Maha
Purana. Ada Satvika Purana dengan Ista Dewatanya Dewa
Wisnu. Ada Rajasika Purana dengan Dewa Brahma sebagai
Ista Dewatanya dan ada Tamasika Purana dengan Dewa Siwa
sebagai Ista Dewatanya. Dengan demikian Tri Murti
menurut Bhagawata Purana adalah Brahma, Wisnu dan Siwa
sebagai Guna Awatara. Artinya Tuhan-lah yang menjadi
sumber pengendali tertinggi tiga dasar sifat manusia
yang disebut Tri Guna itu.
Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti di setiap desa pakraman
di Bali sebagai media sakral untuk menerapkan konsep
untuk menguatkan kehidupan spiritual. Penguatan
kehidupan spiritual melalui penguatan sistem pemujaan
pada Tuhan, agar umat hidupnya terarah dalam mengarungi
dinamika kehidupan di dunia ini. Untuk mewujudkan empat
tujuan hidup mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksha
minimal ada dua konsep hidup yang harus dijadikan
pegangan untuk mengarahkan dinamika hidup di tingkat
desa pakraman.
Dua konsep itu adalah Tri Kona dan Tri Guna. Dua konsep
spiritual tersebut akan membina kehidupan di desa
pakraman untuk menuntun umat mewujudkan empat tujuan
hidup tersebut sesuai dengan tahapan hidup yang disebut
Catur Asrama. Tri Kona sebagai kemahakuasaan Tuhan
dijadikan sumber tuntunan tertinggi dalam
melakukan tiga dinamika hidup tersebut. Artinya manusia
hendaknya menjadikan konsep Tri Kona itu sebagai guide
line dalam berperilaku mencipta (utpati), memelihara (sthiti)
dan meniadakan (pralina) untuk menegakkan kehidupan yang
benar, suci dan harmonis (Satyam, Siwam dan Sundharam).
Ciri hidup yang baik dan benar itu adalah melakukan
kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang sepatutnya
diciptakan. Hal inilah yang disebut Utpati atau Sthiti.
Selanjutnya kreatif untuk memelihara sesuatu yang
sepatutnya dipelihara atau Utpati. Dalam kehidupan ini
ada hal-hal yang memang seyogianya ditiadakan agar
dinamika hidup ini dengan laju menuju kehidupan yang
Jana Hita dan Jagat Hita.
Jana Hita artinya kebahagiaan secara individu dan Jagat
Hita adalah kebahagiaan secara bersama-sama. Inilah yang
seyogianya yang dikembangkan oleh umat di desa pakraman.
Melaksanakan ajaran Tri Kona tersebut tidaklah semudah
teorinya. Karena itu dalam melakukan upaya penciptaan
agar upaya tersebut benar-benar berguna dalam kehidupan
ini membutuhkan tuntunan spiritual dengan memuja Batara
Brahmana di Pura Desa sebagai unsur Kahyangan Tiga di
desa pakraman.
Demikian juga untuk memelihara dan melindungi sesuatu
yang baik dan benar yang sepatutnya dilindungi tidaklah
mudah. Melakukan upaya Sthiti ini juga dibutuhkan daya
spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Batara Wisnu.
Dalam hidup juga banyak adanya sesuatu yang menghalangi
proses hidup menuju dharma. Untuk meniadakan sesuatu
yang sepatutnya ditiadakan juga membutuhkan daya
spiritual yang kuat. Untuk menguatkan daya spiritual
untuk melakukan Pralina itulah Tuhan dipuja sebagai
Rudra atau Batara Siwa.
Dinamika hidup dengan landansan Tri Kona inilah yang
dapat menciptakan suasana hidup yang dinamis, harmonis
dan produktif dalam arti spiritual dan material secara
berkesinambungan. Dari konsep Tri Kona ini sesungguhnya
dapat dikembangkan menjadi berbagai kebijakan di desa
pakraman. Betapapun maju suatu zaman yakinlah dapat
dikendalikan dengan konsep Tri Kona.
Dengan konsep Tri Kona ini desa pakraman tidak akan
pernah kehidupan jati dirinya sebagai lembaga umat Hindu
khas Bali. Kemajuan zaman justru akan menguatkan jati
diri kehidupan di desa pakraman. Karena itulah janganlah
sembarangan mempertahankan adat-istiadat. Adat-istiadat
itu buatan manusia sebagai sarana menjalankan ajaran
agama. Ibarat kendaraan yang memiliki batas waktu. Ada
saatnya sarana itu sedang baik karena baru, ada masa
tuanya dan ada masanya berakhir.
Ciptakan adat-istiadat yang dibutuhkan zaman, ada
adat-istiadat yang masih baik dan benar agar terus
dipelihara dan dipertahankan. Sedangkan adat-istiadat
yang sudah usang ketinggalan zaman hendaknya
ditinggalkan secara suka rela. Kalau adat-istiadat yang
sudah usang karena bertentangan dengan kebenaran dan
kemanusiaan agar ditinggalkan dengan cara-cara yang baik
dan benar juga.
Pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga di desa pakraman
juga untuk membina tiga dasar sifat manusia yang disebut
Tri Guna. Kalau komposisi Tri Guna tidak ideal maka dari
Tri Guna itulah akan muncul sifat-sifat yang tidak
sesuai dengan dharma.
Dalam Wrehaspati Tattwa 21 dinyatakan bahwa kalau Guna
Satwan dan Guna Rajah itu seimbang kekuatannya menguasai
pikiran manusia maka Guna Satwam akan mendorong manusia
berniat baik dan benar, sedangkan Guna Rajah mendorong
manusia untuk melakukan niat baik itu dalam wujud
perbuatan baik.
Kekuatan Guna Satwam dan Guna Rajah yang seimbang itu
akan mengantarkan Atman masuk sorga. Kalau ketiga guna
itu seimbang menguasai pikiran amaka Atman akan semakin
jauh dengan sorga. Demikian dijelaskan dalam Wreshaspati
Tattwa 22. Pemujaan Tri Murti di Kahyangan Tiga itu
sebagai media dalam mengamalkan ajaran agama Hindu
secara benar dan tepat. Ritual yang dilakukan untuk
menanamkan nilai-nilai spiritual agar ajaran agama Hindu
tersebut teraplikasi secara baik, benar dan tepat.
* I Ketut Gobyah